Menentukan Jenis Pupuk Untuk Padi Dengan Cara Penggunaan Yang Tepat Dan Benar

Menentukan Jenis Pupuk Untuk Padi Dengan Cara Penggunaan Yang Tepat Dan Benar

Menentukan Jenis Pupuk Untuk Padi Dengan Cara Penggunaan Yang Tepat Dan Benar

Proses pemberian pupuk pada tanaman sering dilakukan para pelaku pertanian untuk membantu proses pertumbuhan tanaman. Pupuk sendiri adalah zat atau bahan yang diberikan pada tanaman dengan tujuan melengkapi unsur hara dalam tanah. Sebenarnya didalam tanah sendiri sudah terdapat unsur hara,namun dibeberapa tempat jumlah unsur hara tidak mencukupi, sehingga perlu bantuan dengan pemupukan untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

Menentukan Jenis Pupuk Untuk Padi Dengan Cara Penggunaan Yang Tepat Dan Benar

Untuk lahan yang tidak terlalu subur tanaman padi juga memerlukan tambahan pupuk anorganik pada dosis dan jenis pupuk yang tepat. Jenis pupuk anorganik yang biasanya digunakan pada tanaman padi antara lain pupuk nitrogen, pupuk phosphat, pupuk kalium dan pupuk yang mengandung unsur hara mikro. Sedangkan jenis pupuk organik untuk tanaman padi seperti pupuk kandang, kompos atau pupuk hijauan. Sedangkan untuk dosis atau takarannya tanaman padi memerlukan pupuk sebagai berikut ;

  1. Hara N sebanyak 17,5 kg (setara dengan 39 kg Urea)
  2. Hara P sebanyak 3 kg (setara dengan 3 kg SP-36)
  3. Hara K sebanyak 17 kg (setara dengan 34 kg KCl)

Dalam pupuk anorganik memiliki unsur hara baik mikro ataupun mikro yang dibutuhkan tanaman. Seperti beberapa kandungan berikut ini :

  1. Nitrogen

Kandungan nitrogen adalah salah satu unsur hara makro yang paling dibutuhkan oleh tanaman padi. Karena kandungan nitrogen ini berperan aktif dalam proses pembentukan zat hijau daun, sehingga bisa membantu proses fotosintesis.

  1. Fosfor

Fosfor sendiri merupakan unsur hara yang juga bermanfaat bagi tanaman padi untuk merangsang tumbuhnya akar khususnya saat tanaman padi yang berusia muda. Kandungan fosfor juga berfungsi dalam pembentukan protein tertentu yang dibutuhkan oleh tanaman padi.

  1. Kalium

Pupuk kalium juga sering disebut sebagai KCl biasanya digunakan untuk membantu meningkatkan pembentukan hijau daun pada tanaman. Selain itu kandungan kalium dalam pupuk anorganik juga membantu pembentukan protein dan karbohidrat pada tumbuhan. Kalium merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit.

Berdasarkan beberapa kandungan yang sudah dijelaskan diatas pupuk anorganik bisa memberi manfaat yang baik bagi tanaman padi seperti berikut ini :

  1. Tingkat produktivitas gabah pada tanaman padi akan semakin meningkat, sehingga bisa membuat hasil panen padi lebih maksimal dengan kuantitas yang besar.
  2. Beberapa kandungan unsur hara mikro dan makro bisa membauta tanaman padi memiliki waktu pertumbuhan yang lebih cepat terutama jika dibandingkan dengan tanaman padi yang tidak mendapatkan pupuk anorganik secara tepat.
  3. Seluruh kandungan unsur hara dalam pupuk anorganik dapat terserap dengan baik dan cepat sehingga semua zat yang dibutuhkan tanaman bisa cepat didapatkan.
  4. Pertumbuhan pada tanaman padi bisa maksimal mulai dari pertumbuhan akar padi sampai warna hijau daun pada tanaman padi.
  5. Kualitas tanaman padi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga potensi produk tanaman khususnya hasil panen bisa maksimal

Tetapi untuk memberikan pupuk pada tanaman padi kita bisa sembarang atau asal asalkan. Kita juga harus memperhatikan jenis, dosis, dan takaran dalam pemberian pupuk pada tanaman padi.

Waktu pemberian pupuk harusnya terjadwal dan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Pemberian pupuk dengan jadwal tertentu dapat menghindarkan kelebihan atau kekurangan pupuk. Seperti halnya pupuk jenis nitrogen atau urea diberikan 3 kali agar pemberian pupuk N menjadi lebih efesien terserap oleh tanaman padi. Sedangkan pemberian pupuk KCl dilakukan 2 kali, agar proses pengisian gabah menjadi lebih baik dibanding dengan satu kali pemberian bersamaan dengan pupuk Urea pertama. Dan berikut adalah jadwal pemupukan , dosis, dan jenis pupuk  pada tanaman padi hibrida yang biasa di sarankan :

  1. Pupuk susulan I ; Pemupukan susulan pertama diberikan ketika tanaman padi berumur 7 – 10 HST. Pupuk yang digunakan adalah 75 kg pupuk Urea, 100 kg pupuk SP-36 dan 50 kg pupuk KCl per hektar.
  1. Pupuk susulan II : Pemupukan susulan kedua diberikan ketika tanaman padi berumur 21 HST. Pupuk yang digunakan adalah 150 kg pupuk Urea per hektar.
  1. Pupuk susulan III ; Pemupukan susulan ketiga diberikan ketika tanaman padi berumur 42 HST. Pupuk yang digunakan adalah 75 kg pupuk Urea dan 50 kg pupuk KCl per hektar.

Berdasarkan dari jumlah pemberian pupuk susulan untuk tanaman padi yang diaplikasikan 3 kali pemupukan diatas, berarti dalam 1 hektar tanaman padi untuk satu musim tanam membutuhkan pupuk nitrogen, phosphor dan kalium masing-masing sebagai berikut ;

  • Kebutuhan pupuk Urea (nitrogen) dalam 1 hektar tanaman padi : 300 kg
  • Kebutuhan pupuk SP36 / TSP (phosphor) dalam 1 hektar tanaman padi : 100 kg
  • Kebutuhan pupuk KCL (kalium) dalam 1 hektar tanaman padi : 100 kg
  • Dosis pupuk secara keseluruhan dalam 1 hektar tanaman padi berarti 400 kg

Namun data diatas bukan berarti menjadi standar baku pemberian pupuk untuk tanaman padi. Untuk dosis ya bisa disesuaikan dengan kondisi tanah pada lahan. Semakin tinggi tingkat kesuburan lahan padi, maka kebutuhan pupuknya semakin sedikit. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah tingkat kesuburan tanah maka semakin tinggi dan semakin banyak pula pupuk yang dibutuhkan.

Secara umum dikatakan bahwa pupuk hijau mampu memenuhi kebutuhan hara N sebanyak 80 % kebutuhan N tanaman. Pemberian pupuk hijau dapat dilakukan dengan cara membenamkan daun-daunnya ke dalam tanah pada waktu pengolahan tanah.Kombinasi pemberian pupuk organik dan anorganik untuk padi hibrida sangat dianjurkan. Pupuk organik yang dianjurkan berupa pupuk kandang atau kompos jerami sebanyak 2 ton per hektar setiap musim, sedangkan pupuk anorganik yang diperlukan adalah Urea, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 300 kg, 100 kg dan 100 kg per hektar. Pupuk organik sebaiknya diberikan bukan hanya pada saat kepepet saja, tetapi diberikan untuk mengimbangi penggunaan pupuk kimia atau pupuk anorganik. Penggunaan pupuk kandang, pupuk kompos atau hijauan dapat menekan biaya pembelian pupuk pabrik sehingga biaya produksi lebih sedikit dengan hasil tonase gabah tetap tinggi.

Kesimpulannya tanaman padi sangat membutuhkan pemberian pupuk anorganik secara tepat sesuai dengan jenis, dosis, dan waktu pemberian pupuk yang terjadwal. Sehingga manfaat kandungan pada pupuk bisa berpengaruh baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Dengan tujuan hasil panen yang maksimal baik secara kualitas ataupun kuantitasnya. Untuk itu perlu pengetahuan dalam pemberian pupuk pada tanaman padi ini. Juga penyesuaian kondisi tanah pada lahan jangan sampai padi mengalami kekurangan ay tau kelebihan unsur hara yang justru akan mengancam pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman padi.

Demikian artikel pembahasan kami tentang  “MENENTUKAN JENIS PUPUK UNTUK PADI DENGAN CARA PENGGUNAAN YANG TEPAT DAN BENAR. ” Semoga bermanfaat.

Cara Jitu Pembibitan Pada Tanaman Lada Perdu

Cara Jitu Pembibitan Pada Tanaman Lada Perdu

Cara Jitu Pembibitan Pada Tanaman Lada Perdu

Jika kita mengenal lada panjat adalah jenis tanaman yang memiliki biaya produksi yang mahal maka saat inji telah ada solusinya yaitu lada perdu. Varietas lada perdu tidak sama dengan tanaman lada panjat yang tumbuh secara menjalar dengan bantuan tiang panjat, sedangkan lada perdu sendiri tumbuh menjalar tapi dia akan tetap tumbuh meskipun tanpa bantuan tiang panjat.

Cara Jitu Pembibitan Pada Tanaman Lada Perdu

Kelebihan budidaya lada perdu adalah proses  pemeliharaannya yang mudah, biaya produksi juga relatif murah, cara panen juga mudah, bisa ditumpang sela dengan tanaman tahunan, atau bisa ditumpangsari dengan tanaman semusim. Kelebihan lain lada perdu adalah bisa dibudidayakan pada lahan yang sempit karena lada perdu dapat ditanam menggunakan pot atau polybag. Bagi Anda yang tertarik budidaya lada perdu ini, di awal Anda harus tahu dulu tahapan-tahapan dan cara pembibitan lada perdu yang baik dan benar, seperti berikut ini :

 

  1. Syarat Memilih Bahan Tanaman dan Persayaratan Mutu Benih Lada Perdu

Perkembangan lada perdu bisa dilakukan secara generatif ataupun vegetatif. Tetapi kebanyakan orang lebih memilih cara vegetatif yang dianggap lebih efektif dalam proses perkembangannya. Bibit tanaman lada perdu dapat diperoleh melalui stek batang atau setek cabang buah atau stek cabang produksi. Persyaratan mutu benih lada telah dituangkan dalam SNI 01-7155-2006 yang meliputi spesifikasi persyaratan kebun induk, persyaratan persemaian lada dan persayaratan mutu benih lada. Berikut ini tabel “Persyaratan Mutu Benih Lada” sesuai dengan standard SNI

 

Persyaratan Kebun Induk Lada

Nomor Jenis Spesifikasi Persyaratan
1 Kemurnian varietas (%) ≥ 98
2 Umur pohon induk (bulan) ≥ 7
3 Kesehatan tanaman terpilih 100

 

Persyaratan Persemaian Lada

Nomor Jenis Spesifikasi Persyaratan
1 Kesehatan lingkungan (%) 100
2 Intensitas sinar matahari (%) 50 – 75
3 Suhu udara (derajat celcius) 22 – 30
4 Kelembaban RH(%) > 80
5 Kelembaban tanah (%) 80 – 100

 

Persyaratan Mutu Benih Lada

Nomor Jenis Spesifikasi Persyaratan
1 Benih murni (%) 100
2 Kesehatan benih (%) 100
3 Jumlah ruas (lada panjat) 5 – 7
4 Jumlah daun (lada perdu) 5 – 8
5 Asal benih (ruas ke…dari pucuk) ≥ 4

 

  1. Persiapan Bibit Lada Perdu

Proses pemilihan bibit bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu setek cabang bertapak dan setek cabang buah. Seperti penjelasan berikut ini.

  • Setek cabang bertapak merupakan setek cabang yang menggunakan setek cabang primer dengan 3 – 4 daun dan menyertakan satu buku sulur panjat. Tunas tidur dan daun penumpu yang ada pada buku sulur panjat harus dipotong dan dibuang agar tidak terbentuk lagi sulur panjat. Perbanyakan dengan setek bertapak lebih mudah berhasil karena setek menyertakan satu sulur pada pangkal setek. Karena akar primordia sudah pada sulur panjat sebagai tapak, maka persentase hidup dari setek bertapak selalu tinggi.
  • Setek cabang yaitu setek cabang buah primer dan sekunder. Cabang primer adalah cabang yang keluar dari sulur panjat, sedang cabang buah, pertumbuhan akar dan tunas lebih sulit dan lama sehingga waktu di pembibitan lebih lama. Setek cabang diperbanyak dari setek cabang sekunder yang dibuat dari cabang primer, sekunder dan tertier relatif sulit berakar dibanding setek cabang bertapak. Hal ini disebabkan karena bagian buku dan ruas setek cabang primer, sekunder dan tertier tidak mempunyai primordia akar. Setek cabang buah merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan tanaman.

 

  1. Persiapan Lahan Budidaya Lada Perdu

Tanaman lada perdu cocok dibudidayakan dengan sistem tumpang sela maupun tumpang sari, karena tanaman ini memerlukan naungan 25 – 50%. Lada perdu bisa ditumpang sela dengan tanaman perkebunan, misalnya kelapa, cengkeh, mangga dan sengon. Atau ditumpangsarikan dengan tanaman kacang tanah dan jagung. Budidaya lada perdu dengan teknik polykultur memiliki beberapa keuntungan, antara lain dapat meningkatkan efesiensi penggunaan lahan, memberikan nilai tambah terhadap penghasilan petani serta mengurangi resiko kematian tanaman akibat cekaman lingkungan. Tanaman lada perdu yang ditumpang sela dengan tanaman perkebunan memiliki persentase kematian lebih rendah dariapada budidaya lada secara monokultur. Selain itu sisa – sisa dari tanaman semusim yang sudah dipanen menjadi sumber bahan organik yang dapat membantu ketersediaan hara bagi tanaman lada.

 

Sistem perakaran tanaman lada perdu sangat dangkal dan sedikit, sehingga tanaman ini tidak tahan terhadap sinar matahari penuh. Lada perdu memiliki struktur akar yang dangkal dengan 63,8% perakaran terkonsentrasi pada kedalaman 0-50 cm dari permukaan tanah. Oleh sebab itu jika lada perdu dibudidayakan secara monokultur, sebelum penanaman lada perdu perlu dilakukan penanaman pohon pelindung terlebih dahulu.

Persiapan lahan dimulai pada musim kemarau, sehingga penanamannya dilakukan pada musim hujan, diawali dengan pembersihan lahan, pengajiran dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m atau 1,5 m x 2 m, dan pembuatan lubang tanam dengan ukuran minimal 35 cm x 35 cm x 35 cm. Pada pertanaman polikultur, contohnya pada kelapa, biasanya ditanam ± 2 m dari pangkal batang kelapa atau di luar batas tajuk tanaman pokoknya, karena perakaran kelapa umumnya terkonsentrasi tertinggi sampai sejauh 2 m dari pangkal batang dengan kedalaman 1,5 m (Nair, 1983). Menjelang musim penghujan, lubang tanam ditutup dengan campuran tanah atas dan pupuk kandang sebanyak 5–10kg/lubang tanam, sehingga terbentuk guludan individu setinggi ± 20 cm. Penambahan dolomit 0,5 kg/lubang tanam dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

 

  1. Penanaman Bibit Lada Perdu

 

Penanaman dilakukan pada awal musim penghujan, bibit lada perdu ditanam secara tegak. Saat melepaskan polibag, sebaiknya media tanam diusahakan tidak pecah karena dapat mengganggu perkembangan akar yang dapat berakibat kematian. Selanjutnya tanah di sekitar bibit lada dipadatkan. Untuk mengurangi penguapan, bibit diberi naungan yang terbuat dari daun yang tidak mudah lapuk seperti daun alang-alang atau kelapa sampai tanaman kuat beradaptasi.

  1. Pemeliharaan dan Perawatan Tanaman Lada Perdu

Secara umum pemeliharaan tanaman lada perdu lebih mudah dibanding lada panjat, karena tidak memerlukan pemeliharaan untuk tiang panjatnya, sehingga biaya produksi dapat ditekan. Pemeliharaan tanaman meliputi : a) penyiangan,

b). perompesan bunga,

c). penyiraman,

d). perbaikan guludan,

f). pemberian mulsa,

g). perbaikan saluran pembuangan air.

 

  1. Pemupukan Tanaman Lada Perdu
  • Pemberian pupuk akar

Pemupukan tanaman lada disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pada tahun I pupuk NPKMg (12:12:17:2) 50 g/tanaman/tahun, diberikan 4 kali setahun. Pemberian pupuk dilakukan mulai 3 bulan setelah tanam (BST). Pada tahun II dosis pupuk 100 g/tanaman/tahun dan tahun III dan seterusnya 200 g/tanaman/tahun (Syakir dan Azri, 1994 dalam Syakir, 1996). Pemberian pupuk dilakukan setiap pada awal musim hujan. Pupuk diberikan dengan cara dibuat larikan atau ditugal ± 20 cm dari pangkal batang lada. Pemberian pupuk kandang diberikan setiap tahun pada awal musim kemarau dengan dosis 5-10 kg/tanaman/tahun.

  • Pemberian pupuk daun

Untuk mempercepat pertumbuhan vegetatif (agar tanaman cepat rimbun) dilakukan pemberian pupuk daun dengan cara disemprot 2 kali sebulan atau sesuai dengan kebutuhan.

 

  1. Penanggulangan Hama dan Penyakit Lada Perdu

Untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit, dilakukan penyemprotan pestisida 1 kali sebulan atau sesuai dengan kebutuhan. Pemberian bambu bertujuan untuk menghindari kontak langsung daun lada dengan tanah sebagai salah satu upaya untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

 

  1. Panen dan Paska Panen Lada Perdu

Lada perdu mulai berproduksi pada umur 2 tahun, dan panen selanjutnya dilakukan setiap tahun sampai tanaman berumur lebih dari 10 tahun, tergantung pemeliharaan. Panen pertama dapat menghasilkan ± 200 g lada kering/tanaman. Panen berikutnya akan meningkat sampai ± 300 g lada kering/tanaman. Waktu panen sangat ditentukan oleh jenis lada yang akan dihasilkan dan tidak berbeda dengan lada panjat, yaitu lada hitam dan lada putih. Pemanenan lada perdu cukup mudah karena tidak memerlukan tangga.

 

Demikian artikel kami tentang “CARA JITU PEMBIBITAN PADA TANAMAN LADA PERDU” . Semoga bermanfaat

Rahasia Budidaya Tanaman Timun Suri Agar Berbuah Lebat

Rahasia Budidaya Tanaman Timun Suri Agar Berbuah Lebat

Rahasia Budidaya Tanaman Timun Suri Agar Berbuah Lebat

Meskipun salah satu jenis timun namun secara fisik timun suri sangat berbeda dengan timun sayur. Baik secara fisik dan bentuk buah yang berada dengan mentimun. Justru jika diperhatikan biji buah timun suri lebih mirip dengan blewah, labu, semangka dan melon. Timun suri akan banyak di cari ketika memasuki bulan ramadhan. Jadi bagi anda yang ingin budidaya timun suri, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menanam. Karena kurang lebih 2 bulan kedepan kita akan memasuki bulan ramadhan (puasa) dimana timun suri adalah salah satu buah yang banyak dicari selain kurma. Dan berikut cara budidaya timun suri yang baik dan benar.

Rahasia Budidaya Tanaman Timun Suri Agar Berbuah Lebat

  1. Pengolahan lahan budidaya timun suri

Pengolahan lahan dalam budidaya tanaman timun suri sama halnya dengan budidaya jenis tanaman lainnya. Mulai dari Pembersihan lahan, penggemburan tanah, pembuatan bedengan, dan pemberian pupuk dasar. Untuk lebih jelasnya ikuti langkah – langkah dibawah ini:

  • Bersihkan lahan dari sisa tanaman sebelumnya dan dari gulma atau rumput liar
  • Gemburkan tanah dengan cara mencangkulnya atau membajaknya.
  • Buat bedengan dengan lebar 80 – 100 cm, tinggi dan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan.
  • Sebaiknya bedengan dibuat tidak terlalu tinggi, jika budidaya gambas dilakukan pada lahan datar atau sawah.
  • Dan jika musim hujan, sebaiknya bedengan dibuat agak tinggi agar air hujan tidak tergenang dan merendam akar tanaman.
  • Jarak antar bedengan adalah 2 – 2,5 meter dan buat parit untuk aliran agar air tidak tergenang.
  • Berikan pupuk dolomit atau kapur pertanian jika pH tanah dibawah 5,5. Dolomit ditaburkan dilakukan 7 – 10 hari sebelum pemberian pupuk dasar, dan biarkan tersiram air hujan terlebih dahulu.
  • Siapkan pupuk dasar pada bedengan, yaitu pupuk kompos atau pupuk kandang. Bisa juga ditambahkan pupuk kimia berupa campuran TSP / SP 36, KCL dan ZA / Urea dengan perbandingan 2 : 1 : 1.
  • Pupuk ditabur merata pada bedengan kemudian setelah selesai diaduk hingga tercampur rata dengan tanah. Penaburan pupuk dasar dilakukan 10 atau 15 hari sebelum penanaman.

 

  1. Persiapan benih timun suri

Tanaman timun suri, dapat dikembangkan dengan cara genetatif. Yaitu dengan menggunakan biji dari buah timun suri. Tetapi Anda juga yang bisa mendapatkannya dari benih yang dijual di toko pertanian. Dan bagi Anda yang mendapatkan benih dari Biji buah timun suri langsung maka lakukan hal berikut ini :

  • Pilih buah timun suri yang sehat dan cukup tua. Ciri – cirinya adalah kulit buah pecah, ada aroma harum khas timun suri.
  • Setelah mengambil biji timun suri yang baik, lalu cuci dan bersihkan.
  • Siapkan ember yang terisi air untuk merendam biji timun suri.
  • Ambil biji yang tenggelam tenggelam dan buang biji yang terapung, kemudian tiriskan dan dijemur hingga kering.
  • Biji atau Benih timun suri tersebut bisa ditanam langsung ke lahan atau disemai terlebih dahulu.

Tetapi sebaiknya agar benih dapat tumbuh seragam dan tumbuh seragam secara bersama – sama maka lebih baik lakukan proses semai seperti berikut :

  • Siapkan media semai dan polybag, media semai yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 2 : 1 (2 bagian tanah dan 1 bagian pupuk kandang).
  • Masukkan 1 benih dalam setiap satu polybag, tanam tipis menggunakan tanah
  • Taruh benih yang ditanam pada tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Atau bisa juga dibuatkan naungan terlebih dahulu.
  • Dan setelah bibit sudah tumbuh, pindahkan ke tempat dengan sinar matahari secara penuh agar bibit kuat dan tidak layu saat ditanam.

 

  1. Penanaman bibit timun suri
  • Lakukan proses pemindahan bibit dari media semai ke lahan saat bibit berusia 10 hari setelah di semai.
  • Siapkan lubang tanam sebesar polybag media semai.
  • Kemudian keluarkan bibit beserta media semai dari polybag. Lakukan proses ini secara hati – hati agar bibit dan media semai tidak rusak atau pecah.
  • Atur jarak tanam yang ideal adalah antara 70 – 80 cm.
  • Tanam 2 benih dalam satu lubang, maksudnya untuk mengantisipasi jika ada benih yang tidak tumbuh atau dimakan hama.
  • Benih ditanam sedalam kurang lebih 2 cm, kemudian tutup dengan tanah.
  • Lakukan penyiraman secara merata.

 

  1. Pemeliharaan dan perawatan budidaya timun suri

Proses pemeliharaan tanaman suri cukup mudah. Karena tanaman suri adalah jenis tanaman yang tahan terhadap kekeringan. Tahap perawatannya juga sangat sederhana yaitu meliputi penyiraman, penyulaman, dan penyiangan. Seperti berikut ini :

  • Penyiraman, dapat dilakukan sejak tanaman atau bibit timun suri dipindah tanam agar bibit tidak layu dan cepat beradaptasi. Meskipun Tanaman timun suri termasuk tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan cuaca panas, tetapi bukan pemberian air tetap wajib dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
  • Penyulaman, bisa dilakukan jika ada tanaman yang mati dimakan hama atau tidak tumbuh. Penyulaman bisa dilakukan maksimal sampai tanaman berusia 10 hari setelah tanam.
  • Penyiangan, perlu dilakukan saat ada rumput liar atau gulma yang tumbuh di sekitar tanaman timun suri. Agar Gulma tersebut tidak menjadi tanaman pesaing bagi tanaman timun suri. Tetapi saat tumbuh dewasa tanaman timun suri akan memiliki banyak cabang yang mampu bersaing dengan tanaman gulma yang tumbuh. Sehingga proses penyiangan bisa dilakukan tidak terlalu sering dibandingkan pada masa awal bibit mulai ditanam.

  1. Pengendalian hama dan penyakit tanaman timun suri

Sama dengan jenis tanaman lainnya, tanaman timun suri juga terancam serangan hama yang jenisnya menyerupai hama dan penyakit pada tanaman semangka, melon, timun atau labu. Dan waktu palikng rentan dan patut untuk diwaspadai adalah saat tanaman baru dipindah tanam dari polybag ke lahan sampai usia tanaman timun suri 20 hari setelah tanam. Karena pada usia tersebut daun tanaman timun suri sangat rawan terserang hama yang merugikan seperti ulat dan oteng-oteng atau ggrandong dan penggerek daun. Jadi usaha untuk mengendalikan hama tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan penyemprotan cairan insektisida seperti prevathon, regent, curacron, metindo, atau biocron.

  1. Masa panen budidaya timun suri

Pada saat Buah timun suri sudah masuk usia  antara 60 – 70 hari setelah masa tanam, maka buah timun suri sudah siap untuk dipanen. Buah timun suri yang sudah siap dipanen adalah buah yang sudah cukup tua, ditandai dengan mengeringnya tangka buah atau buah yang sudah terlepas dari tangkainya. Dalam setiap satu musim tanam, buah timun suri bisa dipanen sebanyak 10 hingga 15 kali secara bertahap. Tetapi bisa berbeda-beda tergantung dari kondisi lahan dan varietas tanaman, jika tanaman sehat dan perawatannya cukup masa panen bisa lebih lama.

 

Demikian artikel kami tentang “RAHASIA BUDIDAYA TANAMAN TIMUN SURI AGAR BERBUAH LEBAT” Semoga bermanfaat.

 

 

Cara Budidaya Kapulaga Untuk Hasil Produktivitas Yang Optimal

Cara Budidaya Kapulaga Untuk Hasil Produktivitas Yang Optimal

Cara Budidaya Kapulaga Untuk Hasil Produktivitas Yang Optimal

Kapulaga merupakan tanaman yang masih satu keluarga dengan Zingiberaceae atau jahe jahean tetapi bukan termasuk rimpang. Karena buah kapulaga berbentuk polong dan tumbuh diatas permukaan tanah, yang berbentuk bulat kecil. Kapulaga memiliki harga jual yang tinggi, dan saat ini menempati peringkat ketiga sebagai rempah termahal didunia, sedangkan peringkat kedua dan pertama ditempati oleh saffron dan vanilla. Kapulaga sering dimanfaatkan sebagai bumbu pada jenis masakan tertentu. Kapulaga juga merupakan tanaman obat yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan jamu dan obat herbal.

Cara Budidaya Kapulaga Untuk Hasil Produktivitas Yang Optimal

Banyak yang berpendapat bahwa buah kapulaga adalah tanaman asli Indonesia, Pakistan, Bangladesh, India, Nepal dan Bhutan. Di Indonesia sendiri terdapat dua genera kapulaga, yaitu genera Amomum dan Elettaria. Genera amomum adalah kapulaga lokal/kapulaga jawa (Amomum compactum) dan genera Elettaria dikenal dengan sebutan kapulaga sabarang (Elettaria cardomomum). Saat ini negara penghasil kapulaga terbesar adalah Guatemala, diikuti oelh India dan Srilanka.

 

CARA BUDIDAYA KAPULAGA

Budidaya Kapulaga memang sangat menjanjikan. Terlebih jika mengingat buah kapulaga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Yang menjanjikan keuntungan jika kita menjual hasil buahnya. Untuk itu, bagi Anda yang juga ingin budidaya tanaman kapulaga ini ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dan lakukan seperti dibawah ini.

 

  1. Syarat Tumbuh Tanaman Kapulaga
  • Tanaman kapulaga Jawa (Amomum compactum) maupun kapulaga sabrang (Elettaria cardomomum) akan bisa tumbuh optimal pada ketinggian 300 – 500 mdpl (meter diatas permukaan laut).
  • Namun bisa juga tumbuh dengan baik pada ketinggian minimal 200 mdpl hingga maksimal 1000 mdpl.
  • Jenis lahan yang cocok untuk Tanaman kapulaga adalah jenis tanah yang banyak mengandung humus (bahan organik), dan gembur
  • Lahan harus memiliki sistem drainase yang baik
  • Kandungan pH tanah minimal 5,6 hingga 6,8.
  • Jenis tanah yang baik untuk budidaya kapulaga adalah tanah latosol, podsolik merah kuning dan mediteran dengan tekstur tanah lempung liat atau lempung berpasir.
  • Pada iklim tropis, gersang atau semi gersang dan beriklim sedang.
  • Untuk jumlah Curah hujan optimal yang dikehendaki tanaman kapulaga adalah 2500 hingga 4000 mm per tahun.
  • Intensitas cahaya yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kapulaga adalah 30 hingga 70 persen. Karena tanaman kapulaga termasuk tanaman pelindung jadi tidak memerlukan sinar matahari langsung.

 

  1. Pengolahan Lahan Budidaya Kapulaga

Setelah memenuhi persyaratan tersebut diatas maka bisa langsung mulai persiapan lahan untuk budidaya tanaman kapulaga.

Karena seperti yang disampaikan diatas, bahwa tanaman kapulaga adalah jenis tanaman yang tidak membutuhkan paparan sinar matahari secara penuh, maka dalam persiapan lahan harus disiapkan naungan. Dan akan lebih baik jika budidaya tanaman kapulaga dilakukan dengan sisteng tumpang sela atau tumpang sari dengan menggunakan tanaman perkebunan lainnya seperti kopi atau sengon.

Dalam persiapan lahan sudah pasti akan dilakukan oenggemburan tanah terlebih dahulu. Dengan cara mencangkul atau membajaklahan. Dengan kedalaman antara 30 sampai 40 cm. Jika proses oenggemburan tanah selesai, maka lakukan pengecekan kandungan pH tanah. Jika hasil tes menunjukkan pH tanah dibawah 5,6 maka disarankan untuk dilakukan penaburan kapur pertanian atau lebih dikenal dengan dolomit.

Setelah itu buat lubang tanam dengan jarak 1 x 1,5 meter atau 1 x 2 meter. Dan jangan lupa untuk memberikan  pupuk dasar berupa kotoran ternak/pupuk kandang atau pupuk kompos. Tabur kan secara keseluruhan ke lubang tanam dan campur dengan tanah secara merata. Dosis pupuk dasar tergantung dari kondisi lahan atau tanah, semakin banyak pupuk dasar pertumbuhan kapulaga akan semakin baik.

 

  1. Persiapan Bibit Kapulaga

Perbanyakan tanaman kapulaga bisa dilakukan dengan 3 cara, yaitu perbanyakan dengan biji, anakan dan perbanyakan menggunakan akar atau rhizoma. Berikut ini 3 cara perbanyakan tanaman kapulaga :

  1. Perbanyakan dengan biji, dilakukan dengan memilih buah kapulaga yang sudah cukup tua. Kemudian lakukan pemyemaian biji terlebih dahulu, bibit kapulaga sudah bisa dipindah tanam jika tinggi bibit sudah menvapai 40 – 50 cm.
  2. Perbanyakan tunas/anakan, pilih tunas atau anakan yang sehat dan memiliki pertumbuhan yang baik. Tunas/anakan yang baik untuk dibudidayakan adalah tunas yang tingginya dibawah 50 cm.
  3. Perbanyakan akar/rhizoma, pilihlah akar dari tanaman yang usianya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.

 

  1. Penanaman Bibit Kapulaga

Jika sudah menyiapkan lubang tanam yang sudah ditaburi pupuk dasar maka sudah bisa melakukan penananan bibit kapulaga. Bibit ditanam pada lubang tanam 2 bibit per lubang. Lalu padatkan tanah disekitar bibit agar kokoh dan tidak mudah rebah atau roboh. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, sekitar bulan september atau oktober.

 

  1. Pemeliharaan dan Perawatan Budidaya Kapulaga

Pemeliharaan dan perawatan dalam budidaya kapulaga meliputi penyulaman, penyiangan, penggemburan dan pemupukan susulan. Penyulaman dilakukan segera jika terdapat bibit yang mati atau tumbuh tidak normal. Kemudian lakukan penyiangan jika tumbuh rumput atau gulma di sekitar area tanaman. Penyiangan pada tanaman kapulaga memiliki peran penting pada perkembangan dan pertumbuhan tanaman, gulma atau rumput liar akan menjadi pesaing dalam mendapatkan nutrisi dan mengganggu pertumbuhan tanaman.

Selanjutnya adalah penggemburan tanah disekitar tanaman. Agar tanaman kapulaga memiliki akar dan buah yang banyak, lakukan penggemburan setiap 3 – 4 bulan sekali. Setelah penggemburan lakukan pemberian pupuk susulan menggunakan pupuk organik seperti kotoran ternak atau kompos. Pupuk ditaburkan merata pada sekeliling tanaman. Pemupukan bisa dilakukan setiap 4 – 6 bulan sekali tergantung dengan kondisi kesuburan tanaman kapulaga.

  1. Pemanenan Budidaya Kapulaga

Perlu diketahui bahawa tanaman kapulaga adalah jenis tanaman budidaya yang memiliki umur panjang. Namun jika kondisi dan perawatannya mendukung, umur kapulaga bisa mencapai 10 hingga 15 tahun. Untuk proses panen bisa dilakukan saat Buah kapulaga sudah memasuki usia 3 tahun setelah tanam. Buah yang sudah siap dipanen adalah buah yang sudah matang. Pemanenan dapat dilakukan secara bertahap setiap 1 minggu sekali atau 10 hari sekali, tergantung seberapa banyak jumlah buah yang matang.

 

  1. Keuntungan Sistem Tumpang Sela/Tumpang Sari Kapulaga

 

Meskipun membutuhkan waktu yang lama untuk panen namun budidaya tanaman kapulaga ini masih sangat layak untuk dibudidayakan. Terlebih jika kita menggunakan Teknik budidaya kapulaga dengan sistem tumpang sela maka beberapa keuntungankeuntungan yang akan kita dapatkan, yaitu :

  • Tidak perlu menanam tanaman naungan, sebab tanaman utama berfungsi sebagai tanaman pelindung
  • Dedaunan tanaman utama yang jatuh akan melapuk dan menjadi sumber hara organik bagi tanaman kapulaga dibawahnya
  • Pertumbuhan gulma atau rumput liar terhambat karena permukaan tanah tertutup dedaunan yang jatuh
  • Meringankan perawatan tanaman utama, sebab perawatan sekaligus bisa dilakukan bersamaan dengan perawatan tanaman kapulaga dibawahnya
  • Memperoleh penghasilan lebih, dengan lahan yang sama penghasilan dapat bertambah. Tanpa memperluas lahan penghasilan dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu tanaman dari utama dan dari tanaman kapulaga.

 

Demikian artikel kami tentang “CARA BUDIDAYA KAPULAGA UNTUK HASIL PRODUKTIVITAS YANG OPTIMAL” . Semoga bermanfaat.

Tehnik Penyemprotan Padi Yang Benar Untuk Hasil Panen Yang Memuaskan

Tehnik Penyemprotan Padi Yang Benar Untuk Hasil Panen Yang Memuaskan

Tehnik Penyemprotan Padi Yang Benar Untuk Hasil Panen Yang Memuaskan

Padi merupakan komoditas pertanian terbesar yang dijalankan oleh petani di Indonesia. Selain menjadi bahan pokok pangan menanam padi juga bisa menjadi lahan penghasilan bagi masyarakat agraris seperti masyarakat Indonesia. Rupanya untuk mendapatkan hasil padi yang maksimal dengan produktivitas tinggi diperlukan beberapa cara salah satunya adalah tehnik penyemprotan yang benar, agar pemberian asupan unsur hara mikro dan pengendalikan hama serta penyakit pada tanaman padi bisa berfungsi optimal.

Tehnik Penyemprotan Padi Yang Benar Untuk Hasil Panen Yang Memuaskan

Pemberian unsur hara mikro bisa dilakukan melalui penyemprotan dengan pupuk daun, sedangkan untuk mengendalikan hama dan penyakit maka bisa dilakukan  penyemprotan pestisida.

Penyemprotan untuk tanaman padi harus dilakukan secara tepat dan benar sehingga hasil produksi bisa maksimal. Untuk itu pada artikel kali ini, kami akan membahas beberapa teknik penyemprotan tanaman padi agar kualitas dan kuantitas hasil produksi gabah pada padi bisa maksimal. Adapun beberapa teknik dasar yang harus diketahui dalam proses penyemprotan tanaman padi yang tepat dan benar, antara lain adalah berikut ini:

 

  1. Waktu penyemprotan tanaman padi

Hal utama yang patut diperhatikan adalah kapan waktu yang tepat untuk melakukan penyemprotan pada tanaman padi? Jawabannya adalah saat bagian mulut daun atau stomata sedang terbuka. Karena pada saat itu diharapkan cairan pestisida dapat diserap oleh tanaman sehingga bisa masuk dalam setiap sel dan jaringan pada tanaman padi. Sehingga akan membuat tanaman lebih tahan terhadap berbagai jenis serangan hama dan penyakit. Biasanya jika diukur dalam jam waktu yang tepat untuk melakukan penyemprotan pada tanaman padi adalah disaat pagi hari sampai jam 09.00 atau bisa juga sore hari pada pukul 15.30 hingga jam 17.00.

Untuk itu hindari penyemprotan di atas jam 9 sampai jam 15.30 karena pada jam tersebut kondisi stomata atau mulut daun akan menutup karena sinar matahari yang sudah terlalu terik. Dan biasanya pada waktu tersebut adalah proses tanaman melakukan fotosintesis.

 

  1. Bagian tanaman padi yang harus disemprot

Poin kedua yang perlu diperhatikan adalah bagian tanaman padi yang wajib terkena semprotan pestisida secara efektif. Hal ini berlaku untuk penggunaan semua jenis pestisida, baik pestisida kontak, pupuk daun maupun pestisida sistemik. Pupuk daun dan pestisida sistemik hanya akan berfungsi dengan baik jika dapat diserap oleh tanaman secara maksimal.

Sedangkan bagian tanaman yang dapat menyerap cairan pestisida dengan baik adalah bagian bawah permukaan daun. Untuk mencapai bagian bawah daun hendaknya penyemprotan dilakukan secara merata termasuk bagian bawah permukaan daun. Meskipun sebenarnya stomata terletak pada seluruh bagian daun. Tetapi letak stomata atau mulut daun paling banyak terdapat pada bagian bawah permukaan daun tersebut. Sehingga menyempit secara merata sampai bagian bawah daun bisa sangat efektif dalam penyemprotan pestisida.

 

  1. Perhatikan cuaca saat menyempit tanaman padi

Faktor cuaca juga sangat mempengaruhi nilai efektivitas penyemprotan pestisida. Untuk itu lebih baik melakukan penyemprotan saat cuaca sedang cerah. Dengan waktu yang di tentukan di atas.

Jangan memaksa melakukan penyemprotan saat cuaca sedang mendung dan akan turun hujan. Karena penyemprotan akan sia-sia jika cairan pestisida terlarut dalam air hujan dan tidak bisa diserap maksimal oleh tanaman. Meskipun cairan pestisida terdapat daya perekat tapi fungsi dan efektifitasnya akan berkurang karena guyuran air hujan. Jika demikian penyemprotan harus diulangi lagi, hal ini juga menyebabkan pemborosan pemakaian pestisida. Gunakan selalu perekat, pembasah dan perata, sebab tidak semua jenis pestisida memiliki daya rekat yang baik pada tanaman.

 

  1. Interval penyemprotan tanaman padi

Interval atau jarak waktu penyemprotan pada tanaman padi. Sebenarnya tidak ada aturan baku tentang interval penyemprotan, bisa 2 hari sekali, 3 hari sekali, 5 hari sekali atau 7 hari sekali. Interval penyemprotan bisa diatur dan disesuaikan dengan kondisi tanaman terhadap serangan hama atau penyakit pada tanaman padi. Jika intensitas serangan hama dan penyakit sudah tergolong parah, penyemprotan bisa dilakukan sesering mungkin. Begitu pula sebaliknya jika serangan hama dan penyakit masih menunjukkan gejala atau untuk tindakan pencegahan, penyemprotan bisa dilakukan 5 hari sekali sampai 7 hari sekali.

 

  1. Waktu awal penyemprotan tanaman padi

Sebelum terjadi serahkan hama atau penyakit maka lebih baik penyemprotan dilakukan sedinj mungkin, dan yang biasa diterapkan adalah 7bsampai 10 hari setelah tanam. Namun hal ini juga bisa berubah sesuai dengan kondisi lingkungan pada lahan. Dan jika dalam masa pencegahan serangan hama dan penyakit lebih baik amenggunakan dosis yang paling rendah (sesuai yang direkomendasikan) terlebih dahulu.

 

  1. Waktu yang dilarang untuk dilakukan penyemprotan

Mungkin bagi tanaman jenis lain penyemprotan bisa dilakukan kapan saja, tetapi hal ini berbeda dengan tanaman padi. Ada waktu dimana dilarang melakukan penyemprotan pada tanaman padi. Yaitu pada saat tanaman padi memasuki masa penyerbukan. Karena beberapa jenis pestisida yang bersifat panas dan toxic (racun) yang kuat. Penyemprotan yang dilakukan pada masa penyerbukan dapat memicu pertumbuhan gabah menjadi gabuk, kopong atau puso. Dan jika hal ini terjadi maka dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit karena hasil produksi sudah dapat dipastikan rendah. Jika memang diperlukan, penyemprotan bisa kembali dilakukan setelah proses penyerbukan selesai 85% atau 90%.

  1. Memilih jenis pestisida yang tepat

Jika dilihat dari cara kerjanya pestisida saat ini dapat digolongkan menjadi beberapa jenis seperti pestisida sistemik, kontak dan lambung, namun jika dilihat dari segi pestisida berdasarkan OPT sasarannya antara lain adalah insektisida, fungisida, bakterisida dan moluskisida. Supaya penyemprotan tepat sasaran dan efektif, gunakan pestisida yang sesuai. Adapun beberapa jenis pestisida tersebut adalah :

  1. Pestisida sistemik yaitu jenis pestisida yang berfungsi untuk mengendalikan OPT yang ada didalam tanaman, seperti sundep, uret atau penggerek batang
  2. Pestisida kontak dan lambung, adalah jenis pestisida untuk mengendalikan hama dengan mobilitas tinggi, seperti walang sangit atau belalang
  3. Insektisida, sesuai dengan namanya adalah jenis pestisida yang mengendalikan hama tanaman padi dari golongan serangga , seperti walang sangit, kaper, ulat, uret, sundep atau wereng
  4. Fungisida, digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh jamur (fungsi) atau cendawan patogen
  5. Bakterisida, adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri
  6. Moluskisida, adalah jenis pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama tanaman padi dari golongan moluska, seperti keong mas

 

  1. Dosis penyemprotan tanaman padi

 

Dosis atau konsentrasi penggunaan pestisida adalah takaran dalam membuat larutan pestisida yang akan disemprotkan ketanaman padi. Sebelum melakukan penyemprotan, biasakan untuk selalu membaca petunjuk yang tertera pada kemasan pestisida. Gunakan dosis sesuai dengan yang dianjurkan oleh produsen produk pestisida yang digunakan.

 

  1. Rotasi bahan aktif pestisida

Dalam penggunaan pestisida tidak disarankan menggunakan satu jenis bahan aktif pestisida secara terus-menerus karena dapat mengakibatkan sifat resistensi OPT (organisme pengganggu tanaman). Dalam arti lain OPT akan mampu beradaptasi dengan jenis pestisida yang sama, sehingga akan lebih kebal dengan pestisida tersebut. Oleh karena itu agar terhindar dari sifat Resistant pada OPT , sebaiknya gunakan bahan aktif pestisida yang berbeda. Minimal menggunakan 3 jenis bahan aktif yang berbeda yang diaplikasikan secara bergantian.

 

Demikian artikel kami kali ini yang membahas tentang “TEHNIK PENYEMPROTAN PADI YANG BENAR UNTUK HASIL PANEN YANG MEMUASKAN” Semoga bermanfaat.

Tips Budidaya Tanaman Okra (Bendi) Dapat Tumbuh Cepat Dan Berbuah Banyak

Tips Budidaya Tanaman Okra (Bendi) Dapat Tumbuh Cepat Dan Berbuah Banyak

Tips Budidaya Tanaman Okra (Bendi) Dapat Tumbuh Cepat Dan Berbuah Banyak

Tanaman bunga yang cukup banyak dibudidayakan adalah tanaman okra atau bendi yang masih termasuk dalam suku Malvaceae. Meskipun jenis tanaman bunga namun tanaman ini biasa diambil buahnya dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan sayuran dan berbagai olahan masakan lainnya. Ciri – ciri khas dari buah okra muda adalah memiliki warna hijau dan ukuran biji yang  kecil dan menempel di sekeliling dinding – dinding buah. Secara sekilas penampilan okra memiliki kemiripan dengan cabai hijau besar dan pada keliling kulit buahnya terdapat bulu-bulu halus.

Tips Budidaya Tanaman Okra (Bendi) Dapat Tumbuh Cepat Dan Berbuah Banyak

Namun tekstur buah okra lebih mirip dengan buah terong, dengan rasa renyah dan berlendir jika ketika dimasak. Di Indonesia sayuran okra sudah mulai dikenal dan disukai. Sayuran okra bisa diolah menjadi berbagai jenis olahan masakan, seperti kari, oseng-oseng, tumis, balado atau sebagai campuran salad. Tanaman ini cocok dibudidayakan di Indonesia yang beriklim tropis. Sehingga tanaman okra ini bisa tumbuh berkembang dengan baik di Indonesia. Dan bagi Anda yang ingin menjalankan budidaya tanaman okra atau BENDI  berikut ini kami berikan informasi langkah – langkah yang bisa Anda perhatikan dan Anda terapkan  dalam menjalankan budidaya tanaman okra agar dapat tumbuh maksimal.

  1. Syarat Tumbuh Tanaman Okra
  • Tanaman okra cocok untuk dibudidayakan pada daerah tropis seperti Indonesia.
  • Tanaman okra dapat tumbuh di dataran rendah, dataran menengah ataupun dataran tinggi
  • Tanaman okra akan tumbuh dengan optimal pada ketinggian 600 – 700 mdpl (meter diatas permukaan laut).
  • Tanaman Okra harus terpampang sinar matahari secara penuh
  • Sedangkan curah hujan yang cocok untuk tanaman okra adalah curah hujan sedang.
  • Kandungan pH tanah yang ideal agar tanaman okra mampu tumbuh dengan optimal adalah 5,5 – 7,0 (netral).
  • Tanaman okra dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang gembur dan kaya unsur hara.

 

  1. Persiapan Lahan Budidaya Okra
  • Bersihkan lahan dari sisa tanaman sebelumnya dan gulma.
  • Gemburkan tanah dengan cara dicangkul atau dibajak.
  • Buat bedengan dengan lebar 90 – 100 cm, dan tinggi bedengan 20 – 30 cm
  • Buat jarak antar bedengan 50 atau 70 cm.

 

  1. Pemberian Pupuk Dasar Budidaya Okra

Sebenarnya di dalam tanah sudah terdapat kandungan unsur hara. Namun tidak semua tanah memiliki unsur hara yang cukup untuk tanaman. Untuk itu perlu diberikan pupuk dasar seperti menambahkan pupuk kompos, pupuk kandang atau boleh juga ditambahkan pupuk kimia. Pupuk kimia yang bisa digunakan sebagai pupuk dasar adalah pupuk phosphor/phosphat seperti pupuk TSP, SP 36 atau SP 18 serta pupuk kalium dan pupuk nitrogen, misalnya pupuk KNO3, pupuk KCL, pupuk ZA atau pupuk Urea. Untuk dosisnya pupuk diberikan pada takaran yang sesuai dengan tingkat kesuburan tanah. Semakin tandus lahan untuk budidaya okra maka kebutuhan pupuk dasarnya semakin banyak.

Pemberian pupuk dasar bisa dilakukan dengan cara ditaburkan secara merata diatas bedengan. Kemudian tutup dengan tanah atau diaduk rata dengan tanah. Lakukan penyiraman setelah pemberian pupuk. Dia kan selama 10 sampai 15 hari dan tutup dengan mulsa plastik agar Gulma dan penyakit bisa diminimalisirkan.

 

  1. Persiapan Benih Budidaya Okra

Proses perkembangan benih bisa dengan cara di tanam langsung atau dengan melakukan proses semai terlebih dahulu. Jika memilih dengan menggunakan proses semai maka siapkan polybag kecil yang berdiameter minimal 5 cm. Media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1. Bibit okra bisa dipindah tanam kelahan jika tingginya sudah mencapai 15 atau 20 cm.

 

  1. Cara Menanam Bibit Okra

Jika memilih benih ditanam langsung pada lahan, maka caranya dengan memasukkan 2 atau 3 benjh okra ke dalam satu lubang tanam dan tutup tipis dengan tanah. Setelah benih tumbuh sekitar 20 cm, lakukan seleksi bibit, bibit yang kurang bagus pertumbuhannya dicabut dan sisakan 1 atau 2 bibit saja. Bibit yang dicabut bisa digunakan untuk menyulam jika ada benih yang tidak tumbuh atau mati.

Untuk cara benih yang disemai, maka siapkan lubang dengan ukuran diameter sesuai dengan polybag yang digunakan. Ambil polybag dan buka semai secara hati – hati. Hal ini bertujuan agar media semai tidak rusak. Kemudian masukkan bibit kedalam lubang tanam yang sudah dibuat sebelumnya. Tanah disekeliling lubang tanam sedikit dipadatkan agar bibit okra bisa berdiri kokoh dan tidak mudah rebah. Penanaman sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari.

  1. Pemeliharaan dan Perawatan Budidaya Okra
  • Penyiraman dilakukan secara rutin atau disesuaikan dengan kondisi. Jangan sampai tanaman okra kekeringan, karena tanaman okra hanya bisa tumbuh jika kandungan airnya cukup.
  • Jika menemukan bibit yang mati makalakukan penyisipan dengan cara mencabut tanaman yang mati.
  • Lakukan proses penyiangan untuk membersihkan gulma yang tumbuh disekitar tanaman okra. Proses penyiangan secara manual lebih baik daripada penyiangan dengan menggunakan herbisida.

 

  1. Pemupukan Susulan Tanaman Okra
  • Pemupukan susulan pertama dapat dilakukan saat tanaman okra memasuki usia 10 – 15 hari setelah tanam.
  • Pemupukan dilakukan dengan cara dikocor menggunakan pupuk ZA/Urea dan KCL dengan perbandingan 1:1. Gunakan 1 kg pupuk nitrogen dan 1 kg pupuk KCL dilarutkan dengan 500 liter air dikocorkan pada pangkal batang dengan takaran 500 ml larutan pupuk untuk satu tanaman.
  • Pemupukan dilakukan setiap 7 – 10 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi tanaman.

 

  • Pemupukan susulan kedua, dapat dilakukan saat tanaman berusia 1 bulan pemupukan susulan bisa dilakukan dengan cara ditabur.

 

  • Bagian tengah mulsa dibelah sepanjang -/+ 20 cm kemudian pupuk ditaburkan pada belahan mulsa tersebut.

 

  • Belahan mulsa sebaiknya dibuat sesuai dengan jumlah tanaman.

 

  • Penaburan pupuk sebaiknya dilakukan setelah penyiraman atau ketika tanah dalam keadaan basah/lembab.

 

  • Jenis dan dosis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, antara lain Za/Urea, KCL, TSP dan NPK. Ketika tanaman mulai berbunga (memasuki masa generatif) gunakan pupuk yang mengandung P dan K tinggi dan kurangi pupuk yang mengandung unsur N.

 

  1. Panen Buah Okra

Tanaman buah okra siap dipanen ketika tanaman telah berusia 60 – 70 hari. Ciri buah okra yang siap dipanen saat berusia masih muda, kira – kira dengan panjang antara 10 – 12 cm. Sebaliknya untuk buah okra yang memiliki panjang sudah lebih dari 12 cm atau sudah tua tidak layak untuk dipanen dan dikonsumsi sebagai sayur. Karena akan ada perubahan rasa yang kurang enak dan agak keras. Pemanenan bisa dilakukan setiap 2 atau 3 hari sekali, dan berlangsung hingga 2 – 3 bulan sejak panen pertama. Masa panen tergantung pada kondisi tanaman dan pemeliharaan tanaman.

 

Demikian “TIPS BUDIDAYA TANAMAN OKRA (BENDI) DAPAT TUMBUH CEPAT DAN BERBUAH BANYAK ” semoga bermanfaat.

 

 

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kacang Buncis Agar Panen Maksimal

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kacang Buncis Agar Panen Maksimal

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kacang Buncis Agar Panen Maksimal

Kacang buncis atau lebih dikenal dengan sebutan buncis merupakan salah satu jenis sayuran buah yang masuk dalam golongan kacang – kacangan atau leguminosa. Tanaman buncis banyak terdapat dihampir semua wilayah di Indonesia, terutama pada daerah-daerah sentra sayuran dan pada daerah dataran tinggi. Tanaman kacang buncis termasuk tanaman yang memiliki tingkat adaptasi yang baik terhadap iklim dan lingkungan. Sehingga tidak heran jika tanaman buncis menjadi pilihan yang tepat untuk di budidayakan. Dan bagi Anda yang ingin melakukan budidaya tanaman buncis ini, maka berikut ini tips untuk sukses menjalankan budidaya tanaman buncis agar mendapatkan hasil panen yang maksimal.

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kacang Buncis Agar Panen Maksimal

  1. Syarat Tumbuh Tanaman Buncis
  • Tanaman buncis bisa tumbuh pada datarab rendah dan dataran tinggi
  • Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman buncis adalah tanah lempung, tanah liat berpasir atau jenis tanah lainnya, dengan syarat tanah tersebut banyak mengandung unsur hara yang cukup.
  • Tanaman Kacang buncis harus terpampang sinar matahari secara penuh sepanjang hari.
  • Suhu optimal agar tanaman buncis bisa tumbuh dan berkembang dengan baik antara 20 hingga 25 derajat celcius.
  • Kacang buncis bisa ditanam disemua musim. Baik pada musim hujan maupun musim kemarau,
  • Pastikan kebutuhan pengairan yang cukup namun tanaman buncis juga tidak menyukai tanah yang terlalu becek.
  • Kandungan pH tanah yang cocok untuk tanaman buncis antara 5,0 hingga 6,5.

 

  1. Persiapan Lahan Budidaya Buncis
  • Pertama bersihkan lahan untuk budidaya buncis terlebih dahulu dari rumput liar dan gulma
  • Lakukan penggemburan tanah dengan cara dicangkul atau dibajak
  • Buat bedengan dengan lebar 80 – 100 cm, tinggi bedengan 10 – 30 cm atau disesuaikan dengan kondisi lahan.
  • Mengatur Jarak antar bedengan antara 50 – 60 cm.

Untuk tanah dengan kandungan pH tanah dibawah 5, taburkan pupuk dolomit atau kapur pertanian dengan dosis yang disesuaikan dengan kebutuhan.

 

  1. Pemberian Pupuk Dasar Budidaya Buncis

Setelah lahan siap maka lakukan pemberian pupuk dasar dengan kompos atau pupuk kandang, TSP, KCL dan ZA. Dosis pupuk dasar untuk 1000 lubang tanaman buncis yaitu ; 15 – 25 karung pupuk kandang, 20 kg TSP, 10 kg KCL dan 10 kg ZA. Untuk dosis bisa disesuaikan dengan kondisi lahan dan tanaman. Tebarkan pupuk dasar kacang buncis diatas bedengan secara merata, kemudian tutup pupuk dengan tanah tipis atau diaduk hingga rata.

 

  1. Persiapan Benih Budidaya Buncis.
  • Memilih benih dari tanaman buncis yang sehat dan berkualitas baik.
  • Biarkan buah buncis hingga tua dan kering di pohon.
  • Selanjutnya petik bakal benih buncis yang baik dan memiliki bentuk sempurna.
  • Jemur kacang buncis hingga benar-benar kering,
  • Setelah kering buncis dikupas untuk mengambil bijinya
  • Jangan pilih biji yang kurang baik, kempes atau kopong.
  • Atau pilih benih buncis hibrida yang berkualitas yang bisa didapatkan di toko pertanian. Biasanya menggunakan type tegak dan tipe merambat. Seperti benih buncis tipe tegak/perdu (Gipsy, Rancak, dll), benih buncis tipe merambat (Lebat-3, Perkasa, Inti-2, Utama, dll).

 

  1. Cara Menanam Benih Buncis
  • Untuk penanaman benih tanpa semai bisa dilakukan dengan menanam benih buncis yang sudah di campur insektisida. Hal ini dilakukan agar menghindari serangan hama perusak benih yang ada didalam tanah.
  • Tanam benih dengan kedalaman 2 cm kemudian ditutup dengan tanah,
  • Dalam 1 lubang bisa diisi dengan 1 atau 2 benih buncis.
  • Satu bedengan/guludan diatanam 2 baris kiri dan kanan.
  • Jika kondisi tanah kering, benih yang sudah ditanam kemudian disiram secukupnya.
  • Biasanya benih buncis sudah mulai berkecambah pada hari ke-3 sampai hari ke-5 setelah tanam.
  • Lakukan penyiraman setiap hari jika tidak ada hujan, penyiraman dilakukan sampai benih tumbuh semua.
  • Pada musim hujan sebaiknya jarak tanam tidak terlalu rapat agar lingkungan sekitar tanaman tidak terlalu lembab.
  • Jarak tanam buncis:
    1. Jarak tanam pada musim kemarau adalah 50 x 60 cm atau 60 x 60 cm.
    2. Jarak tanam pada musim hujan adalah 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm.
  • Buat lanjaran dengan kayu atau bambu dengan mengadopsi model lanjaran kacang panjang yang menggunakan bahan tali dan benang. Lanjaran ini digunakan untuk menopang kacang buncis yang tumbuh menjalar.

 

 

  1. Pemupukan Susulan Tanaman Buncis
  • Jenis pupuk yang bisa digunakan untuk buncis antara lain NPK 16, TSP, KCL, ZA dan pupuk lainnya yang dibutuhkan tanaman.
  • Pemupukan susulan pertama dilakukan ketika tanaman berusia 2 – 3 minggu setelah tanam.
  • Pemupukan bisa dilakukan dengan cara dikocor atau ditabur.
  • Pupuk ditaburkan pada sekeliling pangkal batang tanaman buncis dengan jarak 15 cm dari pangkal batang.
  • Dosis dan jenis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan kondisi atau tingkat kesuburan tanaman.
  • Jika daun tanaman buncis terlihat hijau dan subur, kurangi penggunaan pupuk nitrogen.
?
  1. Penanggulangan Hama dan Penyakit Tanaman Buncis

Jika mengharapkan tanaman buncis berbuah lebat adalah dengan menjaga tanaman buncis agar tidak terserang hama dan penyakit. Jadi perlu adanya usaha penanggulangan hama dan penyakit yang harus di upayakan. Karena adanya gangguan hama dan penyakit bisa menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu, menurunnya produktivitas tanaman, serta menurunnya hasil panen dan bisa juga menyebabkan gagal panen. Adapun jenis hama yang sering ditemui pada tanaman buncis antara lain ; ulat grayak, ulat daun, ulat buah, ulat bunga, kumbang perusak daun, lalat kacang, penggerek polong, kutu daun dan lalat buah. Pengendaliannya bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida dengan dosis dan takaran yang sesuai secara rutin.

Rupanya tidak hanya jenis hama saja yang bisa mengancam pertumbuhan tanaman buncis. Beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur atau cendawan, bakteri bahkan virus juga membahayakan kondisi tanaman buncis. Beberapa penyakit yang sering ditemui pada tanaman buncis antara lain embun tepung, penyakit mosaik, penyakit layu bakteri dan penyakit layu fusarium. Untuk proses Pengendaliannya bisa dilakukan dengan cara teknis dan penyemprotan fungisida atau bakterisida yang sesuai. Atau bisa juga dengan kultur teknis yaitu mencabut dan memusnahkan tanaman buncis yang terserang penyakit. Untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman buncis secara lengkap dan jelas, akan saya bahas pada postingan selanjutnya.

 

  1. Panen Budidaya Buncis

Tanaman Buncis akan mulai tumbuh bunga ketika sudah berusia 25 sampai 30 hari setelah tanam. Sedangkan untuk masa panennya bisa dilakukan saat tanaman usia 45 sampai 50 hari setelah tanam. Masa tanam bisa berbeda – beda tergantung varietas yang digunakan.

Ciri buah buncis siap panen adalah buah yang tidak terlalu muda dan tidak terlelu tua. Pemanenan buncis bisa dilakukan setiap 2 hari sekali, dan bisa dipanen setiap hari jika budidaya dilakukan dalam skala besar.

Demikian artikel kami tentang “TIPS SUKSES BUDIDAYA TANAMAN KACANG BUNCIS AGAR PANEN MAKSIMAL”. Semoga bermanfaat.