Pengendalian Hama PENGGEREK BUNGA Pinang – Batrachedra sp

Pengendalian Hama PENGGEREK BUNGA Pinang – Batrachedra sp

Pengendalian Hama PENGGEREK BUNGA Pinang – Batrachedra sp

Di Indonesia ada banyak sekali tanaman pinang yang tumbuh dengan baik dan subur di beberapa wilayah. Tanaman pinang sendiri sudah menjadi komoditi ekspor, maka tak heran jika tanaman yang satu ini sekarang sudah banyak ditanam atau dibudidayakan oleh masyarakat kita.

Namun dalam budidaya tanaman pinang tidak akan selalu berjalan dengan lancar. Akan selalu ada kendala yang dialami pada saat melakukan budidaya tanaman pinang sehingga akan berakibat pada menurunnnya produksi tanaman pinang.

Pengendalian Hama PENGGEREK BUNGA Pinang – Batrachedra sp

Salah satu hal yang menjadi penyebab menurunnya produksi tanaman pinang adalah karena adanya serangan hama bunga yakni Batrachedra sp.. Serangan hama yang satu ini pada tanaman pinang akan mengakibatkan seludang atau spatha yang masih belum terbuka jadi berlubang.

Larva akan menggerek bunga betina dan jantan, sehingga dalam waktu yang relatif singkat saja bunga jantan akan berubah menjadi kehitaman dan bunga betinya akan mengeluarkan getah sehingg pada akhirnya bunga-bunga menjadi rontok.

Pada tanaman pinang, serangan yang cukup parah bisa membuat tandan buah menjadi kering, bunga jantan dan betina akan menjadi kering sebelum masa reseptif selesai. Inang Batrachedra sp. yaitu aren, kelapa, dan juga inang.

Kerusakan yang disebabkan oleh serangan Batrachedra ini bisa mencapai 40 sampai dengan 70%. Serangan batrachedra sp. sangat dipengaruhi oleh morfologi, sifat tisik, dan juga keberadaan musuh alami yang ada pada tanaman inangnya.

Batrachedra sp. merupakan salah satu hama yang selama ini diketahui biasa menyerang tanaman palma, termasuk juga tanaman pinang dengan potensi kerusakan atau kerugian mencapai 50%.

Larva dari hama ini adalah stadium yang aktif merusak. Larva akan merusak bunga betina dan jantan yang ada di bagian dalam mayang. Bunga yang sudah diserang sudah pasti akan menjadi rusak sehingga tidak mampu berkembang.

Kondisi seperti demikian akan mengakibatkan kehilangan hasil dan sangat memberikan pengaruh secara signifikan terhadap penurunan produksi tanaman.

Untuk masalah penurunan produksi tanaman, selain disebabkan oleh serangan dari hama Bactrachedra sp., juga bisa diakibatkan oleh beberapa faktor yang lainnya seperti penggunaan teknik budidaya tanaman yang masih kurang optimal.

Berdasarkan dari kerusakan yang biasa ditimbulkan pada tanaman inang, adanya hama Batrachedra sp. ini juga harus diantisipasi. Antisipasi bisa Anda lakukan dengan melalui tindakan monitoring secara berkala.

Melalui tindakan monitoring ini maka gejala serangan awal bisa langsung diketahui dan keputusan untuk segera melakukan tindakan pengendalian bisa segera dilakukan. Maka dari itu, pengetahuan ekobiologi cukup penting karena nantinya bisa sangat membantu untuk mengetahui gejala serangan awal dari hama Batrachedra sp.

  1. Morfologi dan Bioekologi Batrachedra sp.

Hama penggerek bunga pinang, yaitu Batrachedra sp. (Lepidoptera Gelechiidae) akan mengalami metamorfosis yang dimana dimulai dari telur, larva, pupa, hingga imago atau serangga dewasa. Imago biasanya terdapat di sekitar tanaman inang atau lebih tepatnya diantara pelepah, bunga, dan tandan.

Serangga tersebut merupakan tipe nokturnal yakni aktif di sore dan malam hari. Serangga imago akan menempatkan telurnya di antara bunga jantan dengan betina. Ukuran lebar telur serangga ini adalah 0,1 mm.

Telur pun menetas dan akan keluar larva yang memiliki warna putih dengan bagian kepalanya berwarna cokelat agak kehitaman. Larva bahkan secara langsung akan memakan bunga.

Pada bunga pinang jantan yang sudah terbuka 4 sampai 5 hari, ada banyak sekali larva instar awal. Dalam perkembangbiakannya, larva instar akhir memiliki warna merah muda dengan panjang kurang lebih 4,5 mm. Stadium larva biasanya akan berlangsung sekitar 1 sampai 2 minggu, selanjutnya mulai memasuki stadium pupa yang akan berlangsung 10 hari.

Pupa mengalami perkembangan menjadi imago. Imago mempunyai warna perak keemasan dan agak bersisik, panjang tubuh kurang lebih A mm, lebar abdomen sekitar 1 mm dan juga lebar dada atau thoraks 1 mm.

  1. Gejala Serangan Hama Batrachedra sp. pada Tanaman Pinang

Awal mulai gejala serangan dari larva Batrachedra akan nampak setelah 7 hari, yaitu bagian bunga tanaman yang akan mengalami perubahan warna. Bungan jantan akan menjadi cokelat, lalu seiring dengan berjalannya waktu secara perlahan akan kering yang diakibatkan oleh gerekan larva.

Pada bagian bunga yang sudah terserang maka akan ada kotoran bekas gerekan yang sudah mengering. Larva tersebut bahkan juga memakan serbuk sari bunga sehingg sudah pasti dapat mempengaruhi proses penyerbukan tanaman pinang. Gejala serangan awal yang ditimbulkan pada tanaman pinang hampir sama seperti gejala serangan B. Nuciferae pada tanaman kelapa.

Pada umumnya, hama Batrachedra sp. ini banyak dijumpai pada wilayah yang memiliki ketinggian kurang lebih 150 sampai dengan 700 mdpl ( meter diatas permukaan laut). Wilayah penyebaran hama ini meliputi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Utara.

  1. Tingkat Serangan Hama Batrachedra sp. pada Tanaman Pinang

Tingkat serangan hama Batrachedra sp. ini di beberapa aksesi tanaman inang yang berada di Kebun Percobaan Kaywatu Manado sangat beragam dalam setiap minggunya. Untuk tingkat serangan tertinggi biasanya akan terjadi pada minggu kedua dan ketiga sesudah masa pecah seludang.

Pada aksesi Molinow-1 dan Mongkonai, tingkat serangan yang cukup tinggi biasanya akan terjadi pada minggu ke 3 yang dimana masing-masing adalah sebesar 17,4% dan 19,4%. Sementara itu, pada aksesi Huntu akan terjadi pada minggu ke 4 yaitu sebesar 26,7%.

Secara kumulatif, tingkat serangan dari hama Batrachedra sp. hingga minggu ke 5 pada setiap aksesi adalah 62,3% pada aksesi Huntu, kemudian diikuti dengan Mongkonai 47,25% dan Malinow 1-57%.

Berdasarkan tingkat serangan dari hama Batrachedra sp. pada aksesi tanaman pinang, menunjukkan adanya preferensi pilihan larva yang menyebar walaupun lebih menyukai aksesi Huntu.

Penolakan atau penerimaan serangga fitofag biasanya dipengaruhi oleh faktor fisik dan juga faktor kimiawi atau metabolit sekunder tanaman. Tetapi masih perlu pengkajian yang lebih lanjut mengenai kedua faktor ini dalam hubungannya antara kesesuaian tanaman pinang dan serangga Batrachedra sp.

Secara fisik, buliran atau spikelet perbungaan ketiga aksesi mempunyai banyak sekali perbedaan. Pada aksesi Malinow 1 dan Huntu, bulirannya lebih rapat, panjang, dan banyak daripada aksesi Mongkonai.

Secara kimiawi, tanaman pinang memiliki kandungan 6 jenis alkaloid yakni arecaedin, arecoline, guvacoline, guvacine, arecolidine dan isoguvacine, serta beberapa senyawa kimia yang lainnya.

Masih belum diketahui senyawa metabolit sekunder yang memiliki peran dalam penolakan atau penerimaan serangga hama pada pinang. Di lapangan, ada beberapa pinang aksesi Huntu yang mengeluarkan aroma wangi yang cukup menyengat sesudah seludang pencah dan pada bagian bunga pinang jantan mekar.

Perlu dikaji lebih lanjut apakah aroma wangi yang menyebabkan ketertarikan atau atraktan hama Batrachedra sp. ini pada aksesi Huntu daripada aksesi tanaman pinang yang lainnya.

  1. Upaya Pencegahan dan Pengendalian Hama Batrachedra Pada Tanaman Pinang

Beberapa cara pengendalian yang bisa Anda lakukan untuk sedikit menekan tingkat serangan atau kerusakan dari hama Batrachedra sp. pada tanaman pinang adalah sebagai berikut ini:

1). Melakukan sanitasi dengan cara membersihkan gulma menganggu yang terdapat pada sekitar pertanaman yang sudah terserang, pemeliharaan tanaman serta perkembangan bunga.

2). Pengendalian hayati yang bisa dilakukan dengan sangat mudah yaitu memanfaatkan musuh alami dari hama Batrachedra sp seperti misalnya predator Ancistrocerus sp. yang biasa memakan stadia larva, Apanteles sp., parasitoid telur Trichogramma sp., Chelonus sp dan Mateorus sp.

Parasitoid bisa diperbanyak di laboratorium dengan menggunakan inang alternatif. Parasitoid selanjutnya dilepaskan secara langsung ke lapangan pada waktu siang hari sebanyak 5 pasang per ha setiap  tiga bulan sekali.

3). Melakukan pemupukan secara berimbang untuk dapat meningkatan ketersediaan unsur hada dan kesehatan tanaman pinang sehingga nantinya bisa sedikit mengurangi serangan dari hama Batrachedra sp.

Untuk dosis yang diberikan harus sesuai dengan anjuran. Dosis pupuk untuk tanaman pinang yang sudah berumur 4 tahun lebih adalah 100 g N; 40 g P205; 140 g K20 serta 12 kg pupuk kandang atau pupuk kompos/pohon/tahun.

4). Pengendalian secara kimiawi, cara ini baru boleh diaplikasikan jika memang cara diatas tidak mampu untuk mengatasi hama berbahaya ini. Dosis yang digunakan juga harus sesuai dengan anjuran supaya tidak memberikan dampak yang negatif terhadap lingkungan biotik dan abiotik.

Hama Batrachedra sp. yang menyerang tanaman inang sebenarnya masih belum banyak dilaporkan sebagaimana serangan yang terjadi pada tanaman kelapa. Akan tetapi, berdasrkan kasus serangan yang banyak ditemukan pada tanaman inang yang berada di Kebun Percobaan Kayuwatu, keberadaan hama ini harus selalu diwaspadai karena tingkat serangannya bahkan bisa lebih dari 50%.

Livaluasi yang lebih lanjut mengenai kerusakan dan dampak buruknya pada produksi tanaman inang, akan dijadikan sebagai dasar penilaian ketahanan aksesi tanaman pinang terhadap serangan hama. Hal ini sudah pasti sangat penting sekali terutama ketika tanaman pinang dari aksesi tertentu yang telah dikembangkan di masyarakat.

Aksesi Huntu, Mongkonai dan Malinow 1 adalah aksesi yang hanya sementara untuk kemudian dilepas sebagai VUB atau Varietas Unggul Baru tanaman pinang.

Dengan memperhatikan secara jelas ekiobiologi hama Batrachedra sp., maka antisipasi terhadap keberadaan hama atau penekan kerusakan akibat hama ini bisa segera dilakukan. Melakukan monitoring merupakan salah satu kegiatan sangat penting yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

Hal tersebut karena melalui kegiatan monitoring ini maka perkembangan bunga pada tanaman inang serta munculnya gejala serangan hama dari Batrachedr sp, bisa lebih dipantau sejak dini. Namun kegiatan monitoring ini harus dilakukan secara rutin bahkan setiap hari.

Dengan demikian maa kehilangan hasil akibat serangan hama bisa ditekan dan buah yang jadi akan semakin mengalami peningkatan sehingga produksi akan menjadi lebih terjaga dan untuk kualitas buah pinang pun juga selalu terjaga.

Demikian sedikit informasi yang dapat admin sampaikan pada pembahasan kali ini mengenai Upaya Pengendalian Hama Penggerek Bunga Tanaman Pinang. Semoga apa yang sudah admin sampaikan bisa memberikan manfaat bagi Anda semua atau setidaknya dapat menambah sedikit wawasan Anda. Semoga bermanfaat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *