Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Setiap orang yang menjalankan budidaya menanam jagung, meskipun dengan teknik yang berbeda – beda pasti memiliki tujuan yang sama, yaitu mampu memperoleh hasil maksimal dengan biaya produksi yang rendah. Sehingga keuntungan yang didapat setelah panen bisa menguntungkan. Adapun jenis Biaya produksi menanam jagung meliputi proses untuk pembukaan lahan, pengolahan tanah, penyediaan bibit, pembelian pupuk, tenaga kerja, dan biaya pengendalian gulma atau yang umum dikenal dengan istilah matun (ngoret).

Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Budidaya tanaman jagung sangat menguntungkan dan bisa dibilang sangat pudah untuk dijalankan. Tehnik budidaya menanam jagung pun dapat dilakukan dengan berbagai sistem yand ada, seperti budidaya jagung olah tanah sempurna (OTM), sistem olah tanah minimum (OTM), sistem tanpa olah tanah (TOT) maupun sistem tumpangsari.

Salah satu kegiatan dalam budidaya tanaman jagung yang tidak boleh diabaikan yaitu proses Pembersihan hama. Dan Pembersihan gulma yang banyak di terapkan adalah matun atau ngoret. kegiatan membersihkan gulma (matun) bisa dilakukan 2-3 kali dalam satu musim tanam, tergantung kondisi gulma di lapangan.

Matun atau ngoret atau yang dikenal juga dengan menyiangi rumput pada proses budidaya jagung seringkali masalah atau kendala tersendiri. Apalagi saat memasuki musim hujan, gulma / rumput liar bisa tumbuh dengan cepat. Sehingga proses matun akan banyak menghabiskan tenaga dan biaya yang besar. Padahal dalam menjalankan semua jenis usaha termasuk budidaya ini kita harus sangat memperhitungkan efektivitas dan efisiensi waktu, tenaga dan biaya.

Gulma sudah pasti menjadi masalah yang serius dan sangat mengganggu proses pertumbuhan pada tanaman budidaya. Karena gulma atau rumput liar ini bisa menjadi pesaing tanaman budidaya untuk mendapatkan kebutuhan akan unsur hara, air, cahaya dan ruang untuk tumbuh.

 

Jenis-jenis Gulma pada Tanaman Jagung

Sampai saat ini keberadaan gulma diantara tanaman jagung atau tanaman budidaya lainnya menjadi masalah yang sangat merugikan, karena adanya gulma di sekitar tanaman budidaya dapat menyebabkan tanaman tumbuh tidak optimal dengan produktifitas yang rendah.

Jenis gulma yang bisa hidup diantara tanaman jagung sangat banyak jenisnya. Dan jenis gulma yang biasa tumbuh diantara jagung berdasarkan dari Morfologi ya adalah sebagai berikut ini ;

  1. Gulma berdaun lebar (broad leaves) merupakan salah satu gulma yang bisa mengganggu pertumbuhan jagung. Contoh tanaman gulma berdaun lebar ini adalah kentangan, krokot, bayam-bayaman, wedusan/babadotan, dll.
  2. Gulma golongan rumput (grasses) adalaha gulma yang paling mudah tumbuh terutama saat memasuki musim hujan. Contoh gulma jenis ini adalah rumput mprit-mpritan, lulangan, rumput grinting, dll.
  3. Gulma berdaun sempit juga sering menjadi faktor pengganggu tanaman jagung untuk tumbuhan. Gulma ini juga sering disebut seedges, dan beberapa conpoh contohnyal teki, rumput bulu babi, dll.

 

Teknik Pengendalian Gulma pada Tanaman Jagung

Cara pengendalian gulma pada tanaman jagung dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, yaitu secara manual, mekanis, teknik budidaya maupun menggunakan herbisida.

 

Teknik pengendalian gulma secara manual seperti matun merupakan pengendalian gulma menggunakan tenaga manusia dengan alat sederhana, seperti sabit/arit, cangkul atau alat lainnya.

Sayangnya tehnik pengendalian gulma secara matun akan banyak menghabiskan tenaga dan biaya yang besar. Padahal dalam menjalankan semua jenis usaha termasuk budidaya ini kita harus sangat memperhitungkan efektivitas dan efisiensi waktu, tenaga dan biaya.

Sebaliknya tehnik pengendalian gulma menggunakan herbisida hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja dan waktu pelaksanaannya relatif lebih singkat. Sehingga cara ini dapat menekan biaya produksi dan mampu meningkatkan keuntungan petani.

 

Mengenal Jenis-jenis Herbisida

Tingginya minat dalam bidang budidaya tanaman membuat para pelaku pertanian terus mengadakan perkembangan untuk menciptakan inovasi dalam mendukung keberhasilan usaha pertanian tersebut. Salah satu contoh inovasi tersebut diwujudkan dalam munculnya banyak sekali jenis herbisida yang beredar di pasaran, baik itu merk, bahan aktif, cara kerja maupun karakterisitik saat pengaplikasiannya. Berdasarkan karakterisitik pengaplikasiannya, ada 3 macam jenis Herbisida yang beredar saat ini yaitu sebagai berikut :

a). Herbisida pratumbuh (pre-emergence herbicides), yaitu herbisida yang diaplikasikan sebelum gulma tumbuh

b). Herbisida pasca tumbuh (post-emergence herbicides), yaitu herbisida yang diaplikasikan setelah gulma tumbuh

c). Herbisida pascatumbuh awal (early post-emergence herbicides), yaitu herbisida yang diaplikasikan pada awal pertumbuhan biji-biji gulma.

 

Selain itu, Herbisida juga ada yang dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan ke efektivitasannya setelah digunakan. Diantaranya adalah herbisida selektif dan non-selektif.

  • Herbisida non selektif adalah jenis herbisida yang dapat membunuh seluruh jenis tumbuhan/gulma dan dapat meracuni tanaman utama. Herbisida ini dinilai kurang tepat karena bisa membuat tanaman itu juga ikut teracuni. Contoh herbisida non-selektif yaitu glifosat, paraquat dan sulfosat.
  • Sedangkan jenis lainnya adalah herbisida selektif adalah herbisida yang mampu bekerja secara selektif atau dapat mengendalikan gulma tanpa membunuh tanaman utama. Sebagai contoh herbisida selektif yaitu herbisida yang berbahan aktif adalah ametrin atau atrazin.

 

Dan jika dilihat berdasarkan cara kerjanya Herbisida akan dibagi menjadi herbisida kontak dan herbisida sistemik.

  • Herbisida kontak adalah jenis herbisida yang membunuh jaringan gulma yang terkena langsung oleh cairan herbisida tersebut. Contoh herbisida kontak yaitu paraquat diklorida
  • Herbisida sistemik adalah herbisida yang dapat masuk ke jaringan tumbuhan dan ditranslokasikan keseluruh bagian tumbuhan. Dan contoh herbisida sistemik yaitu glifosat.

 

Cara Budidaya Tanaman Jagung tanpa Matun

Dari sekian banyak jenis herbisida diatas, Jenis herbisida kontak, sistemik dan herbisida non selektif pada dasarnya dapat digunakan untuk mengendalikan gulma pada tanaman jagung.

Tetapi Anda harus  mampu mengaplikasikannya dengan lebih hati-hati agar larutan herbisida tidak mengenai tanaman jagung sebagai tanaman utama budidaya. Adapun tehnik seperti teknik direct spray yang menggunakan corong atau sungkup. Cara tersebut masih kurang efektif karena waktu aplikasinya yang relatif lama.

 

Herbisida selektif khusus untuk gulma pada tanaman jagung tersebut ada yang memiliki bahan aktif tunggal yaitu ametrin dan herbisida berbahan aktif ganda yaitu campuran atrazin dan mesotrion, contohnya herbisida Kayabas 555 SC dan Calaris 550 SC.

Penerapan atau cara mengaplikasikan herbisida selektif pada tanaman jagung bisa dengan disemprotkan pada saat tanaman jagung sudah berumur 7 sampai 14 hari setelah masa tanam atau saat tanaman jagung sudah mempunyai 3-4 helai daun dengan takaran dosis 1,5 liter per hektar dan volume semprot 400 – 600 liter per hektar.

 

Untuk lebih jelasnya ikuti langkah berikut ini dalam mengaplikasikan Herbisida Selektif pada Tanaman Jagung agar Gulma Tidak Cepat Tumbuh :

  1. Lakukan penyemprotan herbisida sistemik 10 atau 7 hari sebelum penanaman,
  2. Penyemprotan sebaiknya dilakukan sebelum gulma berbunga,
  3. Atau lakukan penyemprotan dengan menggunakan herbisida kontak, pada saat 1 hari sebelum tanam lahan dimulai
  4. Aplikasi herbisida selektif dapat dilakukan 7 atau 4 hari setelah tanam atau ketika tanaman jagung memiliki 3-4 helai daun. Maksimum gulma setinggi 10 cm atau memiliki 4 helai daun.

 

Demikian artikel kami tentang “PENGGUNAAN PESTISIDA PADA TANAMAN JAGUNG UNTUK MENGENDALIKAN GULMA ATAU RUMPUT LIAR “. Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *