Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem tumpang sari atau multiple cropping adalah suatu metode bercocok tanam dengan menanam dua tanaman atau lebih dalam satu lahan dalam waktu yang hampir bersamaan. Penanaman dengan metode tumpang sari dilakukan hanya pada tanaman yang hanya satu musim panen seperti sayur – sayuran. Tanaman tumpangsari sangat bagus jika dikombinasikan dua tanaman inti dan satu tanaman penolak hama.

Penerepan tumpangsari (multiple cropping) sebaiknya memiliki umur atau periode pertumbuhan yang tidak sama, mempunyai perbedaan kebutuhan terhadap faktor lingkungan seperti air, kelembapan, cahaya dan unsur haratanaman,karena jika memiliki kebutuhan yang sama maka tanaman akan bersaing.

Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem penanaman  tumpang sari (multiple cropping) memiliki berbagai keuntungan yaitu mengurangi resiko gagal panen sistem tumpang sari (multiple cropping)  juga dapatmengurangi erosi tanah dan kehilangan tanah olah,pemanfaatanlahan kosong disela-sela tanaman pokok, peningkatan produksi total persatuanluas,  menyuburkan dan memperbaiki struktur tanah danjuga dapat memperbaiki tata air dalam tanah-tanah pada lahan yang dilakukan bercocok tanam.

Teknik menanam dengan pola tumpang sari sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pertanian di Indonesia, sejak jaman dahulu kakek-nenek kita sudah menerapkan pola ini. Tapi seiring dengan perkembangan jaman pola tanam tumpang sari mulai ditinggalkan, tapi sekarang ini mengingat ketersediaan lahan pertanian yang semakin hari terus menyempit pola tanam campuran ini kembali digemari. Maka tak heran banyak yang menerapkan sistem tanam campuran atau tumpangsari. Yang dimana menganut sistem menanam satu tanaman dengan tanaman yang lainnya dengan jenis yang berbeda. Dan salah satu contoh budidaya campuran atau tumpang sari ini adalah budidaya jagung dan cabai rawit.

Kedua tanaman ini sama-sama penting dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Sehingga bercocok tanam dengan jagung dan cabai rawit bisa sangat menguntungkan. Dan bagi Anda yang ingin mencoba sistem ini maka ikutilah langkah-langkah dan cara budidaya tumpangsari jagung dan cabai rawit seperti berikut ini.

  1. Pada dasarnya cara untuk mempersiapkan lahan pada sistem tumpangsari tidak jauh berbeda dengan budidaya sistem biasa. Yaitu diawali dengan Pembersih an lahan dengan cara mencabut gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembajakan atau pencangkulan yang bertujuan agar tanam pada lahan lebih gembur. Selanjutnya adalah pembuatan bedengan, bedengan dibuat dengan lebar 80m – 90 cm, tinggi bedengan kira-kira saja asalkan tidak tergenang air, panjang bedengan disesuaikan dengan lahan. Bedengan yang dibuat sebaiknya tidak terlalu tinggi agar mudah melakukan pendangiran. Lalu lakukan pengecekan pH tanah, jika pH kurang dari atau dibawah 5,5 maka bisa menambahkan kapur pertanian (dolomit) dengan cara ditaburkan pada lahan sesuai kebutuhan. Biarkan selama beberapa hari agar tersiram air hujan.
  2. Pemberian pupuk dasar memiliki tujuan agar dapat menambah unsur hara dalam tanah. Unsur hara sendiri sangat penting terutama bagi proses pertumbuhan pada tanaman. Sehingga proses pemberian pupuk dasar ini tidak boleh dilewatkan. Pupuk dasar yang digunakan berupa pupuk kandang atau kompos, bisa juga ditambah dengan pupuk TSP, ZA dan KCL dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Pupuk ditaburkan merata diatas bedengan kemudian diaduk hingga tercampur rata dengan tanah. Dosis pupuk kandang dan pupuk kimia disesuaikan dengan kebutuhan. Biarkan selama kurang lebih 7 hari sebelum penanaman.
  3. Untuk proses penanaman sebaiknya menggunakan tanaman jagung terlebih dahulu. Atur jarak antar tanaman 30 cm dan jarak antar baris dalam bedengan 50 cm. Dalam satu lubang hanya digunakan untuk satu benih saja. Sebelum ditanam benih jagung bisa juga dicampur dengan fungisida dan insektisida, dengan tujuan untuk mencegah penyakit jamur dan gangguan hama. Jagung manis bisa dipanen saat sudah memasuki usia 60 – 65 hari setelah tanam tergantung varietas dan lokasi penanaman. Untuk di daerah dataran rendah jagung manis lebih cepat panen daripada di dataran tinggi. Sedangkan jagung kering bisa dipanen ketika sudah berusia 85 – 95 hari setelah tanam.
  4. Sebelum di tanam ada lebih baiknya benih cabai rawit di semai terlebih dahulu selama 10 hari sebelum penanaman jagung. Atau bisa juga bersamaan saat awal penanaman jagung. Benih cabai rawit sebaiknya disemai menggunakan polybag atau try semai agar tidak stres saat pindah tanam. Benih cabai bisa diperoleh dengan membelinya di toko pertanian atau dengan membuat benih sendiri. Bibit cabai rawit bisa dipindah tanam pada umur 30 hari setelah semai.
  5. Saat usia jagung sudah berumur 20 sampai 30 hari setelah masa tanaman ya maka proses pemindahan tanaman cabai rawit bisa dilakukan saat bibit cabai rawit yang disemai berusia 1 bulan. Bibit cabai rawit dapat ditanam diantara tanaman jagung dengan mengikuti barisan tanaman jagung diatas bedengan. Bibit cabai ditanam dengan menggunakan jarak tanam 60 x 60 cm atau 70 x 60 cm. Ketika jagung manis sudah siap dipanen biasanya tanaman cabai sudah berumur 35 – 40 hari setelah tanam. Pada saat itu tanaman cabai rawit sudah mulai berbuah dan jagung pun sudah siap untuk dipanen sehingga kedua tanaman tidak saling mengganggu. Jika jagung dipanen kering usia panen lebih lama, tetapi tanaman cabai tidak akan terganggu sebab daun-daun jagung sudah mulai mengering dan dipangkas untuk mempercepat pengeringan tongkol.
  6. Pemeliharaan dan perawatan tanaman polykultur seperti sistem tumpangsari ini tidak jauh berbeda dengan sistem monokultur (tanaman tunggal) , yaitu meliputi kegiatan penyiangan, pemupukan, pendangiran dan penyiraman.
  • Penyiangan dilakukan segera jika terlihat rumput liar atau gulma mulai tumbuh. Penyiangan hendaknya dilakukan secara manual dan hindari penggunaan herbisida. Herbisida bisa mengganggu pertumbuhan tanaman dan merusak tanah jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang lama.
  • Pemupukan yang diterapkan adalah pemupukan susulan yang bisa diberikan setelah penyiangan dan setelah itu segera dilakukan pendangiran. Dosis dan jenis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
  • Jika tidak turun hujan penyiraman juga harus dilakukan agar tanaman jagung dan cabai rawit bisa tumbuh dengan maksimal.

Adapun beberapa keuntungan budidaya jagung dan cabai rawit dengan sistem tumpangsari antara lain seperti berikut ;

  1. Bisa lebih efisien waktu dan tenaga baik dari proses pengolahan sampai perawatannya hingga 50%. Pengolahan lahan yang dilakukan hanya satu kali bisa langsung digunakan untuk 2 tanaman sekaligus.
  2. Lebih efisien dalam penggunaan pupuk dasar hingga 50 %, yang hanya diberikan satu kali pada saat menanam jagung, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh tanaman kedua yaitu cabai rawit.
  3. Menghemat penggunaan air untuk penyiraman hingga 50%, hanya diperlukan satu kali penyiraman pada 2 tanaman sekaligus.
  4. Memanfaatkan penggunaan lahan secara maksimal untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
  5. Bisa memperoleh hasil produksi yang lebih banyak dari 2 jenis tanaman yang berbeda. Sehingga keuntungan dalam budidaya tanaman bisa lebih banyak dibandingkan hanya mengandalkan sistem tanam tunggal atau monokultur.
  6. Bisa mengenakan atauan meminimalkan serangan hama kutu kebul pada tanaman cabai rawit ataupun tanaman jagung.

 

 

Demikian artikel kami tentang  “SISTEM TUMPANG SARI JAGUNG DAN CABAI YANG TEPAT DENGAN PRODUKTIVITAS MELIMPAH  ” Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *