Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem tumpang sari atau multiple cropping adalah suatu metode bercocok tanam dengan menanam dua tanaman atau lebih dalam satu lahan dalam waktu yang hampir bersamaan. Penanaman dengan metode tumpang sari dilakukan hanya pada tanaman yang hanya satu musim panen seperti sayur – sayuran. Tanaman tumpangsari sangat bagus jika dikombinasikan dua tanaman inti dan satu tanaman penolak hama.

Penerepan tumpangsari (multiple cropping) sebaiknya memiliki umur atau periode pertumbuhan yang tidak sama, mempunyai perbedaan kebutuhan terhadap faktor lingkungan seperti air, kelembapan, cahaya dan unsur haratanaman,karena jika memiliki kebutuhan yang sama maka tanaman akan bersaing.

Sistem Tumpang Sari Jagung Dan Cabai Yang Tepat Dengan Produktivitas Melimpah

Sistem penanaman  tumpang sari (multiple cropping) memiliki berbagai keuntungan yaitu mengurangi resiko gagal panen sistem tumpang sari (multiple cropping)  juga dapatmengurangi erosi tanah dan kehilangan tanah olah,pemanfaatanlahan kosong disela-sela tanaman pokok, peningkatan produksi total persatuanluas,  menyuburkan dan memperbaiki struktur tanah danjuga dapat memperbaiki tata air dalam tanah-tanah pada lahan yang dilakukan bercocok tanam.

Teknik menanam dengan pola tumpang sari sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pertanian di Indonesia, sejak jaman dahulu kakek-nenek kita sudah menerapkan pola ini. Tapi seiring dengan perkembangan jaman pola tanam tumpang sari mulai ditinggalkan, tapi sekarang ini mengingat ketersediaan lahan pertanian yang semakin hari terus menyempit pola tanam campuran ini kembali digemari. Maka tak heran banyak yang menerapkan sistem tanam campuran atau tumpangsari. Yang dimana menganut sistem menanam satu tanaman dengan tanaman yang lainnya dengan jenis yang berbeda. Dan salah satu contoh budidaya campuran atau tumpang sari ini adalah budidaya jagung dan cabai rawit.

Kedua tanaman ini sama-sama penting dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Sehingga bercocok tanam dengan jagung dan cabai rawit bisa sangat menguntungkan. Dan bagi Anda yang ingin mencoba sistem ini maka ikutilah langkah-langkah dan cara budidaya tumpangsari jagung dan cabai rawit seperti berikut ini.

  1. Pada dasarnya cara untuk mempersiapkan lahan pada sistem tumpangsari tidak jauh berbeda dengan budidaya sistem biasa. Yaitu diawali dengan Pembersih an lahan dengan cara mencabut gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembajakan atau pencangkulan yang bertujuan agar tanam pada lahan lebih gembur. Selanjutnya adalah pembuatan bedengan, bedengan dibuat dengan lebar 80m – 90 cm, tinggi bedengan kira-kira saja asalkan tidak tergenang air, panjang bedengan disesuaikan dengan lahan. Bedengan yang dibuat sebaiknya tidak terlalu tinggi agar mudah melakukan pendangiran. Lalu lakukan pengecekan pH tanah, jika pH kurang dari atau dibawah 5,5 maka bisa menambahkan kapur pertanian (dolomit) dengan cara ditaburkan pada lahan sesuai kebutuhan. Biarkan selama beberapa hari agar tersiram air hujan.
  2. Pemberian pupuk dasar memiliki tujuan agar dapat menambah unsur hara dalam tanah. Unsur hara sendiri sangat penting terutama bagi proses pertumbuhan pada tanaman. Sehingga proses pemberian pupuk dasar ini tidak boleh dilewatkan. Pupuk dasar yang digunakan berupa pupuk kandang atau kompos, bisa juga ditambah dengan pupuk TSP, ZA dan KCL dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Pupuk ditaburkan merata diatas bedengan kemudian diaduk hingga tercampur rata dengan tanah. Dosis pupuk kandang dan pupuk kimia disesuaikan dengan kebutuhan. Biarkan selama kurang lebih 7 hari sebelum penanaman.
  3. Untuk proses penanaman sebaiknya menggunakan tanaman jagung terlebih dahulu. Atur jarak antar tanaman 30 cm dan jarak antar baris dalam bedengan 50 cm. Dalam satu lubang hanya digunakan untuk satu benih saja. Sebelum ditanam benih jagung bisa juga dicampur dengan fungisida dan insektisida, dengan tujuan untuk mencegah penyakit jamur dan gangguan hama. Jagung manis bisa dipanen saat sudah memasuki usia 60 – 65 hari setelah tanam tergantung varietas dan lokasi penanaman. Untuk di daerah dataran rendah jagung manis lebih cepat panen daripada di dataran tinggi. Sedangkan jagung kering bisa dipanen ketika sudah berusia 85 – 95 hari setelah tanam.
  4. Sebelum di tanam ada lebih baiknya benih cabai rawit di semai terlebih dahulu selama 10 hari sebelum penanaman jagung. Atau bisa juga bersamaan saat awal penanaman jagung. Benih cabai rawit sebaiknya disemai menggunakan polybag atau try semai agar tidak stres saat pindah tanam. Benih cabai bisa diperoleh dengan membelinya di toko pertanian atau dengan membuat benih sendiri. Bibit cabai rawit bisa dipindah tanam pada umur 30 hari setelah semai.
  5. Saat usia jagung sudah berumur 20 sampai 30 hari setelah masa tanaman ya maka proses pemindahan tanaman cabai rawit bisa dilakukan saat bibit cabai rawit yang disemai berusia 1 bulan. Bibit cabai rawit dapat ditanam diantara tanaman jagung dengan mengikuti barisan tanaman jagung diatas bedengan. Bibit cabai ditanam dengan menggunakan jarak tanam 60 x 60 cm atau 70 x 60 cm. Ketika jagung manis sudah siap dipanen biasanya tanaman cabai sudah berumur 35 – 40 hari setelah tanam. Pada saat itu tanaman cabai rawit sudah mulai berbuah dan jagung pun sudah siap untuk dipanen sehingga kedua tanaman tidak saling mengganggu. Jika jagung dipanen kering usia panen lebih lama, tetapi tanaman cabai tidak akan terganggu sebab daun-daun jagung sudah mulai mengering dan dipangkas untuk mempercepat pengeringan tongkol.
  6. Pemeliharaan dan perawatan tanaman polykultur seperti sistem tumpangsari ini tidak jauh berbeda dengan sistem monokultur (tanaman tunggal) , yaitu meliputi kegiatan penyiangan, pemupukan, pendangiran dan penyiraman.
  • Penyiangan dilakukan segera jika terlihat rumput liar atau gulma mulai tumbuh. Penyiangan hendaknya dilakukan secara manual dan hindari penggunaan herbisida. Herbisida bisa mengganggu pertumbuhan tanaman dan merusak tanah jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang lama.
  • Pemupukan yang diterapkan adalah pemupukan susulan yang bisa diberikan setelah penyiangan dan setelah itu segera dilakukan pendangiran. Dosis dan jenis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
  • Jika tidak turun hujan penyiraman juga harus dilakukan agar tanaman jagung dan cabai rawit bisa tumbuh dengan maksimal.

Adapun beberapa keuntungan budidaya jagung dan cabai rawit dengan sistem tumpangsari antara lain seperti berikut ;

  1. Bisa lebih efisien waktu dan tenaga baik dari proses pengolahan sampai perawatannya hingga 50%. Pengolahan lahan yang dilakukan hanya satu kali bisa langsung digunakan untuk 2 tanaman sekaligus.
  2. Lebih efisien dalam penggunaan pupuk dasar hingga 50 %, yang hanya diberikan satu kali pada saat menanam jagung, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh tanaman kedua yaitu cabai rawit.
  3. Menghemat penggunaan air untuk penyiraman hingga 50%, hanya diperlukan satu kali penyiraman pada 2 tanaman sekaligus.
  4. Memanfaatkan penggunaan lahan secara maksimal untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
  5. Bisa memperoleh hasil produksi yang lebih banyak dari 2 jenis tanaman yang berbeda. Sehingga keuntungan dalam budidaya tanaman bisa lebih banyak dibandingkan hanya mengandalkan sistem tanam tunggal atau monokultur.
  6. Bisa mengenakan atauan meminimalkan serangan hama kutu kebul pada tanaman cabai rawit ataupun tanaman jagung.

 

 

Demikian artikel kami tentang  “SISTEM TUMPANG SARI JAGUNG DAN CABAI YANG TEPAT DENGAN PRODUKTIVITAS MELIMPAH  ” Semoga bermanfaat.

Inilah Jenis Pupuk Yang Cocok Untuk Padi Dan Dosis Pemberian Yang Tepat

Inilah Jenis Pupuk Yang Cocok Untuk Padi Dan Dosis Pemberian Yang Tepat

Inilah Jenis Pupuk Yang Cocok Untuk Padi Dan Dosis Pemberian Yang Tepat

Jika kita memulai usaha budidaya tanaman salah satu yang wajib disiapkan adalah pemberian pupuk pada tanaman.  Tidak ketinggalan jika kita menjalankan usaha pertanian padi. Pupuk yang disiapkan bisa dari pupuk organik dan pupuk Anorganik. Jika pupuk organik bisa kita dapatkan dengan memanfaatkan sisa tanaman atau daun yang biasa disebut juga dengan pupuk kompos. Pupuk organik juga bisa didapatkan dengan memanfaatkan sisa kotoran hewan atau lebih sering disebut dengan pupuk kandang.

Inilah Jenis Pupuk Yang Cocok Untuk Padi Dan Dosis Pemberian Yang Tepat

Namun jika lahan yang digunakan tidak terlalu subur tanaman padi juga memerlukan tambahan pupuk anorganik pada dosis dan jenis pupuk yang tepat. Jenis pupuk anorganik memang lebih dikenal dengan kandungan unsur kimia yang tinggi, tetapi adanya pupuk anorganik yang memiliki berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman padi untuk tumbuh. Beberapa jenis pupuk anorganik yang bisa ditemukan adalah pupuk nitrogen, pupuk phosphat, pupuk kalium dan pupuk yang mengandung unsur hara mikro. Sedangkan jenis pupuk organik untuk tanaman padi seperti pupuk kandang, kompos atau pupuk hijauan. Sedangkan untuk dosis atau takarannya tanaman padi memerlukan pupuk sebagai berikut ;

 

  1. Hara N sebanyak 17,5 kg (setara dengan 39 kg Urea)
  2. Hara P sebanyak 3 kg (setara dengan 3 kg SP-36)
  3. Hara K sebanyak 17 kg (setara dengan 34 kg KCl)

 

Dalam pupuk anorganik memiliki unsur hara baik mikro ataupun mikro yang dibutuhkan tanaman. Seperti beberapa kandungan berikut ini :

  • Kandungan nitrogen adalah salah satu unsur hara makro yang paling dibutuhkan oleh tanaman padi. Karena kandungan nitrogen ini berperan aktif dalam proses pembentukan zat hijau daun, sehingga bisa membantu proses fotosintesis.
  • Fosfor sendiri merupakan unsur hara yang juga bermanfaat bagi tanaman padi untuk merangsang tumbuhnya akar khususnya saat tanaman padi yang berusia muda. Kandungan fosfor juga berfungsi dalam pembentukan protein tertentu yang dibutuhkan oleh tanaman padi.
  • Pupuk kalium juga sering disebut sebagai KCl biasanya digunakan untuk membantu meningkatkan pembentukan hijau daun pada tanaman. Selain itu kandungan kalium dalam pupuk anorganik juga membantu pembentukan protein dan karbohidrat pada tumbuhan. Kalium merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit.

Berdasarkan beberapa kandungan yang sudah dijelaskan diatas pupuk anorganik bisa memberi manfaat yang baik bagi tanaman padi seperti berikut ini :

  1. Tingkat produktivitas gabah pada tanaman padi akan semakin meningkat, sehingga bisa membuat hasil panen padi lebih maksimal dengan kuantitas yang besar.
  2. Beberapa kandungan unsur hara mikro dan makro bisa membauta tanaman padi memiliki waktu pertumbuhan yang lebih cepat terutama jika dibandingkan dengan tanaman padi yang tidak mendapatkan pupuk anorganik secara tepat.
  3. Seluruh kandungan unsur hara dalam pupuk anorganik dapat terserap dengan baik dan cepat sehingga semua zat yang dibutuhkan tanaman bisa cepat didapatkan.
  4. Pertumbuhan pada tanaman padi bisa maksimal mulai dari pertumbuhan akar padi sampai warna hijau daun pada tanaman padi.
  5. Kualitas tanaman padi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga potensi produk tanaman khususnya hasil panen bisa maksimal

Tetapi untuk memberikan pupuk pada tanaman padi kita bisa sembarang atau asal asalkan. Kita juga harus memperhatikan jenis, dosis, dan takaran dalam pemberian pupuk pada tanaman padi.

Waktu pemberian pupuk harusnya terjadwal dan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Pemberian pupuk dengan jadwal tertentu dapat menghindarkan kelebihan atau kekurangan pupuk. Seperti halnya pupuk jenis nitrogen atau urea diberikan 3 kali agar pemberian pupuk N menjadi lebih efesien terserap oleh tanaman padi. Sedangkan pemberian pupuk KCl dilakukan 2 kali, agar proses pengisian gabah menjadi lebih baik dibanding dengan satu kali pemberian bersamaan dengan pupuk Urea pertama. Dan berikut adalah jadwal pemupukan , dosis, dan jenis pupuk  pada tanaman padi hibrida yang biasa di sarankan :

  1. Pupuk susulan I ; Pemupukan susulan pertama diberikan ketika tanaman padi berumur 7 – 10 HST. Pupuk yang digunakan adalah 75 kg pupuk Urea, 100 kg pupuk SP-36 dan 50 kg pupuk KCl per hektar.

 

  1. Pupuk susulan II : Pemupukan susulan kedua diberikan ketika tanaman padi berumur 21 HST. Pupuk yang digunakan adalah 150 kg pupuk Urea per hektar.

 

  1. Pupuk susulan III ; Pemupukan susulan ketiga diberikan ketika tanaman padi berumur 42 HST. Pupuk yang digunakan adalah 75 kg pupuk Urea dan 50 kg pupuk KCl per hektar.

 

Berdasarkan dari jumlah pemberian pupuk susulan untuk tanaman padi yang diaplikasikan 3 kali pemupukan diatas, berarti dalam 1 hektar tanaman padi untuk satu musim tanam membutuhkan pupuk nitrogen, phosphor dan kalium masing-masing sebagai berikut ;

  • Kebutuhan pupuk Urea (nitrogen) dalam 1 hektar tanaman padi : 300 kg
  • Kebutuhan pupuk SP36 / TSP (phosphor) dalam 1 hektar tanaman padi : 100 kg
  • Kebutuhan pupuk KCL (kalium) dalam 1 hektar tanaman padi : 100 kg
  • Dosis pupuk secara keseluruhan dalam 1 hektar tanaman padi berarti 400 kg

Namun data diatas bukan berarti menjadi standar baku pemberian pupuk untuk tanaman padi. Untuk dosis ya bisa disesuaikan dengan kondisi tanah pada lahan. Semakin tinggi tingkat kesuburan lahan padi, maka kebutuhan pupuknya semakin sedikit. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah tingkat kesuburan tanah maka semakin tinggi dan semakin banyak pula pupuk yang dibutuhkan.

 

Secara umum dikatakan bahwa pupuk hijau mampu memenuhi kebutuhan hara N sebanyak 80 % kebutuhan N tanaman. Pemberian pupuk hijau dapat dilakukan dengan cara membenamkan daun-daunnya ke dalam tanah pada waktu pengolahan tanah.Kombinasi pemberian pupuk organik dan anorganik untuk padi hibrida sangat dianjurkan. Pupuk organik yang dianjurkan berupa pupuk kandang atau kompos jerami sebanyak 2 ton per hektar setiap musim, sedangkan pupuk anorganik yang diperlukan adalah Urea, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 300 kg, 100 kg dan 100 kg per hektar. Pupuk organik sebaiknya diberikan bukan hanya pada saat kepepet saja, tetapi diberikan untuk mengimbangi penggunaan pupuk kimia atau pupuk anorganik. Penggunaan pupuk kandang, pupuk kompos atau hijauan dapat menekan biaya pembelian pupuk pabrik sehingga biaya produksi lebih sedikit dengan hasil tonase gabah tetap tinggi.

Kesimpulannya tanaman padi sangat membutuhkan pemberian pupuk anorganik secara tepat sesuai dengan jenis, dosis, dan waktu pemberian pupuk yang terjadwal. Sehingga manfaat kandungan pada pupuk bisa berpengaruh baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Dengan tujuan hasil panen yang maksimal baik secara kualitas ataupun kuantitasnya. Untuk itu perlu pengetahuan dalam pemberian pupuk pada tanaman padi ini. Juga penyesuaian kondisi tanah pada lahan jangan sampai padi mengalami kekurangan ay tau kelebihan unsur hara yang justru akan mengancam pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman padi.

Demikian artikel pembahasan kami tentang  “JENIS PUPUK YANG COCOK UNTUK PADI DAN DOSIS PEMBERIAN YANG TEPAT ” Semoga bermanfaat.

Mengenal Lebih Jauh Tentang Tanaman Lada Perdu Dan Cara Budidayanya

Mengenal Lebih Jauh Tentang Tanaman Lada Perdu Dan Cara Budidayanya

Mengenal Lebih Jauh Tentang Tanaman Lada Perdu Dan Cara Budidayanya

Lada merupakan salah satu jenis rempah yang paling dicari di masyarakat luas. Dan dari lada pula membuat nama Indonesia dikenal sebagai salah penghasil lada terbesar. Maka tidak heran lada ini juga menjadi rebutan di jaman penjajahan. Sebab, dulu, rempah merupakan salah satu bahan pengawet makanan. Kini, selain menjadi bumbu masak, tanaman dari famili Piperaceae ini juga menyimpan manfaat bagi kesehatan, seperti, mengobati impotensi, rematik dan malaria.

Jenis lada yang ada di Indonesia berjumlah 40 jenis lada. Setiap lada memiliki karakteristik yang berbeda – beda tergantung pada masing-masing daerah. Namun belakangan ini nama lada kembali naik daun karena adanya jenis lada perdu. Lada perdu memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis lada biasanya. Jika lada kebanyakan membutuhkan batang untuk merambat dan tumbuh, jenis lada perdu bisa dikembangkan langsung dalam pot atau tanpa batang penyangga untuk merambat. Selain itu lada perdu juga dapat tumbuh rimbun dan bisa ditanam dalam pot sehingga juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman hias di halaman.

Mengenal Lebih Jauh Tentang Tanaman Lada Perdu Dan Cara Budidayanya

Kelebihan lain dari budidaya lada perdu adalah proses  pemeliharaannya yang mudah, biaya produksi juga relatif murah, cara panen juga mudah, bisa ditumpang sela dengan tanaman tahunan, atau bisa ditumpangsari dengan tanaman semusim. Kelebihan lain lada perdu adalah bisa dibudidayakan pada lahan yang sempit karena lada perdu dapat ditanam menggunakan pot atau polybag. Bagi Anda yang tertarik budidaya lada perdu ini, di awal Anda harus tahu dulu tahapan-tahapan dan cara pembibitan lada perdu yang baik dan benar, seperti berikut ini :

Perkembangan lada perdu bisa dilakukan secara generatif ataupun vegetatif. Tetapi kebanyakan orang lebih memilih cara vegetatif yang dianggap lebih efektif dalam proses perkembangannya. Bibit tanaman lada perdu dapat diperoleh melalui stek batang atau setek cabang buah atau stek cabang produksi. Persyaratan mutu benih lada telah dituangkan dalam SNI 01-7155-2006 yang meliputi spesifikasi persyaratan kebun induk, persyaratan persemaian lada dan persayaratan mutu benih lada. Berikut ini tabel “Persyaratan Mutu Benih Lada” sesuai dengan standard SNI

Proses pemilihan bibit bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu setek cabang bertapak dan setek cabang buah. Seperti penjelasan berikut ini.

  • Setek cabang bertapak merupakan setek cabang yang menggunakan setek cabang primer dengan 3 – 4 daun dan menyertakan satu buku sulur panjat. Tunas tidur dan daun penumpu yang ada pada buku sulur panjat harus dipotong dan dibuang agar tidak terbentuk lagi sulur panjat. Perbanyakan dengan setek bertapak lebih mudah berhasil karena setek menyertakan satu sulur pada pangkal setek. Karena akar primordia sudah pada sulur panjat sebagai tapak, maka persentase hidup dari setek bertapak selalu tinggi.
  • Setek cabang yaitu setek cabang buah primer dan sekunder. Cabang primer adalah cabang yang keluar dari sulur panjat, sedang cabang buah, pertumbuhan akar dan tunas lebih sulit dan lama sehingga waktu di pembibitan lebih lama. Setek cabang diperbanyak dari setek cabang sekunder yang dibuat dari cabang primer, sekunder dan tertier relatif sulit berakar dibanding setek cabang bertapak. Hal ini disebabkan karena bagian buku dan ruas setek cabang primer, sekunder dan tertier tidak mempunyai primordia akar. Setek cabang buah merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan tanaman.

Tanaman lada perdu cocok dibudidayakan dengan sistem tumpang sela maupun tumpang sari, karena tanaman ini memerlukan naungan 25 – 50%. Lada perdu bisa ditumpang sela dengan tanaman perkebunan, misalnya kelapa, cengkeh, mangga dan sengon. Atau ditumpangsarikan dengan tanaman kacang tanah dan jagung. Budidaya lada perdu dengan teknik polykultur memiliki beberapa keuntungan, antara lain dapat meningkatkan efesiensi penggunaan lahan, memberikan nilai tambah terhadap penghasilan petani serta mengurangi resiko kematian tanaman akibat cekaman lingkungan. Tanaman lada perdu yang ditumpang sela dengan tanaman perkebunan memiliki persentase kematian lebih rendah dariapada budidaya lada secara monokultur. Selain itu sisa – sisa dari tanaman semusim yang sudah dipanen menjadi sumber bahan organik yang dapat membantu ketersediaan hara bagi tanaman lada.

 

Sistem perakaran tanaman lada perdu sangat dangkal dan sedikit, sehingga tanaman ini tidak tahan terhadap sinar matahari penuh. Lada perdu memiliki struktur akar yang dangkal dengan 63,8% perakaran terkonsentrasi pada kedalaman 0-50 cm dari permukaan tanah. Oleh sebab itu jika lada perdu dibudidayakan secara monokultur, sebelum penanaman lada perdu perlu dilakukan penanaman pohon pelindung terlebih dahulu.

 

Persiapan lahan dimulai pada musim kemarau, sehingga penanamannya dilakukan pada musim hujan, diawali dengan pembersihan lahan, pengajiran dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m atau 1,5 m x 2 m, dan pembuatan lubang tanam dengan ukuran minimal 35 cm x 35 cm x 35 cm. Pada pertanaman polikultur, contohnya pada kelapa, biasanya ditanam ± 2 m dari pangkal batang kelapa atau di luar batas tajuk tanaman pokoknya, karena perakaran kelapa umumnya terkonsentrasi tertinggi sampai sejauh 2 m dari pangkal batang dengan kedalaman 1,5 m (Nair, 1983). Menjelang musim penghujan, lubang tanam ditutup dengan campuran tanah atas dan pupuk kandang sebanyak 5–10kg/lubang tanam, sehingga terbentuk guludan individu setinggi ± 20 cm. Penambahan dolomit 0,5 kg/lubang tanam dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

 

Penanaman dilakukan pada awal musim penghujan, bibit lada perdu ditanam secara tegak. Saat melepaskan polibag, sebaiknya media tanam diusahakan tidak pecah karena dapat mengganggu perkembangan akar yang dapat berakibat kematian. Selanjutnya tanah di sekitar bibit lada dipadatkan. Untuk mengurangi penguapan, bibit diberi naungan yang terbuat dari daun yang tidak mudah lapuk seperti daun alang-alang atau kelapa sampai tanaman kuat beradaptasi.

Secara umum pemeliharaan tanaman lada perdu lebih mudah dibanding lada panjat, karena tidak memerlukan pemeliharaan untuk tiang panjatnya, sehingga biaya produksi dapat ditekan. Pemeliharaan tanaman meliputi : a) penyiangan,

b). perompesan bunga,

c). penyiraman,

d). perbaikan guludan,

f). pemberian mulsa,

g). perbaikan saluran pembuangan air.

Pemupukan tanaman lada disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pada tahun I pupuk NPKMg (12:12:17:2) 50 g/tanaman/tahun, diberikan 4 kali setahun. Pemberian pupuk dilakukan mulai 3 bulan setelah tanam (BST). Pada tahun II dosis pupuk 100 g/tanaman/tahun dan tahun III dan seterusnya 200 g/tanaman/tahun (Syakir dan Azri, 1994 dalam Syakir, 1996). Pemberian pupuk dilakukan setiap pada awal musim hujan. Pupuk diberikan dengan cara dibuat larikan atau ditugal ± 20 cm dari pangkal batang lada. Pemberian pupuk kandang diberikan setiap tahun pada awal musim kemarau dengan dosis 5-10 kg/tanaman/tahun.

Untuk mempercepat pertumbuhan vegetatif (agar tanaman cepat rimbun) dilakukan pemberian pupuk daun dengan cara disemprot 2 kali sebulan atau sesuai dengan kebutuhan.

Untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit, dilakukan penyemprotan pestisida 1 kali sebulan atau sesuai dengan kebutuhan. Pemberian bambu bertujuan untuk menghindari kontak langsung daun lada dengan tanah sebagai salah satu upaya untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Lada perdu mulai berproduksi pada umur 2 tahun, dan panen selanjutnya dilakukan setiap tahun sampai tanaman berumur lebih dari 10 tahun, tergantung pemeliharaan. Panen pertama dapat menghasilkan ± 200 g lada kering/tanaman. Panen berikutnya akan meningkat sampai ± 300 g lada kering/tanaman. Waktu panen sangat ditentukan oleh jenis lada yang akan dihasilkan dan tidak berbeda dengan lada panjat, yaitu lada hitam dan lada putih. Pemanenan lada perdu cukup mudah karena tidak memerlukan tangga.

 

Demikian artikel kami tentang “MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG TANAMAN LADA PERDU DAN CARA BUDIDAYANYA ” . Semoga bermanfaat

Trik Jitu Untuk Menghasilkan Cabai Dengan Kualitas Unggul Dan Terbaik

Trik Jitu Untuk Menghasilkan Cabai Dengan Kualitas Unggul Dan Terbaik

Trik Jitu Untuk Menghasilkan Cabai Dengan Kualitas Unggul Dan Terbaik

Memilih dan menentukan benih atau bibit cabai yang unggul merupakan satu langkah yang terbaik dalam melakukan budidaya cabai agar hasil panen atau hasil produksi cabai bisa maksimal. Untuk itu perlu adanya pengetahuan dalam memilih dan menentukan benih cabai unggul dan berkualitas. Selain itu juga dibutuhkan sedikit ketelitian saat menentukan karakteristik cabai itu sendiri. Bibit cabai yang unggul dapat dilihat dari karakteristik pokok indukannya dan pertumbuhannya. Ada beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan agar bisa menentukan bibit cabai jenis apa yang dinilai berkualitas. Beberapa faktor tersebut bisa dilihat dari kriteria berikut ini:

Trik Jitu Untuk Menghasilkan Cabai Dengan Kualitas Unggul Dan Terbaik

  • Produktivitas yang tinggi
  • Tahan serangan hama dan penyakit
  • Masa pembuahannya cepat (genjah)
  • Tingkat kepedasan
  • Frekuensi pemanenan
  • Daya simpan lama

Secara agronomis varietas cabai sendiri sebenarnya sudah dibedakan menjadi dua tipe atau jenis, yaitu varietas hibrida dan varietas non hibrida.

Varietas hibrida adalah jenis varietas turunan yang pertama atau biasa disebut F1 dari hasil persidangan dua galur murni.

Sedangkan untuk varietas non hibrida merupakan galur murni yang bersifaf memiliki sari yang bebas, dalam artian lain bisa diperbanyak atau dikembangkan tanpa harus melakukan persidangan layaknya varietas hibrida.

Melalui hasil persilangan antara dua induk tanaman varietas hibrida lebih memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas non hibrida. Salah satu keunggulan itu bisa dilihat dari potensi hasil yang bisa melebihi dari pada kedua indukan nya.

Maka tidak heran jika varietas hibrida semakin banyak dijadikan pilihan oleh para petani cabai karena potensi hasil dan keuntungan secara komersial lebih besar.

Tetapi selain keunggulan tersebut, varietas hibrida juga memiliki kekurangan yaitu biji yang diambil untuk pembibitan pada musim tanam selanjutnya sebaiknya tidak digunakan, karena varietas tersebut pasti akan mengalami ssegregasi. Artinya keturunan dari varietas hibrida tersebut akan kehilangan kualitas dan keunggulannya bila dilakukan penanaman kembali. Kondisi inilah yang mengharuskan petani untuk tidak menggunakan benih hibrida lagi, sebaiknya membeli benih hibrida yang baru di toko pertanian. Sehingga potensi keuntungannya akan tetap terjaga atau bahkan akan terus meningkat.

Berbicara mengenai keuntungan dalam budidaya cabai merah besar ini, sudah tentu akan menuai kesuksesan jika kita bisa konsisten dalam menjalankannya. Karena potensi hasil budidaya cabai merah besar sendiri bisa mencapaimaksimal.ntuk setiap satu hektare nya. Itu pun bisa lebih jika pengelolaan dan perawatan cabai bisa maksimal.

Dan secara komersial atau perhitungan secara nominal ya setiap satu hektare lahan petani cabai merah besar bisa memperoleh penghasilan hi gga 220 juta rupiah. Dengan kalkulasi saat harga cabai besar merah dalam hitungan. Murah, dengan taksiran 10 ribu rupiah untuk satu kilonya. Dan hasil bisa berlipat jika harga cabai melambung tinggi hingga mencapai 30 ribu rupiah sampai 50 ribu rupiah perkilonya.

Tetapi yang disayangkan potensi maksimal tersebut sangat jarang atau belum pernah tercapai saat ini. Karena selama ini produktivitas cabai merah besar rata-rata hanya bisa menghasilkan 8,47 ton saja untuk setiap hektar nya.

Data tersebut yang di keluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir tahu 2016 yang lalu. Melalui catatan BPS luas area penanaman cabai merah besar di seluruh wilah di Indonesia mencapai 123.404 hektar. Dari lahan pertanaman cabai merah besar seluas itu Sayangnya hanya mampu menghasilkan 1.045.587 ton, yang artinya rata-rata dalam satu hektar hanya akan menghasilkan 8,47 ton saja.

Angka produktivitas cabai merah besar bisa tergolong rendah hal ini salah satunya disebabkan oleh hama dan penyakit. Dan jenis penyakit cabai merah besar yang sering ditemukan adalah penyakit bulai atau keriting bulai. Penyakit ini memberikan dampak tanaman cabai merah besar mengalami serangan penyakit kuning sehingga menyebabkan turunnya hasil produktivitas cabe merah besar.

Penyakit bulai atau dikenal juga dengan penyakit virus kuning atau virus belang disebabkan oleh ada ay virus gemini. Dan berdasarkan perhitungan ya virus ini bisa menyebabkan para petani cabai merah besar kehilangan hasil panen dengan prosentase antara 20% hingga 100%.(gagal panen).

Dan yang menjadi masalah saat ini serangan virus gemini ini belum bisa diatasi sepenuhnya, sehingga masalah ini selalu menjadi tantangan tersendiri saat memutuskan untuk menjalankan budidaya tanaman cabai merah besar. Karena hingga saat ini belum ada satupun varietas cabai merah besar unggul yang bisa tahan terhadap

Serangan virus gemini selama ini belum bisa diatasi atau belum sepenuhnya teratasi. Hingga saat ini belum ada satupun varietas cabai unggul yang tahan terhadap virus gemini.

Pemerintah tidak tinggal diam untuk mengatasi masalah produksi cabai merah besar (CMB) nasional yang terus menurun. Balitbangtan berupaya sekuat tenaga untuk menghasilkan benih cabai unggul tahan virus gemini.

Pada 23 Mei Tahun 2018 lalu Balitbangtan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) telah merilis varietas baru cabai merah besar tahan virus gemini, yaitu “CARVI AGRIHORTI“.

 

Ciri – ciri yang bisa dilihat dari Varietas Cabai Merah Besar CARVI AGRIHORTI adalah :

  • Kadar capsaicin mencapai 2.6 mg
  • Pertumbuhan kompak
  • Tinggi 75-90 cm
  • Awal berbunga usia 46 hari
  • Awal panen 91-95 hst
  • Sesuai pada dataran 500-1400 mdpl

Beberapa Varietas cabai merah besar tahan virus gemini seperti yang disebutkan di atas, merupakan hasil kolaborasi pemulia Balitbangtan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) dari BB Biogen dengan Balitsa (Balai Penelitian Tanaman Sayuran). Keunggulan dari varietas cabai merah besar “Carvi Agrihorti” adalah memiliki mutu yang lebih baik dengan produktivitas lebih tinggi dan tahan penyakit bulai termasuk virus gemini.

Hal ini dibuktikan dengan penelitian Varietas cabai merah besar “CARVI AGRIHORTI” di berbagai daerah dan lokasi di Indonesia yang hasilnya menyatakan varietas ini tahan terhadap serangan virus gemini.

Tidak hanya itu, untuk meyakinkan para petani dan pelaku budidaya cabai merah besar, ternyata benih cabai “CARVI AGRIHORTI” juga telah didaftarkan dan lulus uji sebagai cabai yang  tahan terhadap serangan virus gemini dan telah dilepas (release) oleh Balitbangtan pada 23 Mei 2018. Varietas unggul baru (VUB) cabai besar Balitbangtan ini telah dilepas berdasarkan SK Nomor 051/Kpts/SR.120/D.2.7/5/2018 tentang Pemberian Tanda Daftar Varietas Tanaman Hortikultura.

Agar lebih jelas lagi, berikut ini penjelasan tentang keunggulan lainnya yang dimiliki oleh Varieatas Cabai Merah Besar “CARVI AGRIHORTI” :

  1. Memiliki ketahanan yang tinggi termasuk serangan virus gemini yang bisa mengakibatkan penyakit bulai/ keriting bulai/ belang.
  2. Hasil produktivitas lebih tingga bahkan bisa mencapai 2,5 kali lebih banyak dari varietas cabai pada umumnya.
  3. Tingkat potensi hasil juga tinggi yaitu antara 22 sampai 23 ton setiap hektare nya.
  4. Kualitas dan mutu lebih baik dibanding jenis cabai merah biasa.
  5. Memiliki rasa yang lebih pedas karena memiliki kandungan capsaicin yang lebih tinggi.
  6. Agak toleran terhadap Thrips (pengisap daun)

Demikian penjelasan kami tentang “TRIK JITU UNTUK MENGHASILKAN CABAI DENGAN KUALITAS UNGGUL DAN TERBAIK”. Semoga Artikel kali ini bisa bermanfaat bagi Anda.

Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Setiap orang yang menjalankan budidaya menanam jagung, meskipun dengan teknik yang berbeda – beda pasti memiliki tujuan yang sama, yaitu mampu memperoleh hasil maksimal dengan biaya produksi yang rendah. Sehingga keuntungan yang didapat setelah panen bisa menguntungkan. Adapun jenis Biaya produksi menanam jagung meliputi proses untuk pembukaan lahan, pengolahan tanah, penyediaan bibit, pembelian pupuk, tenaga kerja, dan biaya pengendalian gulma atau yang umum dikenal dengan istilah matun (ngoret).

Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Jagung Untuk Mengendalikan Gulma Atau Rumput Liar

Budidaya tanaman jagung sangat menguntungkan dan bisa dibilang sangat pudah untuk dijalankan. Tehnik budidaya menanam jagung pun dapat dilakukan dengan berbagai sistem yand ada, seperti budidaya jagung olah tanah sempurna (OTM), sistem olah tanah minimum (OTM), sistem tanpa olah tanah (TOT) maupun sistem tumpangsari.

Salah satu kegiatan dalam budidaya tanaman jagung yang tidak boleh diabaikan yaitu proses Pembersihan hama. Dan Pembersihan gulma yang banyak di terapkan adalah matun atau ngoret. kegiatan membersihkan gulma (matun) bisa dilakukan 2-3 kali dalam satu musim tanam, tergantung kondisi gulma di lapangan.

Matun atau ngoret atau yang dikenal juga dengan menyiangi rumput pada proses budidaya jagung seringkali masalah atau kendala tersendiri. Apalagi saat memasuki musim hujan, gulma / rumput liar bisa tumbuh dengan cepat. Sehingga proses matun akan banyak menghabiskan tenaga dan biaya yang besar. Padahal dalam menjalankan semua jenis usaha termasuk budidaya ini kita harus sangat memperhitungkan efektivitas dan efisiensi waktu, tenaga dan biaya.

Gulma sudah pasti menjadi masalah yang serius dan sangat mengganggu proses pertumbuhan pada tanaman budidaya. Karena gulma atau rumput liar ini bisa menjadi pesaing tanaman budidaya untuk mendapatkan kebutuhan akan unsur hara, air, cahaya dan ruang untuk tumbuh.

 

Jenis-jenis Gulma pada Tanaman Jagung

Sampai saat ini keberadaan gulma diantara tanaman jagung atau tanaman budidaya lainnya menjadi masalah yang sangat merugikan, karena adanya gulma di sekitar tanaman budidaya dapat menyebabkan tanaman tumbuh tidak optimal dengan produktifitas yang rendah.

Jenis gulma yang bisa hidup diantara tanaman jagung sangat banyak jenisnya. Dan jenis gulma yang biasa tumbuh diantara jagung berdasarkan dari Morfologi ya adalah sebagai berikut ini ;

  1. Gulma berdaun lebar (broad leaves) merupakan salah satu gulma yang bisa mengganggu pertumbuhan jagung. Contoh tanaman gulma berdaun lebar ini adalah kentangan, krokot, bayam-bayaman, wedusan/babadotan, dll.
  2. Gulma golongan rumput (grasses) adalaha gulma yang paling mudah tumbuh terutama saat memasuki musim hujan. Contoh gulma jenis ini adalah rumput mprit-mpritan, lulangan, rumput grinting, dll.
  3. Gulma berdaun sempit juga sering menjadi faktor pengganggu tanaman jagung untuk tumbuhan. Gulma ini juga sering disebut seedges, dan beberapa conpoh contohnyal teki, rumput bulu babi, dll.

 

Teknik Pengendalian Gulma pada Tanaman Jagung

Cara pengendalian gulma pada tanaman jagung dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, yaitu secara manual, mekanis, teknik budidaya maupun menggunakan herbisida.

 

Teknik pengendalian gulma secara manual seperti matun merupakan pengendalian gulma menggunakan tenaga manusia dengan alat sederhana, seperti sabit/arit, cangkul atau alat lainnya.

Sayangnya tehnik pengendalian gulma secara matun akan banyak menghabiskan tenaga dan biaya yang besar. Padahal dalam menjalankan semua jenis usaha termasuk budidaya ini kita harus sangat memperhitungkan efektivitas dan efisiensi waktu, tenaga dan biaya.

Sebaliknya tehnik pengendalian gulma menggunakan herbisida hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja dan waktu pelaksanaannya relatif lebih singkat. Sehingga cara ini dapat menekan biaya produksi dan mampu meningkatkan keuntungan petani.

 

Mengenal Jenis-jenis Herbisida

Tingginya minat dalam bidang budidaya tanaman membuat para pelaku pertanian terus mengadakan perkembangan untuk menciptakan inovasi dalam mendukung keberhasilan usaha pertanian tersebut. Salah satu contoh inovasi tersebut diwujudkan dalam munculnya banyak sekali jenis herbisida yang beredar di pasaran, baik itu merk, bahan aktif, cara kerja maupun karakterisitik saat pengaplikasiannya. Berdasarkan karakterisitik pengaplikasiannya, ada 3 macam jenis Herbisida yang beredar saat ini yaitu sebagai berikut :

a). Herbisida pratumbuh (pre-emergence herbicides), yaitu herbisida yang diaplikasikan sebelum gulma tumbuh

b). Herbisida pasca tumbuh (post-emergence herbicides), yaitu herbisida yang diaplikasikan setelah gulma tumbuh

c). Herbisida pascatumbuh awal (early post-emergence herbicides), yaitu herbisida yang diaplikasikan pada awal pertumbuhan biji-biji gulma.

 

Selain itu, Herbisida juga ada yang dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan ke efektivitasannya setelah digunakan. Diantaranya adalah herbisida selektif dan non-selektif.

  • Herbisida non selektif adalah jenis herbisida yang dapat membunuh seluruh jenis tumbuhan/gulma dan dapat meracuni tanaman utama. Herbisida ini dinilai kurang tepat karena bisa membuat tanaman itu juga ikut teracuni. Contoh herbisida non-selektif yaitu glifosat, paraquat dan sulfosat.
  • Sedangkan jenis lainnya adalah herbisida selektif adalah herbisida yang mampu bekerja secara selektif atau dapat mengendalikan gulma tanpa membunuh tanaman utama. Sebagai contoh herbisida selektif yaitu herbisida yang berbahan aktif adalah ametrin atau atrazin.

 

Dan jika dilihat berdasarkan cara kerjanya Herbisida akan dibagi menjadi herbisida kontak dan herbisida sistemik.

  • Herbisida kontak adalah jenis herbisida yang membunuh jaringan gulma yang terkena langsung oleh cairan herbisida tersebut. Contoh herbisida kontak yaitu paraquat diklorida
  • Herbisida sistemik adalah herbisida yang dapat masuk ke jaringan tumbuhan dan ditranslokasikan keseluruh bagian tumbuhan. Dan contoh herbisida sistemik yaitu glifosat.

 

Cara Budidaya Tanaman Jagung tanpa Matun

Dari sekian banyak jenis herbisida diatas, Jenis herbisida kontak, sistemik dan herbisida non selektif pada dasarnya dapat digunakan untuk mengendalikan gulma pada tanaman jagung.

Tetapi Anda harus  mampu mengaplikasikannya dengan lebih hati-hati agar larutan herbisida tidak mengenai tanaman jagung sebagai tanaman utama budidaya. Adapun tehnik seperti teknik direct spray yang menggunakan corong atau sungkup. Cara tersebut masih kurang efektif karena waktu aplikasinya yang relatif lama.

 

Herbisida selektif khusus untuk gulma pada tanaman jagung tersebut ada yang memiliki bahan aktif tunggal yaitu ametrin dan herbisida berbahan aktif ganda yaitu campuran atrazin dan mesotrion, contohnya herbisida Kayabas 555 SC dan Calaris 550 SC.

Penerapan atau cara mengaplikasikan herbisida selektif pada tanaman jagung bisa dengan disemprotkan pada saat tanaman jagung sudah berumur 7 sampai 14 hari setelah masa tanam atau saat tanaman jagung sudah mempunyai 3-4 helai daun dengan takaran dosis 1,5 liter per hektar dan volume semprot 400 – 600 liter per hektar.

 

Untuk lebih jelasnya ikuti langkah berikut ini dalam mengaplikasikan Herbisida Selektif pada Tanaman Jagung agar Gulma Tidak Cepat Tumbuh :

  1. Lakukan penyemprotan herbisida sistemik 10 atau 7 hari sebelum penanaman,
  2. Penyemprotan sebaiknya dilakukan sebelum gulma berbunga,
  3. Atau lakukan penyemprotan dengan menggunakan herbisida kontak, pada saat 1 hari sebelum tanam lahan dimulai
  4. Aplikasi herbisida selektif dapat dilakukan 7 atau 4 hari setelah tanam atau ketika tanaman jagung memiliki 3-4 helai daun. Maksimum gulma setinggi 10 cm atau memiliki 4 helai daun.

 

Demikian artikel kami tentang “PENGGUNAAN PESTISIDA PADA TANAMAN JAGUNG UNTUK MENGENDALIKAN GULMA ATAU RUMPUT LIAR “. Semoga bermanfaat

Cara Budidaya Tanaman Bawang Daun Dengan Sistem Yang Sederhana

Cara Budidaya Tanaman Bawang Daun Dengan Sistem Yang Sederhana

Cara Budidaya Tanaman Bawang Daun Dengan Sistem Yang Sederhana

 Ada sebuah studi yang mengungkapkan bahwa  tanaman bawang daun adalah salah satu jenis komoditas sayuran yang berpotensi besar untuk dikembangkan secara intensif dan komersial. Hal ini disebabkan banyaknya kebutuhan pada masyarakat yang menggunakan bawang daun sebagai bahan penyedap rasa dan juga pengobatan. Selain itu, bawang daun juga memiliki potensi pasar yang baik serta nilai ekspor yang cukup tinggi.

Cara Budidaya Tanaman Bawang Daun Dengan Sistem Yang Sederhana

Tidak seperti budi daya bawang putih dan bawang merah yang memanfaatkan umbinya untuk diambil hasilnya, bawang daun justru memanfaatkan bagian daunnya untuk dipanen hasilnya. Bawang daun yang banyak dibudidayakan di Indonesia ada tiga macam, yaitu:

  1. Bawang prei dengan nama ilmiah Allium Porum L. Memiliki ciri tidak berumbi dan daun yang lebih lebar dibanding daun bawang merah dan bawang putih, memiliki pelepah yang tumbuh panjang dan bagian daun berbentuk pipih.
  2. Kucai dengan nama latin Allium schoercoprasum), mempunyai daun kecil, panjang, rongga di dalam daun kecil dan berwarna hijau, serta berumbi kecil.
  3. Bawang bakung atau bawang semprong (Allium fistulosum), berdaun bulat panjang dengan rongga dalam daun seperti pipa, kadang-kadang berumbi.

Jika dilihat dari kondisi tempat tumbuhnya Bawang daun sendiri cocok untuk ditanam pada dataran rendah maupun dataran tinggi, yaitu dataran dengan ketinggian 250-1500 mdpl. Tetapi kebanyakan yang ditemui daun bawang yang ditanam pada dataran rendah maka anakan bawang daun yang dihasilkan tidaklah terlalu banyak seperti daun bawang yang ada pada dataran tinggi.

Tanaman ini menghendaki pH netral (6,5-7,5) dengan jenis tanah andosol (bekas lahan gunung berapi) atau tanah lempung berpasir. Selain itu, daerah dengan curah hujan 150-200 mm/tahun dan suhu harian 18-25oC cocok untuk pertumbuhan bawang daun.

Untuk lebih jelasnya ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan agar tanaman bawang daun bisa tumbuh maksimal yaitu ;

  • Baik daerah dataran rendah ataupun dataran tinggi adalah tempat yang cocok untuk bawang daun tumbuh, dengan syarat ketinggian antara 250-1500 m dpl,
  • Daerah dengan curah hujan 150-200 mm/tahun
  • Kondisi suhu harian yang cocok untuk bawang daun adalah 18-25 derajat Celcius
  • Tingkat kesamaan tanah dengan  pH netral (6,5-7,5)
  • Dan jenis tanah yang sesuai adalah Andosol (bekas lahan gunung berapi) atau tanah lempung berpasir.

 

CARA BUDIDAYA TANAMAN BAWANG DAUN

  1. Persiapan Benih Bawang Daun

Ada 2 cara pengembangan yang bisa diterapkan ke bawang daun yaitu secara generatif dengan biji, dan cara anakan dengan stek tunas. Tunas anakan bisa diperoleh dari memisahkan anakan yang sehat dari induknya. Benih bawang yang berasal dari biji mempunyai kelemahan yaitu waktu panen yang lebih lama dibandingkan dengan benih yang berasal dari tunas anakan.

  1. Cara Semai Bibit Bawang Daun

Jika menggunakan cara anakan, maka tunas dari anakan bisa langsung di tanaman. Namun jika memilih bibit dari Biji maka lebih baik lakukan langkah Penyemaian terlebih dahulu. Dengan cara sebagai berikut :

  • menyiapkan media semai yang sudah di campur dengan pupuk kandang dan tanah (1:1) yang telah digemburkan.
  • Sebar biji secara merata kemudian ditutup dengan lapisan tanah tipis (dengan ketebalan 0,5-1 cm)
  • Lakukan penyiraman dengan air bersih
  • Bibit siap dipindahkan ke lapangan bila telah mempunyai 2-3 helai daun.
  1. Persiapan Lahan dan Penanaman Budidaya Bawang Daun

  • Pertama cangkul lahan dengan kedalamam 30-40 cm
  • Setelah proses mencangkul selesai, tambahkan pupuk kandang. Hal ini dilakukan agar tanah menjadi gembur untuk pertumbuhannya.
  • Kemudian siapkan bedengan dengan lebar 1-1,2 m dengan panjang sesuai dengan kondisi lahan.
  • Buat Parit antar bedengan dibuat dengan kedalaman 30 cm dan lebar 30 cm.
  • Pembuatan parit sangat diperlukan agar drainase lancar karena bawang daun tidak menyukai adanya genangan air.
  • Atur jarak tanam yang digunakan 20 cm x 25 cm, 25 cm x 25 cm atau 20 cm x 30 cm.
  • Buat lubang tanam kecil dan bibit atau tunas anakan ditanam dengan posisi tegak lurus dan ditimbun dengan tanah kembali dan disiram.
  1. Pemeliharaan dan Perawatan Bawang Daun

  • Penyiangan

Proses penyiangan bisa dilakukan saat proses persiapan lahan sebelum tanam agar Gulma Tidak ikut tumbuh dan berkembang saat bawang daun mulai di tanam. Selain itu diperlukan penimbunan pada pangkal batang. Langkah ini diperlukan untuk mendapatkan warna putih pada batang semu bawang daun.

Baca Juga : Beberapa Jenis Hama dan Penyakit Utama Tanaman Cabai Saat Musim Hujan

Bawang daun berkualitas mempunyai batang semu yang berwarna putih dengan panjang kurang lebih 1/3 keseluruhan tanaman. Batang semu yang berwarna putih rasanya lebih enak dibandingkan dengan batang berwarna hijau. Penimbunan batang sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk menghindari pembusukan batang dan daun terutama saat tanaman masih muda.

  • Penyiraman

Proses yang tidak boleh dilewatkan adalah penyiraman terutama saat menanam bawang daun saat musim kemarau. Sedangkan saat musim hujan kita harus lebih memperhatikan drainase yang dapat berjalan dengan baik sehingga tidak ada genangan air dilahan.

  • Pemupukan terdiri dari pupuk kandang yang diberikan pada saat pengolahan tanah dengan dosis 10-15 ton/ ha. Pupuk lain yang diperlukan adalah pupuk Urea 200 kg/ha yang diberikan 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur 21 hari (setengah dosis) dan sisanya pada saat tanaman berumur 42 hari. Pupuk SP 36 dan KCl juga diberikan dua kali seperti pupuk Urea, dengan dosis pemupukan pertama SP 36 50 kg dan KCl 50 kg, dan pemupukan kedua SP 36 50 kg dan KCl 25 kg. Pemupukan dilakukan dengan membuat larikan kurang lebih 5 cm di kiri dan kanan batang, dan menaburkan pupuk pada larikan tersebut dan menimbunnya kembali dengan tanah.
  1. Pengendalian Hama dan Penyakit Bawang Daun

Hama yang banyak ditemukan di pertanaman bawang daun antara lain adalah Agrotis sp. (menyebabkan batang terpotong dan putus sehingga tanaman mati), Spodoptera exigua (ulat bawang yang memakan daun bawang daun), dan Thrips tabaci (menghisap cairan daun. Sedangkan usah untuk pengendalian hama seperti ulat bawang dapat dilakukan secara mekanis yaitu  dengan mengumpulkan kelompok telur dan memusnahkannya. Sedangkan pengendalian dengan menggunakan larutan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya.

  1. Cara Panen dan Pascapanen Bawang Daun

Pada umumnya tamanam bawang daun siap panen pada usia 2 bulan setelah ditanam. Potensi hasil berkisar antara 7 sampai 15 ton per hektare. Cara panen dilakukan dengan mencabut seluruh bagian tanaman termasuk akar, buang akar dan daun yang busuk atau layu. Apabila bawang daun akan ditanam kembali pada pertanaman berikutnya, maka dilakukan pemilihan tunas anakan yang sehat dan bagus pertumbuhannya kemudian dipisahkan dari bagian tanaman yang hendak dijual.

Demikian “CARA BUDIDAYA TANAMAN BAWANG DAUN DENGAN SISTEM YANG SEDERHANA”. Semoga bermanfaat.

Mengenal Tehnik Budidaya Tumpangsari Jagung Dan Kedelai Agar Mendapat Untung Yang Berlipat

Mengenal Tehnik Budidaya Tumpangsari Jagung Dan Kedelai Agar Mendapat Untung Yang Berlipat

Mengenal Tehnik Budidaya Tumpangsari Jagung Dan Kedelai Agar Mendapat Untung Yang Berlipat

Menurut Wikipedia tehnik tumpangsari merupakan suatu sistem pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Pada dasarnya tumpang sari dapat dilakukan dengan cara menanam dua jenis tanaman yang berbeda seperti jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah dalam satu waktu yang hampir bersamaan.

Dalam kepustakaan, hal ini dikenal sebagai double-cropping. Penanaman yang dilakukan segera setelah tanaman pertama dipanen (seperti jagung dan kedelai atau jagung dan kacang panjang) dikenal sebagai tumpang gilir (relay cropping).

Dalam menjalankan tehnik budidaya tumpangsari bisa dilakukan pada jenis tanaman tunggal (monokultur) suatu tanaman perkebunan besar atau tanaman kehutanan sewaktu tanaman pokok masih kecil atau belum produktif. Hal ini dikenal sebagai tumpang sela (intercropping). Jagung atau kedelai biasanya adalah tanaman sela yang dipilih.

Mengenal Tehnik Budidaya Tumpangsari Jagung Dan Kedelai Agar Mendapat Untung Yang Berlipat
Ada yang menjelaskan bahwa tehnik tumpangsari bisa memberikan beberapa kelebihan seperti :

  • Pola penanaman tumpang sari dapat memaksimalkan lahan dibandingkan pola monokultur karena:
  • Hasil panen pada lahan tidak luas bisa beberapa kali dengan usia panen dan jenis tanaman berbeda,
  • petani mendapat hasil jual yang saling menguntungkan atau menggantikan dari tiap jenis tanaman berbeda dan,
  • risiko kerugian dapat ditekan karena terbagi pada setiap tanaman.
  • Penggunaan pupuk majemuk dalam tumpang sari lebih menguntungkan karena lebih murah dibandingkan dengan pupuk tunggal yang pemakaiannya sekali.

Dan saat ini kita ada pada kondisi yang dimana produksi jagung mengalami penurunan karena minimalnya lahan yang tersedia untuk memproduksi jagung. Namun seiring kemajuan teknologi, model pertanaman tumpangsari (intercrop) banyak mendapat perhatian. Salah satu diantaranya adalah tumpangasri jagung dengan tanaman kedelai pada sistem tanam legowo.

Tumpangsari jagung dan kedelai juga bertujuan untuk mengatasi persaingan penggunaan lahan untuk tanaman jagung dan kedelai secara monokultur.

Baca Juga : Beberapa Jenis Hama dan Penyakit Utama Tanaman Cabai Saat Musim Hujan

Mengingat bahwa harga jagung relatif baik dan keunggulan komparatif tanaman jagung relatif lebih tinggi dibanding tanaman kedelai, maka dalam sistem tumpangsari jagung-kedelai, produktivitas tanaman jagung minimal sama dengan tanpa tumpangsari.

Kombinasi tumpangsari jagung-kedelai dapat diterapkan pada sistem tanam jajar legowo 2 : 1 dimana dua baris tanaman dirapatkan (jarak tanam antar baris), sehingga antara setiap dua baris tanaman terdapat ruang untuk pertanaman kedelai.

Tingkat produktivitas jagung diperoleh pada pertanaman jajar legowo tidak berbeda bahkan cenderung lebih tinggi (karena adanya pengaruh tanaman pinggir/border) dibanding pertanaman baris tunggal (tanam biasa).

Untuk memanfaatkan ruang kosong pada lahan dan meningkatkan pendapat petani maka bisa memanfaatkan baris legowo yang kosong untuk ditanami 2 baris tanaman tanaman kedelai tanpa menurunkan.

Dari Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelai yang ditanam di antara tanaman jagung akan diperoleh 50% dari hasil kedelai yang ditanam sistem monokultur. Penanaman tanaman kedelai sebagai tumpangsari pada tanaman jagung juga dapat memperbaiki kesuburan lahan karena adanya fiksasi N dibanding sistem monokultur jagung.

Lahan Pengembangan Kombinasi Tumpangsari dan Jajar Legowo.

Asalkan ketersediaan sumber air cukup, baik pada lahan yang kering ataupun lahan pada sawah sistem tumpangsari jagung dan kedelai ini bisa diterapkan dengan menggunakan cara tanam jajar legowo.

Mengingat maksud penanaman sistem logowo ini bukan semata untuk meningkatkan hasil, maka penerapannya diutamakan dan dikaitkan dengan upaya peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Dengan peningkatan IP maka hasil panen dapat meningkat dan pengelolaan lahan menjadi lebih produktif.

CARA BUDIDAYA TUMPANGSARI JAGUNG – KEDELAI

A. Cara Penanaman JAGUNG

  • Memilih dan hanya menggunakan varietas hibrida bertipe tegak, Bima-2, Bima-4, Pioner-21, Bisi-16 dan lain-lain.
  • Menyiapkan Jumlah benih yang dibutuhkan 15 – 17 kg/ha
  • Pastikan bahwa benih yang ditanam mempunyai daya berkecambah (>90%) dan vigor benih yang baik (perhatikan masa daluwara benih)
  • Lakukan penggemburan tanah dengan cara pencangkulan pada saat pengolahan lahan sebelum proses penanaman.
  • Tanaman jagung ditanam 1 biji per lubang dengan sistem tanam legowo/double row, kemudian ditutup dengan pupuk organik 1 genggam
  • Buat jarak tanam pada tanaman jagung dengan menggunakan sistem legowo dengan ukuran jarak (100-50) cmx 20 cm atau (110-40) cm x 20 cm

B. Proses pemberian pupuk dasar pada saat persiapan lahan sistem tumpangsari jagung dan kedelai

Pada lahan sawah menggunakan takaran 350 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian harus diberikan 2 kali, dengan takaran sebagai berikut :

  • Pemberian pupuk pertama atau pupuk dasar pada umur 7-10 hari setelah tanam, dengan takaran sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar.
  • Pemupukan kedua dapat dilakukan pada saat tanaman berusia 35 sampai 45 hari setelah tanam, dengan takaran 250 kg urea per hektar. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah.

Pada Lahan kering juga bisa diberikan 2 kali dengan total takaran 325 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya dan menggunakan takaran sebagai berikut :

  • Pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar. Pemupukan kedua pada umur 35-45 hst dengan takaran 20 kg urea + 100 kg phonska/pupuk majemuk lannya. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman di tutup dengan tanah.

C. Proses Penyiangan adalah suatu usaha untuk mengendalikan gulma atau tanaman liar yang tumbuh menjadi tanaman pesaing bagi tanaman utama.

Selain itu lakukan pula proses pembumbunan yang dilakukan dengan cangkul, yaitu menimbun area perakaran tanaman jagung dengan tanah. Pembumbunan dilakukan segera setelah emupukan dan penyiangan.

D. Proses panen dapat dilakukan apabila kulit jagung atau kelobot sudah kering dan lapisan hitam pada pangkal biji (black layer) telah terlihat. Sisa batang tanaman (biomas) dijadikan kompos atau dapat digunakan sebagai mulsa diantara baris tanaman untuk pertanaman berikutnya.

E. Menanam KEDELAI

  • Pilih varietas kedelai yang toleran dengan naungan seperti Dena-1 atau Dena-2. Sedangkan jumlah benih yang dibutuhkan 15- 20 kg/ha.
  • Campur kan benih dengan inokulan Rhizobium sp (nodulin, rhizogin dll) dengan takaran 5 kg benih per 10 g (1 saset), caranya adalah benih dibasahi kemudian ditiriskan, inokulan ditaburkan dan diaduk merata hingga merekat dan diperkirakan semua benih mendapatkan inokulan.
  • Lakukan proses penanaman. Hindari terkena cahaya matahari langsung pada benih yang telah dicampur dengan nodulin.
  • Tanam benih diantara barisan legowo yang ada pada tanaman jagung dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, sehingga terdapat 2 barisan tanaman kedelai antara setiap barisan legowo jagung.
  • Penanaman kedelai dapat bersamaan dengan penanaman jagung atau 1-7 hari setelah penanaman jagung selesai dilakukan.
  • Pemberian pupuk diterapkan dengan menggunakan takaran 50 kg urea + 50 kg phonska/ha saat usia tanam 7- 10 hari setelah masa tanam (bersamaan dengan pemupukan pertama jagung apabila tanamnya bersamaan)
  • Kedelai bisa di panen sebelum polong pecah, yaitu saat polong berwarna coklat. Kedelai sebaiknya dipanen lebih awal dari jagung. Biomas tanaman atau sisa-sisa batang tanaman kedelai bisa dimanfaatkan dan dijadikan bahan untuk membuat pupuk organik yaitu kompos.

Demikian artikel kami tentang “MENGENAL TEHNIK BUDIDAYA TUMPANGSARI JAGUNG DAN KEDELAI AGAR MENDAPAT UNTUNG YANG BERLIPAT”. Semoga informasi dari kami bisa bermanfaat dan selamat mencoba.

Budidaya Buah Blewah Untuk Hasil Panen Yang Melimpah

Budidaya Buah Blewah Untuk Hasil Panen Yang Melimpah

Budidaya Buah Blewah Untuk Hasil Panen Yang Melimpah

Buah blewah merupakan jenis buah yang masuk dalam suku cucurbitaceae atau sejenis keluarga dengan labu, timun, melon, semangka dan sebagainya. Tetapi jika dibandingkan dengan melon dan semangka, budidaya buah blewah perawatannya memang lebih mudah. Buah blewah ini biasanya ditanam pada saat musim kemarau sebab blewah sendiri tidak tahan terhadap air yang berlebih. Jadi jika ada kondisi tanaman buah blewah mendapatkan air yang jumlahnya berlebih maka rasa dan aroma buahnya kurang nikmat.

Atau lebih terasa hambar, tidak manis dan segar. Selain itu jika buah blewah mulai ditanam di musim penghujan maka persentase produksi buah yang tumbuh dengan baik sangat sedikit.

Untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah, dan maksimal maka saatenanam buah blewah juga harus memenuhi syarat – syarat tertentu. Seperti tempat yang cocok untuk Blewah bisa dibudidayakan adalah pada lahan yang ada di dataran rendah, menengah hingga dataran tinggi. Tanaman blewah juga membutuhkan sinar matahari secara penuh sepanjang hari jadi lebih baik tidak meletakkan tanaman blewah pada lahan yang terlindung agar pertumbuhannya bisa maksimal.

Baca Juga : Beberapa Jenis Hama dan Penyakit Utama Tanaman Cabai Saat Musim Hujan

Jika dibandingkan dengan tanaman jenis labu-labuan lainnya, blewah tergolong yang paling bandel. Tanaman blewah blewah mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dan cuaca tertentu. Yang harus diperhatikan lagi dalam budidaya buah blewah adalah adanya ketersediaan unsur hara didalam tanah, agar tanaman dapat tumbuh optimal dan berbuah banyak. pH tanah yang ideal untuk pertumbuhan blewah adalah netral, yaitu antara 6,0 – 7,0.

Tahapan-tahapan BUDIDAYA BLEWAH

 

  1. Persiapan lahan untuk menanam tanaman blewah

  • Menentukan lokasi yang memiliki tekstur tanah yang keras dan padat. Tanaman blewah juga tidak menyukai lahan yang becek atau terlalu lembab.
  • Pembersihan gulma dan sisa tanaman yang di tanaman sebelumnya. Agar Gulma dan hama tidak berkembangbiak kembali saat tanaman blewah mulai ditanam.
  • Lahan sebaiknya dibajak atau dicangkul terlebih agar tanah menjadi lebih gembur
  • Membuat bedengan yang sama persis dengan bedengan untuk budidaya semangka. Yakni bedengan dibuat ganda dengan parit kecil diantara bedengan. Lebar bedengan masing-masing 60 – 80 cm dan lebar parit 40 cm.
  • Mengatur jarak antar bedengan 2 – 3 meter, tempat ini digunakan untuk tempat batang tanaman blewah menjalar.
  • Pembuatan bedengan dengan sistem ini akan memudahkan kita dalam melakukan pemeliharaan dan perawatan tanaman.
  1. Pemberian Pupuk Dasar TANAMAN BLEWAH

Setelah selesai membuat bedengan selanjutnya lahan diberi pupuk dasar. Pupuk dasar yang digunakan antara lain kapur pertanian/dolomit, pupuk kandang / kompos, NPK atau campuran TSP/SP36, KCL dan ZA. Sebelum penaburan dolomit cek terlebih dahulu pH tanah, jika pH dibawah 6.0 taburkan dolomit sesua dengan kebutuhan.

Tetapi jika pH menunjukkan angka 6.0 – 7.0 dolomit tidak perlu diberikan. Biarkan tersiram air hujan, satu minggu kemudian taburkan 1 kg pupuk kandang dan 250 gram pupuk NPK per lubang tanam. Tutup bedengan menggunakan MULSA PLASTIK agar pertumbuhan bisa optimal dan mencegah tumbuhnya gulma. Buat lubang tanam dengan jarak antara 60 – 70 cm. Bibit ditanam 10 – 15 hari setelah panaburan pupuk dasar.

  1. Persiapan Bibit dan Penyemaian Benih BLEWAH

  • Bibit bisa dibuat sendiri menggunakan buah blewah yang sudah cukup tua, memiliki bentuk sempurna dan buah blewah yang sehat.
  • Bisa juga menggunakan bibit hibrida yang bisa diperoleh di toko pertanian, misalnya Aruna, Baladewa, Nimas, Bisma, Salvo, Hikmah dan sebagainya.
  • Pilih varietas bibit tanaman blewah yang berkualitas baik.
  • Benih blewah bisa ditanam langsung kelubang tanam, 1 atau 2 benih perlubang.
  • Atau bisa juga dengan dengan melakukan proses Penyemaian dengan polybag semay atau tray semai terlebih dahulu.
  • Setelah bibit berumur 10 – 14 hari bibit blewah siap dipindah tanam kelahan.
  1. Cara Penanaman BIBIT BLEWAH

  • Buat lubang tanam dan kemudian disiram terlebih dahulu sampai basah.
  • Kemudian ditugal dengan kedalaman sesuai dengan ukuran polybag semai.
  • Ambil dan pilih bibit blewah yang sudah berumur 10 atau 14 hari dan siap ditanam pada lahan.
  • Pilihlah benih yang sehat, memiliki vigor yang kuat dan tidak cacat.
  • Lepas bagian Polybag semai dengan hati-hati agar media semai tidak pecah dan bibit tidak stres.
  • Masukkan kelubang tanam sambil ditekan sedikit tanah disekitar lubang tanam agar bibit dapat berdiri kokoh.
  • Penanaman bibit sebaiknya dilakukan pada sore hari,
  • Siram bibit dengan air bersih secukupnya setelah semua proses penanaman selesai.
  1. Perawatan dan Pemeliharaan TANAMAN BLEWAH

Pada dasarnya cara merawat tanaman blewah sama halnya dengan cara perawatan pada tanaman semangka. Yang meliputi proses penyiraman, penyulaman dan Penyiangan. Berikut ini cara merawat tanaman blewah ;

  • Penyiraman dapat dilakukan sejak tanaman buah berumur umur 0 – 10 hari. Lakukan penyiraman setiap hari dengan air bersih dan takaran secukupnya. Karena tanaman blewah tidak terlalu suka dengan tanah yang terlalu becek dan lembab. selanjutnya penyiraman dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
  • Proses penyulaman bisa langsung dilakukan saat terdapat tanaman yang mati atau diganggu hama. Penyulaman bisa dilakukan sampai tanaman berumur 21 hari setelah tanam.
  • Penyiangan adalah suatu proses mencabuti rumput liar atau gulma yang tumbuh pada lubang tanam dan parit.
  1. Cara Pemupukan Susulan TANAMAN BLEWAH

Pemupukan susulan dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman agar tanaman blewah dapat tumbuh optimal dan berbuah banyak. Aplikasinya bisa dilakukan dengan cara dikocor atau ditabur. Pupuk yang digunakan antara lain pupuk NPK, KCL, TSP atau SP36, dan ZA. Pemupukan pertama dilakukan ketika tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Pupuk diaplikasikan dengan cara dikocor dengan dosis rendah. Karena blewah termasuk dalam keluarga cucurbitaceae, seperti semangka, timun atau labu maka pemupukan susulan bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti pemupukan semangka.

  1. Cara Pengendalian Hama dan Penyakit BLEWAH

Tanaman blewah juga berpotensi diserang berbagai macam hama dan penyakit yang sering ditemukan pada semua tanaman dari keluarga cucurbitaceae. cara pengendaliannya pun juga sama.

Beberapa hama yang sering menyerang tanaman blewah antara lain jangkrik, oteng-oteng, ulat grayak, ulat buah, lalat buah. Sedangkan penyakit pada tanaman blewah antara lain penyakit layu, penyakit bercak daun, busuk daun dan sebagainya.

Pengendalian hama tanaman blewah bisa dilakukan dengan cara berikut :

  • Melakukan proses penyemprotan larutan insektisida.
  • Gunakan insektisida yang sesuai dengan jenis hama yang menyerang tanaman.
  • Cara untuk pengendalian jenis penyakit blewah bisa dilakukan dengan penyemprotan fungisida.

Itulah beberapa cara yang bisa Anda lakukan dalam budidaya tanaman blewah. Tetapi sebelum melakukan penanaman blewah ada lebih baiknya Anda melakukan survei kecil apakah di daerah Anda buah blewah berpotensi untuk dijual atau tidak. Jkka hanya dicari pada saat bulan ramadhan ada lebih baiknya Anda memulai menanam 2 bulan sebelum bulan ramadhan.

Demikian artikel kami tentang “BUDIDAYA BUAH BLEWAH UNTUK HASIL PANEN YANG MELIMPAH ” Semoga bermanfaat.

 

Tips Jitu Dalam Mengatasi Dan Mengendalikan Gulma Yang Merugikan Pertanian

Tips Jitu Dalam Mengatasi Dan Mengendalikan Gulma Yang Merugikan Pertanian

TIPS JITU DALAM MENGATASI DAN MENGENDALIKAN GULMA YANG MERUGIKAN PERTANIAN

Menjalankan setiap usaha pasti akan sering menemui berbagai masalah. Tak terkecuali usaha dalam bidang pertanian terutama yang dilakukan pada lahan persawahan. Salah satu masalah serius yang sering dihadapi para petani adalah tumbuhnya gulma pada lahan pertanian. Gulma sendiri adalah sejenis tanaman liar yang sangat merugikan tanaman utama untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan tanaman gulma yang tumbuh pada area pertanian akan menjadi tanaman pesaing bagi tanaman utama dalam memperoleh sinar matahari, nutrisi, air dan unsur hara dalam tanah. Tentu hal ini akan sangat merugikan dan akibat terburuk ya bisa membuat tanaman utama mati atau layu.

Tips Jitu Dalam Mengatasi Dan Mengendalikan Gulma Yang Merugikan Pertanian

Masalah tumbuhnya gulma akan lebih serius jika memasuki musim penghujan. Yang mana tanaman sejenis gulma akan lebih tumbuh dengan cepat dan lebih agresif. Untuk itu pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara lengkap mengenai jenis tanaman gulma dan cara mengendalikan atau mengatasi gulma agar tidak mengganggu proses pertanian yang sedang dijalankan.

Jenis gulma atau tanaman pengganggu sendiri dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan bentuk daun yang dimiliki. Dan biasa dikenal dengan Gulma rumput padi berdaun lebar, dan gulma rumput padi berdaun sempit. Untuk penjelasan lengkapnya sebagai berikut :

  • Gulma Rumput Padi Daun lebar

Adanya gulma di sekeliling tanaman padi bukan hanya menjadi tanaman pesaing saja namun juga bisa menjadi penyebab jumlah populasi hama dan penyakit tanaman tumbuh dengan cepat. Keberadaan gulma yang dibiarkan tumbuh pada pertanaman padi bisa menjadi tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman padi. Beberapa jenis gulma yang termasuk Gulma daun lebar adalah kiyambang, genjer dan enceng padi/wewehan.

  • Gulma Rumput Padi Daun Sempit

Gulma yang sering ditemukan pada lahan padi sawah pada umumnya memiliki karakter yang tahan terhadap air dan kekeringan. Gulma berdaun sempit, misalnya teki, rumput banto, JAWAN atau rumput padi-padian (rumput yang mirip dengan tanaman padi).

Gulma tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman padi sawah menjadi kerdil, menguning dan sebagai tempat inang OPT (organisme pengganggu tanaman) untuk berkembang biak.

Setelah mengetahui berbagai jenis gulma yang biasa tumbuh di area persawahan maka kita juga wajib tahu bagaimana cara mengatasi atau mengendalikan gulma secara tepat dan benar. Adapun  cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gulma pada lahan padi, antara lain:

  • Penyiangan secara manual menggunakan tangan

Yaitu suatu usaha mencabut langsung tanaman gulma atau bisa disebut juga dengan matun. Untuk cara ini Anda harus lebih mempersiapkan tenaga dan waktu yang lebih intens. Dan bahkan biaya jika Anda menggunakan tenaga bantuan dari orang lain.

  • Menggunakan alat penyiang gulma (landak atau gasrok)

Cara ini juga masih terbilang cara tradisional dan sudah mulai banyak ditinggalkan karena memerlukan banyak tenaga dan kadang-kadang juga bisa mengakibatkan kerusakan pada perakaran padi yang sedang tumbuh.

  • Penggunaan larutan herbisida.

Penggunaan cairan herbisida merupakan suatu cara yang paling mudah dan lebih efisien saat ini. Dan Cara ini terbilang paling populer digunakan daripada cara penyiangan manual.

Baca Juga : Beberapa Jenis Hama dan Penyakit Utama Tanaman Cabai Saat Musim Hujan

Namun agar lebih jelasnya berikut ini adalah Tips Ampuh mengendalikan gulma padi :

  1. Hanya menggunakan varietas padi yang tahan bersaing dengan gulma.
  2. Pengendalian gulma secara langsung dengan menggunakan cara manual atau matun.
  3. Pengendalian gulma dengan cara biologis yaitu dengan memanfaatkan itik atau bebek dengan menempatkan anak itik pada lahan sawah selama beberapa hari. Anak-anak itik tersebut membantu mengendalikan gulma dengan cara memakannya.
  4. Saat sebelum menanam padi dan pada proses persiapan lahan maka sekalian dilakukan Pembersih an yrrhadapan gulma yang mulai tumbuh sehingga tidak akan ada gulma yang tumbuh kembali.
  5. Dengan caraenggenangi lahan dalam ketinggian tertentu bisa menghambat tumbuhnya rumput liar dan teki.
  6. Menggunakan alat penyiangan gulma yaitu metrok yang berbentuk seperti pisau dan di design khusus untuk mengerok gulma pada lahan padi. Metrok sendiri merupakan alat kored yang berfungsi untuk membersihkan gulma atau rumput liar.
  7. Memanfaatkan pupuk briket yang dibenarkan ke dalam tanah dan dapat mengurangi kemungkinan dimanfaatkan oleh gulma.
  8. Pemanfaatan azolla pinnata sebagai mulsa hidup yang mengapung dipermukaan air. Keberadaan azolla yang menutupi permukaan air dapat menghambat perkecambahan gulma yang tumbuh dari biji. Selain iti azolla juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hijau untuk menyuburkan tanaman.
  9. Menggunakan kumbang baja hitam (Holtica cyanea) untuk mengendalikan gulma. Larva dan imago dari kumbang tersebut akan memakan daun gulma J. repens, J. octavalfis, dan J. linearis.

 

Mengendalikan GULMA Padi Sawah Menggunakan Herbisida

Sedangkan cara pengendalian gulma yang saat ini banyak dilakukan adalah pengendalian gulma dengan memanfaatkan herbisida.

Banyak sekali jenis herbisida yang bisa digunakan untuk mengendalikan gulma pada padi sawah. Seperti beberapa macam herbisida berikut :

  1. Herbisida Bahan Aktif Oksifluorfen

Herbisida yang memiliki bahan aktif oksifluorfen merupakan herbisida kontak selektif yang bisa menghambat tumbuhnya gulma dengan mematikan biji gulma, tentunya jika digunakan sesuai petunjuk. Herbisida ini mampu mengendalikan jenis gulma berdaun lebar ataupun gulma berdaun sempit.

Adapun merek herbisida bahan aktif oksifluorfen yang bisa Anda temukan adalah :

Herbisida Bahan Aktif Oksifluorfen

Abos 240 EC PT. Advansia Indotani
Bellmac 240 EC PT. Royal Agro Indonesia
Eclipse 240 EC PT. Mekar Warna Sari
Glove 240 EC PT. Nufarm Indonesia
Goal 240 EC PT. Dow AgroSciences Indonesia
Golok 240 EC PT. Deltagro Mulia Sejati
Goltop 240 EC PT. Multi Sarana Indotani
Golma 240 EC PT. Indagro
Gull 240 EC PT. Agrokimindo Kurniabuana
Zeram 250 EC PT. Petrosida Gresik

Berikut ini adalah dosis dan cara mengaplikasikan Herbisida berbahan aktif Oksifluorfen pada Tanaman Padi secara tepat :

1)         Herbisida berbahan aktif Oksifluorfen bisa digunakan dengan dosis antara 15 sampai 25 ml per tangki sprayer (15 liter)

2)         Waktu yang tepat untuk mengaplikasikannya adalah 3 atau 4 hari senrlum bibit tanaman padi mulai di tanam.

3)         Campur Herbisida dengan air bersih, dan semprotkan pada pagi dan sore hari dan biarkan jangan terkena air terlebih dahulu antara 4 sampai 6 jam.

 

  1. Herbisida Bahan Aktif Fenoksaprop-p-etil

Jenis Herbisida selanjutnya adalah Herbisida yang berbahan aktif Fenoksaprop-p-etil. Herbisida ini efektif   dalam bekerja secara kontak dan sistemik saat tanaman gulma purna tumbuh.

Herbisida yang memiliki bahan aktif Fenoksaprop-p-etil dapat digunakan untuk mengendalikan rumput sari betteng, rumput jawan, jajagoan, sari ace-ace, reu, dengkulan.

Dan kelebihan dari Herbisida Fenoksaprop-p-etil ini tidak akan berbahaya atau berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman utama. Penggunaan Herbisida ini bisa secara langsung dengan cara disemprotkan diatas area tanaman padi.

Adapun merk herbisida bahan aktif Fenoksaporp-p-etil yang bisa Anda temukan adalah :

Herbisida Bahan Aktif Fenoksaporp-p-etil

No Merk Herbisida Fenoksaporp-p-etil Produsen
1. Nugras 69 EC PT. Nufarm Indonesia
2 Ricestar 69 EC PT. Bayer Indonesia
3. Ricestar Xtra 89 OD PT. Bayer Indonesia
4. Rumpas 120 EW PT. Bayer Indonesia
5. Sable Plus 120 EW PT. Rainbow Agrosciences
6. Starjos 125 EW PT. Petrosida Gresik

 

b). Dosis, waktu dan cara aplikasi herbisida berbahan aktif Fenoksaporp-p-etil

  1. Herbisida berbahan aktif Fenoksaporp-p-etil bisa digunakan dengan dosis antara 15 sampai 25 ml per tangki sprayer (15 liter)
  2. Waktu yang tepat untuk mengaplikasikannya adalah 3 atau 4 hari senrlum bibit tanaman padi mulai di tanam.
  3. Campur Herbisida dengan air bersih, dan semprotkan pada pagi dan sore hari dan biarkan jangan terkena air terlebih dahulu antara 4 sampai 6 jam.

Demikian artikel kami tentang “TIPS JITU DALAM MENGATASI DAN MENGENDALIKAN GULMA YANG MERUGIKAN PERTANIAN”. Semoga bermanfaat.

Rahasia Agar Tanaman Singkong Bisa Berbuah Banyak

Rahasia Agar Tanaman Singkong Bisa Berbuah Banyak

Rahasia Agar Tanaman Singkong Bisa Berbuah Banyak

Seperti yang kita ketahui bukan hanya padi yang menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Adapula karbohidrat lain yang dijadikan makanan pokok seperti sagu dan singkong. Tanaman singkong sendiri memiliki nama latin Manihot Utilissima yang merupakan jenis tanaman  umbi – umbian. Jenis tanaman umbi – umbian juga terbagi ke berbagai jenis seperti ubi kayu, ketela pohon, dan singkong. Maka tak heran banyak ditemukan lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman singkong ini, baik didataran rendah, dataran sedang bahkan sampai fm dataran tinggi. Ini juga menunjukkan bahwa tanaman singkong memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada lingkungan manapun.

Rahasia Agar Tanaman Singkong Bisa Berbuah Banyak

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 192 juta ton pada tahun 2004. Dan posisi pertama ditempati oleh Nigeria dengan produksi singkong mencapai 52,4 juta ton, lalu disusul oleh Brasil dengan hasil produksi 25,4 juta ton. Sedangkan untuk Indonesia sendiri menempati posisi ketiga dgn 24,1 juta ton, lanjut diikuti Thailand dengan 21,9 juta ton (FAO, 2004). Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Meskipun menempati peringkat ketiga dunia, namun hasil produksi singkong di Indonesia masih dalam golongan rendah, maka untuk mendukung terwujudnya program swasembada pangan nasional perlu adanya upaya untuk meningkatkan produktivitas, kualitas dan daya saing singkong. Meningkatkan produktivitas singkong di Indonesia, memiliki peluang yang tinggi karena lahan pertanian yang masih tersedia cukup luas, lahan yang subur, ketersediaan bahan pupuk organik melimpah dan banyak memiliki varietas singkong unggul. Penggunaan varietas singkong unggul yang sesuai dengan lokasi adalah salah satu cara yang tepat untuk meningkat kualitas dan produksi singkong nasional.

Dan untuk meni gkatkan level singkong ke tingkat yang lebih tinggi banyak sekali olahan makanan modern yang menjadikan singkong sebagai bahan baku utama dari sebuah menu. Mulai dari makanan oleh – oleh daerah tertentu yang memanfaatkan singkong sebagai bolu, ataupun menu yang kaya rasa untuk hidangan di Cafe atau atau restoran. Maka tak jarang jika saat ini permintaan singkong terus meningkat setiap tahunnya.

Untuk itu diharapkan para petani singkong bisa terus meningkatkan produktivitas dari tanaman singkong agar permintaan di pasaran bisa terpenuhi. Maka pada artikel kali ini kami akan berbagi Tips dan Cara Meningkatkan Produktivitas Singkong bisa dilakukan dengan beberapa langkah seperti berikut ini :

  1. Penggunaan varietas UNGGUL

Langkah awal adalah memilih dan menggunakan hanya varietas singkong yang unggul dan sudah disesuaikan dengan kondisi lokasi atau lahan yang akan digunakan. Berdasarkan hasil penelitian (litbang.pertanian.go.id), Varietas Malang 6 dapat memberi hasil lebih dari 100 ton/ha pada jarak pertanaman 1,25 x 1,25 m, dibumbun, dipupuk dengan 500 kg Ponska + 300 kg urea + 5-10 ton pupuk kandang per hektar (Sholihin dkk, 2010). Sebagai contoh adalah penanaman di tanah alfisol di Gunung Kidul, hasil ubikayu dapat meningkat 2-3 kali lipat oleh sistem tumpangsari dengan kacang tanah dan pemberian pupuk urea 150 kg + pupuk Za 100 kg/ha untuk ubikayu dan 25 kg urea untuk kacang tanah.

  1. Cara Pengolahan lahan yang baik

Setelah menentukan varietas unggul langkah selanjutnya adalah pengolahan lahan yang juga menjadi faktor utama terhadap peningkatan produksi singkong. Produksi singkong jauh lebih tinggi jika lahan budidaya diolah dengan baik, sebaliknya singkong tidak akan berproduksi dengan maksimal pada lahan yang keras karena pengolahan lahan yang kurang baik.

  1. Pemberian pupuk secara berimbang

Untuk mendukung peningkatan produktivitas singkong penggunaan pupuk sebagai sumber unsur hara yang berperan penting bagi pertumbuhan dan produksi tanaman singkong. Agar tanaman singkong dapat berproduksi tinggi, pemberian pupuk yang berimbang dan mengandung unsur hara lengkap sangat dianjurkan dan tidak boleh dilewatkan. Laporan dari satu percobaan (litbang.pertanian.go.id) yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pupuk K memberikan hasil ubikayu terendah.

  1. Pemberian pupuk organik

Selain pemberian pupuk K, tanaman singkong juga membutuhkan pupuk organik seperti kompos, pupuk kandang dan pupuk kotoran ternak lainnya. Pupuk organik ini digunakan sebagai sumber unsur hara bagi tanaman singkong. Pemberian pupuk organik yang cukup dapat meningkatkan hasil produksi singkong secara signifikan. Selain itu, pupuk organik dapat membuat tanah jadi lebih gembur sehingga meningkatkan kesuburan tanah tanpa merusak struktur tanah.

  1. Pemeliharaan dan perawatan yang benar

Contoh pemeliharaan dan perawatan yang benar adalah dengan melakukan penyiraman rutin terutama pada saat musim kemarau penyiraman dilakukan untuk menjaga kondisi lingkungan pada tanaman singkong agar tetap lembab dan tidak mengalami kekeringan. Selain itu melakukan penyianngan terhadap gulma dan berbagai rumput liar disekitar lahan sing kon juga perlu dilakukan. Minimal 2 minggu sekali.

  1. Tanam tepat waktu

Agar persentase keberhasilan dan peningkatan produksi singkong lebih tinggi, lakukan penanaman tepat waktu, tidak terlambat atau terlalu cepat. Waktu penanaman singkong yang ideal adalah secepat mungkin ketika musim hujan sudah tiba. Ketika hujan mulai turun, secepatnya bibit singkong ditanam. Bila hujan sudah berlanjut baru ditanam, tanah sudah akan mulai asam sehingga pertumbuhan akar tidak sempurna.

  1. Drainase lahan budidaya yang baik

Tidak hanya sensitif terhadap kondisi kekeringan, tanaman singkong juga sensitif terhadap genangan air. Akar yang selalu tergenang saat hujan turun dapat menyebabkan penyakit busuk akar. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian karena kehilangan hasil yang tidak sedikit. Untuk menjaga produksi singkong dapat optimal usahakan membuat sistem drainase yang baik agar lahan tidak tergenang air terutama  saat musim hujan.

  1. Menggunakan varietas tahan penyakit

Salah satu faktor penyebab menurunnya produksi singkong adalah serangan penyakit layu fusarium. Untuk menghindari penyakit ini upayakan untuk menjaga drainase dengan baik dan menggunakan varietas yang tahan layu fusarium. Varietas tahan fusarium adalah Adira, dan yang agak tahan adalah Litbang UK2 dan UJ5.

  1. Menggunakan varietas tahan tungau merah

Selain jenis penyakit layu fusarium, hama seperti tungau merah (Tetranycchus bimaculatis) juga merupakan ancaman utama kerusakan pada tanaman singkong. Serangan tungau merah dapat menyebabkan kehilangan hasil ubikayu sampai 95%. Untuk menghindari serangan tungau merah, dianjurkan agar menanam ubikayu yang lebih tahan. Di antara klon yang tahan tungau merah adalah Adira 4.

  1. Menggunakan bibit yang sehat

Rupanya penularan hama dan penyakit bukan hanya disebabkan oleh faktor lingkungan saja, tetapi juga apat ditularkan melalui bibit yang digunakan. Jadi untuk menghindari kerusakan tanaman dan menurunnya produksi singkong, sebaiknya gunakan bibit yang sehat dari tanaman yang sehat. Yaitu tanaman yang tidak terserang hama atau penyakit.

Baca Juga : Beberapa Jenis Hama dan Penyakit Utama Tanaman Cabai Saat Musim Hujan

Demikian artikel kami tentang “RAHASIA AGAR TANAMAN SINGKONG BISA BERBUAH BANYAK” . Semoga Bermanfaat.

Sistem Tanaman Minapadi Untuk Meningkat Hasil Produksi Yang Maksimal Dan Untung Yang Meningkat

Sistem Tanaman Minapadi Untuk Meningkat Hasil Produksi Yang Maksimal Dan Untung Yang Meningkat

Sistem Tanaman Minapadi Untuk Meningkat Hasil Produksi Yang Maksimal Dan Untung Yang Meningkat

 Jika kebanyakan orang lebih memilih fokus terhadap satu hal, namun jika kita bisa melakukan kedua hal secara bersamaan dengan peningkatan penghasilan yang lebih banyak tentu sangat menguntungkan. Seperti halnya dengan cara budidaya tanaman padi dengan sistem mina padi. Sistem ini menggunakan nama dari dua suku kata yaitu mina yang berarti ikan dan padi yang merupakan komoditas pertanian terbesar di Indonesia.

Dalam arti lain sistem minapadi merupakan sistem yang mengkombinasikan antara budidaya ikan dan budidaya padi secara bersamaan dan pada satu lahan yang sama.

Sistem Tanaman Minapadi Untuk Meningkat Hasil Produksi Yang Maksimal Dan Untung Yang Meningkat

Sistem minapadi ini sudah diterapkan oleh beberapa petani di Sleman Yogyakarta. Hasilnya pun sudah dapat terlihat. Jumlah rumpun padi memang 20% lebih sedikit daripada budidaya padi pada umumnya. Namun siapa sangka hasil produksi gabah yang dihasilkan lebih tinggi.

Karena keberhasilan ya tersebut saat ini di daerah Sleman Yogyakarta total lahan sawah yang dikelola dengan sistem Minapadi sudah lebih dari 25 hektar. Dan jenis padi yang digunakan adalah varietas ciherang sedangkan untuk jenis ikan yang digunakan adalah ikan nila. Tetapi tidak sedikit pula yang menggunakan varietas ikan gurami juga.

Pada sistem Minapadi biasanya menerapkan pola tanam padi dengan hajar legowo. Dan untuk jumlah ikan nila yang dibutuhkan dalam 1 hektar adalah 12.000 ekor benih. Jumlah yang tidak sedikit dan diharapkan juga bisa mencapai produktivitas yang maksimal.

Rupanya proyek percontohan sistem Minapadi ini tidak hanya dijalankan di provinsi Yogyakarta saja, namun juga di provinsi lain seperti Provinsi Sumatera Barat yang total lahannya sudah mencapai 50 hektar

Baca Juga : Beberapa Jenis Hama dan Penyakit Utama Tanaman Cabai Saat Musim Hujan

Banyak keuntungan yang akan didapatkan dari Budidaya Padi dan Ikan dengan menggunakan sistem Minapadi ini. Dan hal ini pernah disampaikan oleh Dr Fajar Basuki, seorang konsultan minapadi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang. Beliau menyampaikan bahwa dalam setiap 1000 meter persegi lahan sawah petani bisa memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 2,4 juta atau sekitar Rp. 24 juta per hektar. Jika yang dibudidayakan hanya padi saja pada luasan lahan yang sama petani hanya memperoleh keuntungan sebesar Rp. 1 juta per 1000 meter persegi atau Rp. 10 juta perhektar. Dengan demikian penerapan sistem mina padi bisa meningkatkan keuntungan dari padi hingga 140%. Sedangkan dari benih ikan nila sebanyak 12.000 ekor perhektar, petani bisa panen ikan nila hingga mencapai 1,3 ton. Angka ini terbilang sangat menjanjikan baik bagi pelaku tani atau peternakan ikan, yang mungkin mulai tertarik dengan mengkolaborasikan budidaya antara padi dan ikan dalam tempat dan waktu yang bersamaan tentunya dengan penerapan sistem Minapadi ini.

 

Adapun beberapa keuntungan dan kelebihan dari penerapan sistem budidaya minapadi yang lainnya adalah sebagai berikut ;

  • Menghemat biaya produksi agar lebih rendah dan bisa ditekan hingga 50%
  • Efisiensi biaya dan waktu untuk proses penyiangan rumput padi. Dengan sistem minapadi rumut atau gulma padi tidak bisa tumbuh sehingga tidak perlu dilakukan penyiangan.
  • Hemat biaya perawatan dalam pembelian pestisida dan herbisida, sistem mina padi tidak menggunakan pestisida dan herbisida kimia sebab bisa meracuni ikan yang dibudidayakan,
  • Kualitas Padi yang dihasilkan adalah padi organik yang lebih sehat karena tidak menggunakan pestisida kimia. Sehingga lebih terjamin kelayakannya.
  • Mengurangi jumlah hama pada tanaman padi, karena telur-telur dari hama sebelum menetas sudah menjadi makanan ikan terlebih dahulu.
  • Berkurang pula jumlah Hama tikus, yang merupakan jenis hama utama tanaman padi tidak bisa masuk kelahan sawah karena air terus menggenang,
  • Sistem mina padi tidak mengurangi jumlah rumpun padi, bahkan produksi padi semakin meningkat,
  • Meningkatkan jumlah Produksi gabah yang bisa mencapai 8 ton perhektar, jika hanya padi saja produksi gabah tidak lebih dari 6 ton perhektar,
  • Sistem budidaya minapadi bisa menekan hama wereng,
  • Membantu Meningkatkan pendapatan petani. Petani memperoleh keuntungan ganda, dari hasil panen padi dan panen ikan yang dibudidayakan
  • Keluarga petani memperoleh asupan protein gratis dari ikan yang dibudidayakan

 

Dan berikut ini adalah tips untuk mengolah budidaya padi dan ikan dengan sistem Minapadi yang bisa Anda lakukan dengan mengikuti langkah – langkah berikut ini :

  1. Pertama adalah persiapan lahan u tuk budidaya dengan sistem Minapadi pada lahan 1000 m². Dengan tahapan sebagai berikut:
  • Lakukan proses pembajakan atau oencangkulan dengan tujuan agar tanah menjadi lebih gembur. Lalu dia kan selama 3 sampai 5 hari.
  • Membuat saluran atau carem pada sekeliling lahan dan pembuatan pintu masuk dan pintu keluar air
  • Sistem penanaman padi yang digunakan adalah pola tanam jajar legowo 2 : 1. Kemudian bdiamkan selama kurang lebih 15 hari
  • Untuk jenis padi yang digunakan adalah varietas ciherang. Dengan pertimbangan varietas ini tidak mudah roboh karena batangnya tidak terlalu tinggi. Varietas ni juga tahan terhadap genangan air.
  • Saat lahan sudah siap berikan pupuk dasar dengan menggunakan pupuk NPK Phonska dan Urea
  • Setelah selesai dengan lahan padi siapkan pembuatan kolam dengan kedalaman 70 sampai 80 cm.
  • Pasang jaring yang bertujuan sebagai penghalau hama padi dan hama ikan

 

  1. Pelaksanaan Budidaya Padi dan Ikan (MINAPADI)

Pada proses pelaksanaan budidaya sistem Minapadi ada perawatan yang harus dilakukan seperti berikut ini :

  • Pemberian pupuk urea dan NPK phonska yang dilakukan setelah tanaman padi berumur 7 hari setelah tanam. Untuk 1000 m2 lahan dibutuhkan 15 kg urea dan 30 kg NPK phonska
  • Bibit padi sebaiknya jangan ditanam terlalu tua, yaitu sekitar umur 17 – 20 hari
  • Setelah bibit padi selesai ditanam, biarkan lahan selama 14 hari dalam kondisi macak-macak (jangan digenangi air)
  • Lakukan pemasangan jaring penghalau hama untuk menutupi seluruh permukaan sawah. Untuk lahan 1000 m2 diperlukan sekitar 3 rol jaring

 

 

  1. Penebaran Bibit Ikan dan Pemeliharaannya
  • Penebaran bibit padi dilakukan tidak bersamaan dengan padi ditanam. Tetapi harus Menunggu dulu usia padi 14 hari terhitung dari awal padi ditanam. Untuk 1000 m2 lahan sawah dibutuhkan bibit ikan sebanyak 1200 – 1500 ekor bibit.
  • pemeliharaan ikan dilakukan sewajarnya seperti pemberian pakan, pengelolaan air dan pengawasan
  • Pemberian pakan pelet ikan dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore. Pakan diberikan 2% dari total biomasa. Pakan sebaiknya dicampur dengan probiotik
  • Atur ketinggian air rata-rata 75 cm pada saluran dan kolam, sedangkan ketinggian air pada tanaman padi sekitar 30 cm.
  • Pada bagian pintu masuk air dan pintu keluar air dipasang saringan. Periksa saringan sesering mungkin dan segera bersihkan jika kotor agar air tidak mudah meluap.
  • Jangan lakukan penyemprotan larutan pestisida kimia pada padi karena bisa meracuni ikan-ikan yang ada.

Demikian “SISTEM TANAMAN MINAPADI UNTUK MENINGKAT HASIL PRODUKSI YANG MAKSIMAL DAN UNTUNG YANG MENINGKAT ” Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Cara Budidaya Tanaman Gebras Agar Tumbuh Subur Dalam Waktu Yang Singkat

Cara Budidaya Tanaman Gebras Agar Tumbuh Subur Dalam Waktu Yang Singkat

Cara Budidaya Tanaman Gebras Agar Tumbuh Subur Dalam Waktu Yang Singkat

Tanaman Hias Bunga Gebras atau lebih dikenal dengan Gerbera ini merupakan salah satu tanaman hias bunga potong. Biasanya digunakan untuk bucket bunga karena memiliki warna yang cerah, dan indah. Tanaman Gebras atau gerbera ini juga memiliki adaptasi yang luas, yang berarti bahwa bisa di ditanam dari dataran rendah-tinggi, meskipun daerah yang paling baik adalah dataran tinggi yang beriklim sejuk. Tanah yang baik untuk tanaman gerbera yaitu tanah lempung yang berpasir, subur dan banyak mengandung bahan organik atau humus.

Untuk proses perkembangannya Bunga Gerbera biasa diperbanyak dengan cara generatif melalui biji ataupun secara vegetatif melalui pemisahan anakan. Tanaman Gerbera memang bisa hidup bertahun-tahun dan akan menghasilkan banyak anakan serta bisa berbunga sepanjang tahun.

Cara Budidaya Tanaman Gebras Agar Tumbuh Subur Dalam Waktu Yang Singkat

Penanaman Gerbera untuk skala produksi biasanya dilakukan di Green House untuk mengurangi intensitas sinar matahari, menghindarkan dari hujan secara langsung, serta mengantisipasi serangan penyakit. Untuk skala hobby kita bisa menerapkannya dengan meletakkan pada tempat yang ternaungi.. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman hias pendatang dari luar negeri (introduksi) dan diduga berasal dari Afrika Selatan, Afrika Utara dan Rusia. Penemu tanaman gerbera adalah Traug Gerber, seorang naturalis berkebangsaan Jerman yang melakukan ekspedisi ke Afrika Selatan. Selanjutnya ditemukan gerbera hibrida oleh Jamenson. Berawal dari kedua penemu tersebut, tanaman gerbera dikukuhkan dengan nama Gerbera jamessonii Bolus ex Hook.

Dan ternyata sekarang ini Tanaman hias gerbera telah menjadi komoditas bunga potong yang penting di beberapa negara, diantaranya adalah Belanda dan Thailand. Prospek pengembangan budidaya bunga potong gerbera sangat potensial, karena selain dapat diandalkan sebagai komoditas ekspor, juga memiliki potensi sebagai salah satu penghasil minyak atsiri yang berfungsi sebagai bahan baku industri minyak wangi, kosmetika dan sabun. Maka dari itu Gerbera sangat mudah dikembangkan terutma dengan kondisi agrioekologi tropis Indonesia yang memungkinkan untuk pengembangan budidaya tanaman hias bunga potong gerbera, baik jenis gerbera lokal maupun mendatangkan dari luar negeri (introduksi).

Berikut ini adalah langkah – langkah yang bisa digunakan untuk budidaya bunga gerbera agar tumbuh cepat dalam waktu singkat :

 

  1. Persiapan Benih Untuk Budidaya Tanaman Gerbera

Gerbera bisa berkembang dengan cara generatif dengan biji dan secara vegetatif berupa pecahan anakan atau potongan rimpang dan cara kultur jaringan. Namun sebagian menilai perkembangan pada tanaman gerbera paling praktis dan mudah dipraktikkan oleh para petani bunga adalah cara pemisahan anakan atau membagi rumpun induknya ( vegetatif)

 

  1. Persiapan Lahan Budidaya Bunga GERBERA

Pada persiapan lahan untuk bunga gerbera bisa dengan cara membuat bedengan yang dilengkapi dengan naungan/atap dari plastik bening biasanya dengan tujuan komersial memproduksi bunga potong. Pembuatan atap pada lahan bunga gerbera bertujuan agar atap/naungan dari plastik bening ini dapat menangkal derasnya air hujan, dapat melindungi dari intensitas sinar matahari yang terlalu terik dan mencegah kemungkinan bahaya serangan hama dan penyakit yang membahayakan.

 

  1. Penanaman Bunga GERBERA

 

Proses penanam yang paling baik untuk bunga gerbera adalah waktu awal musim kemarau. Adapun cara yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Cara menanam bunga Gebera Pada lahan bedengan
  • Buat lubang tanam pada tanah dengan ukuran lebar dan kedalaman daun cangkul yang diberikan jarak tanam antara 20-25 cm dalam barisan dan 35-40 cm antar barisan
  • Lakukan pemilihan bibit gerbera, kemudian tanam secara tegak pada bagian tengah lubang tanam dan tutup kembali lubang dengan memadatkan tanah di sekitar pangkal batang tanaman.
  • Setelah selesai lakukan penyiraman dengan air bersih pada begengan hingga basah dan lembab.

 

  1. Cara menanam bunga Gebera pada pot atau polybag :
  • Siapkan media tanam baik pot atau polybag
  • Masukan bibit gerbera dan tanam tepat pada bagian tengah pot atau polybag.
  • Padatkan bibit disekitar pangkal batang dengan tanah yang ada pada pot ataupun polybag.
  • Siram bibit yang sudah ditanam pada polybag atau pot dengan air bersih hingga cukup basah (lembab).
  • Sekitar 10-15 hari setelah tanam, bibit gerbera mulai tumbuh akar-akar dan tunas barunya sebagai tanaman muda.

 

  1. Pemeliharaan Tanaman Bunga GERBERA

Proses perawatan atau pemeliharaan tanaman bunga gerbera sangat penting dilakukan untuk memastikan tanaman bunga gerbera dapat tumbuh dengan baik. Adapun beberapa tindakan yang harus dilakukan adalah:

  • Pengairan atau penyiramab

Lakukan proses perairan atau penyiraman secara rutin setiap hari 1-2 kali, di fase awal penanaman. Pemberian air selanjutnya dapat berangsur-angsur dikurangi sesuai dengan keadaan cuaca. Hal yang penting adalah keadaan tanah (media tanam) tidak boleh kekeringan ataupun terlalu basah (menggenang).

 

  • Pemupukan

Pemberian pupuk secara rutin sama pentingnya dengan Pengairan. Hanya dibedakan pada intensitas waktunya saja. Pemupukan diberikan setiap sebulan sekali agar pembungaannya berlangsung sepanjang tahun.

Jenis pupuk yang dianjurkan adalah N, P, K serta unsur mikro lainnya. Jumlah pupuk NPK yang diberikan sebanyak 2-4 gram/tanaman untuk setiap kali pemupukan atau dosis per hektarnya antara 200-400 kg, sedangkan dosis pemberian pupuk daun disesuaikan dengan anjuran yang tertera pada labelnya.

Cara pemberian pupuk NPK dapat dibenamkan dalam larikan atau lubang di antara barisan tanaman, atau dilarutkan dalam air kemudian disiramkan pada tanah (media). Sebagai pedoman dalam pembuatan larutan pupuk adalah 10 gram NPK/10 liter air. Tiap tanaman dipupuk sekitar 200-250 cc larutan pupuk NPK, sedangkan pupuk daun pada umumnya diberikan dengan cara disemprotkan langsung pada seluruh bagian tanaman.

 

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Bunga GERBERA

Untuk jenis hama yang sering menyerang tanaman gerbera adalah pengorok daun, thrips, ulat daun, dan belalang. Dan pengendalian hama yang bisa dilakukan adalah dengan cara disemprot menggunakan insektisida seperti Decis atau Agrimec pada konsentrasi yang dianjurkan.

Sedangkan jenis penyakit utama yang menyerang tanaman gerbera adalah: Bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Cercospora gerberae, kapang kelabu (grey mould) oleh cendawan Botrytis cinerea, penyakit tepung oleh cendawan Erysiphe cichoracearum. Bentuk pengendalian paling efektif untuk penyakit tersebut  adalah dengan menyemprotkan fungisida, misalnya Dithane atau Antracol.

 

  1. Panen Bunga GERBERA

Bunga Gerbera pada dasarnya dapat tumbuh berbunga sepanjang musim. Sedangkan waktu berbunga biasanya sekitar umur 6-8 bulan setelah tanam bibit asal biji, atau 3-5 bulan bila bibitnya berasal dari anakan.

Pemetikan bunga gerbera dapat dilakukan rutin (kontinyu) tiap seminggu sekali atau tergantung keadaan kuntum bunga di kebun maupun sasaran pemasaran. Ciri-ciri bunga gerbera siap dipanen adalah kuntum bunganya telah mekar penuh atau ketika bunga setengah sampai tiga perempat mekar. Tetapi beberapa varietas dipanen ketika beberapa benang sari terlihat.

Cara memanen bunga gerbera adalah dengan memotong pangkal tangkai bunga secara miring dengan alat bantu pisau atau gunting yang tajam dan bersih/steril. Tangkai bunga hasil pemetikan segera dikumpulkan dalam keranjang atau ember yang berisi air untuk merendam pangkal tangkai bunga tersebut. Pada pertanaman gerbera yang baik dan jenisnya unggul, tiap rumpun gerbera dapat menghasilkan 5-15 kuntum bunga atau sekitar 140 kuntum bunga per meter persegi luas lahan per tahun.

 

Demikian “CARA BUDIDAYA TANAMAN GEBRAS AGAR TUMBUH SUBUR DALAM WAKTU YANG SINGKAT” Semoga bermanfaat.

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kol Pada Dataran Rendah

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kol Pada Dataran Rendah

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kol Pada Dataran Rendah

 

Jika berbicara mengenai jenis sayuran di Indonesia pasti yang tidak bisa dilewatkan adalah sayuran kol. Karena banyaknya masyarakat Indonesia yang menyukai sayur kol ini. Sehingga banyak petani sayur yang menanam tanaman kol untuk memenuhi permintaan pasar.

Tips Sukses Budidaya Tanaman Kol Pada Dataran Rendah

Jika biasanya tanaman kol di tanam pada dataran tinggi, namun pada artikel kami kali ini akan membagikan informasi tentang tips untuk dapat menanam kol pada dataran rendah. Dengan memperhatikan syarat dan langkah – langkah seperti dibawah ini :

  1. Perhatikan kondisi tanah yang cocok untuk budidaya atau menanam tanaman kol. Adapun beberapa syarat tanah yang baik untuk tanaman kol di dataran rendah adalah :
  • Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman kol adalah tanah lempung berpasir atau tanah liat berpasir.
  • Tanaman kol menyukai tekstur tanah yang gembur, subur dan banyak mengandung bahan organik.
  • Kandungan pH tanah yang ideal untuk tanaman kol dataran rendah antara 5,5 – 6,5.
  1. Pengolahan Lahan yang baik dan tepat dengan melakukan langkah – langkah berikut ini :
  • Langkah pertama dalam pengolahan lahan adalah Pembersih an lahan dari gulma dan sisa tanaman sebelumnya.
  • Lakukan pembajakan dengan kedalam 20 sampai 30 cm untuk membuat tanah gembur dan akar tanaman kol dapat tumbuh maksimal.
  • Membuat bedengan kecil agar air tidak tergenang dan membuat tanah menjadi becek saat turun hujan dengan intensitas tinggi
  • Atur bedengan dengan lebar -/+ 1 meter, tinggi bedengan 20 – 30 cm dan jarak antar bedengan 30 cm. Panjang bedengan dibuat dan disesuaikan dengan panjang lahan.

 

  1. Pemberian Pupuk Dasar

Komposisi pupuk dasar yang bisa digunakan sebagai pupuk dasar tanaman kol/kubis antara lain pupuk organik, seperti pupuk kandang/kotoran ternak atau kompos dan pupuk kimia seperti TSP/SP36, KCL dan ZA. Jika kondisi tanah memiliki kandungan pH yang rendah (masam) perlu juga ditaburkan kapur dolomit dengan dosis disesuaikan dengan kebutuhan. Kapur dolomit sebaiknya ditaburkan bersamaan saat pengolahan lahan atau segera setelah selesai pengolahan lahan.

 

  1. Pemasangan Mulsa Plastik

Penggunaan mulsa plastik ini bersifat opsional. Bisa diterapkan atau bisa juga dilewatkan. Namun tujuan penggunaan mulsa plastik adalah menghambat tumbuhnya gulma sehingga mempermudah Anda dalam melakukan perawatan tanaman. Gunakan mulsa plastik yang sesuai dengan lebar bedengan, misalnya mulsa plastik ukuran 90 cm atau 120 cm.

 

  1. Jarak Tanam Budidaya Kol / Kubis Dataran Rendah

Saat pengolahan lahan Anda juga harus memperhitungkan jarak pada tanaman. Jika budidaya kol / kubis dilakukan dimusim kemarau jarak tanam bisa dibuat lebih rapat, sedangkan jika budidaya dimusim hujan jarak tanam dibuat lebih jarang. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelembaban dan untuk meminimalisir serangan penyakit jamur dan bakteri. Jarak tanam untuk tanaman kol / kubis yaitu 70 x 50 cm, 60 x 50 cm, 40 x 50 cm atau 40 x 40 cm.

  1. Persiapan Benih / Bibit tanaman Kol / kubis

Adapun jenis varietas benih kol yang sudah cukup dikenal antara lain Grand 22 (Chia Thai Seed), Green Helmet (Sakata Seed), Green Autumn 2055 (Known You Seed) atau Summer Autumn 633 (Known You Seed). Sebaiknya memilih varietas yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan dan ketinggian dataran lahan dimana kol/kubis akan dibudidayakan. Setelah menyiapkan bibit yang benar lakukan Penyemaian Benih Kol / Kubis dengan cara seperti dibawah ini :

  • Sebelum ditanam sebaiknya benih disemai terlebih dahulu menggunakan polybag kecil ukuran 6 x 8 cm atau 8 x 10 cm.
  • Siapkan media semai berupa campuran tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 2 : 1 (2 bagian tanah : 1 bagian pupuk organik).
  • Tanah dan pupuk organik dicampur hingga merata dan dibiarkan selama kurang lebih 1 minggu.
  • Kemudian media semai dimasukkan kedalam polybag kecil yang sudah disediakan. Masukkan benih kol kedalam polybag, 1 – 2 benih per polybag dan ditutup tipis menggunakan tanah halus.
  • Setelah itu polybag disiram menggunakan sprayer hingga basah, kemudian disungkup menggunakan plastik putih atau plastik mulsa.
  • Penyungkupan bertujuan supaya benih kol cepat berkecambah dan tumbuh serempak.
  • 3 – 4 hari kemudian benih biasanya sudah berkecambah. Jika seluruh benih sudah berkecambah (minimal 80%) sungkup dibuka dan diberi naungan plastik transparan. Bibit kol sudah bisa dipindah tanam pada usia 25 – 30 hari setelah semai.
  1. Cara Menanam Bibit Kol/Kubis Dataran Rendah
  • Pastikan bibit sudah berumur 25 atau 30 hari setelah semai, bibit sudah bisa dipindah tanam pada lahan yang sudah disiapkan.
  • Buatlah lubang tanam dengan kedalaman dan lebar yang sesuai dengan ukuran polybag semai.
  • Ambil plastik polybag, dan buka dengan hati-hati agar media tidak pecah atau rusak.
  • Kemudian masukan kedalam lubang tanam kemudian tanah disekitar lubang tanam ditekan-tekan sedikit.
  • Setelah selesai memindahkan bibit segera lakukan penyiraman secukupnya agar tidak layu.
  • Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari.

 

  1. Penyiraman tanaman kol / kubis

Penyiraman secara rutin pada pagi dan sore hanya dilakukan lada musim kemarau dan tidak perlu dilakukan saat musim hujan. Jika umur tanaman sudah lebih dari 30 hari penyiraman sebaiknya dilakukan dengan cara di leb, yaitu menggenangi parit hingga seluruh bedengan basah. Penyiraman dilakukan setiap 2 – 3 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi.

 

  1. Pemberian Pupuk Susulan Tanaman Kol/Kubis Dataran Rendah

Pemberian pupuk susulan pertama dapat dilakukan ketika tanaman berumur 25 hari dan dilakukan setiap 10 – 15 hari sekali. Jenis pupuk yang digunakan untuk tanaman kol antara lain Urea, KCL dan ZA dengan perbandingan 1 : 2 : 3. Dosisnya disesuaikan dengan kondisi tanaman. Pemupukan susulan dilakukan dengan cara dikocor supaya pupuk mudah diserap oleh akar tanaman serta menghemat penggunaan pupuk.

 

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kol/Kubis Dataran Rendah

Beberapa hama penting yang sering mengganggu tanaman kubis yaitu ulat tanah (agrotis ipsilon hufn.), ulat daun kubis (plutella xylostella l.), ulat krop kubis (crocidolomia binotalis zell.), dan ulat krop bergaris (hellula undalis f.).

Cara pengendalian hama dapat dilakukan dengan larutan pestisida nabati atau pestisida kimia. Penggunaan pestisida kimia sebaiknya hanya dilakukan jika serangan parah dan tidak memungkinkan untuk dikendalikan menggunakan pestisida nabati.

Tidak hanya pengendalian hama, ada serangan penyakit juga yang mengancam pertumbuhan tanaman. Jenis penyakit pada tanaman kol/kubis yaitu rebah semai, penyakit busuk daun, penyakit busuk hitam, serta penyakit akar bengkak. Pengendaliannya dilakukan dengan pergiliran tanaman (tidak menanam satu jenis tanaman secara terus-menerus), sanitasi lahan dan penyemprotan fungisida.

 

  1. Umur Panen Kol / Kubis Dataran Rendah

Tanaman Kubis/Kol rata-rata akan siap dipanen pada usia 65 – 70 hari atau lebih lama lagi, tergantung jenis atau varietas.

Sedangkan Ciri-ciri kol/kubis siap panen yaitu korp bagian dalam telah padat, korp terluar berwarna keunguan dan melengkung keluar.

Cara Memanen kol kubis adalah dengan dipotong  mengikut sertakan 2 helai daun hijau yang berguna untuk melindungi kol/kubis dari kerusakan.

Buang daun-daun yang rusak dan terinfeksi penyakit. Kumpulkan kol kubis yang telah dipanen pada tempat teduh agar tidak layu dan tetap segar saat dijual.

 

Demikian “TIPS SUKSES BUDIDAYA TANAMAN KOL PADA DATARAN RENDAH”. Semoga bermanfaat.

Cara Mudah Budidaya Tanaman Cabe Saat Musim Hujan

Cara Mudah Budidaya Tanaman Cabe Saat Musim Hujan

Cara Mudah Budidaya Tanaman Cabe Saat Musim Hujan

Cabe merupakan komoditas pertanian yang cukup tinggi permintaan. Terlebih para pecinta makanan pedas semakin banyak sampai saat ini. Selain rasa yang pedas cabai juga punya banyak kandungan nutrisi yang baik. Terutama kandungan vitamin C yang dikenal baik untuk kesehatan tubuh.

Tanaman cabe sendiri memiliki nama latin yaitu  (Capsicum annuum L.). Dan jika masuk musim penghujan tanaman cabe ini membutuhkan usaha yang lebih besar untuk dibudidayakan, sehingga perlu juga diimbangi dengan ketrampilan dan pengetahuan yang mendalam agar tidak terjadi gagal panen dan berakhir merugi. Bahkan sebagian petani jarang mengambil resiko menanam cabai saat musim penghujan. Karena tingginya resiko gagal panen yang kebanyakan dikarenakan serangan hama penyakit yang membuat cabai busuk sehingga mengakibatkan gagal panen.

Cara Mudah Budidaya Tanaman Cabe Saat Musim Hujan

Ada banyak sekali faktor yang menjadi penyebab penyakit cabai. Namun faktor utamanya adalah tumbuhnya jamur dan bakteri yang berkembang pesat pada saat musim hujan. Untuk itu perlu gerakan antisipasi sejak dini, bahkan karena beberapa faktor biaya perawatan cabai di musim hujan semakin besar. Sehingga saat menjual hasil panen harga cabai cenderung lebih mahal di saat musim hujan.

Untuk itu agar meminimalkan resiko kerugian dan kegagalan diperlukan pengetahuan tentang cara memperlakukan tanaman cabai pada saat musim hujan. Perlakuan secara intensif tidak hanya dilakukan pada tanaman, tetapi cara pengolahan lahan juga harus diperhatikan. Berikut ini adalah langkah serta upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan resiko kerugian dari budidaya tanaman cabai pada saat musim hujan :

  1. Membuat bedengan pada lahan yang lebih tinggi

Memasuki proses persiapan lahan usahakan pada saat membuat bedengan untuk menanam cabai sebaiknya dibuat lebih tinggi dari waktu menanam cabai saat musim kemarau. Apalagi jika lahan yang digunakan lahan datar seperti area persawahan. Pembuatan bedengan yang tinggi dimaksudkan untuk menghindari tanaman cabai terendam oleh air hujan yang menggenang. Karena adanya genangan air hujan pada parit-parit bedengan bisa mengakibatkan tanah menjadi cepat lemba, basah dan becek. Sehingga pertumbuhan jamur dan bakteri bisa semakin cepat dan beresiko timbulnya penyakit pada tanaman cabai.

 

  1. Pengapuran dan Pengaturan pH Tanah

Tingkat keasaman atau kadar pH dalam tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cabai, pH yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat atau kerdil. pH ideal untuk tanaman cabai antara 5,5 – 6,5. Untuk itu lakukan pengecekan pH tanah pada saat melakukan pengolahan lahan.

Untuk tanah dengan pH rendah taburkan kapur dolomit atau kiserit secara merata dan biarkan tersiram hujan, kemudian lakukan pengukuran pH kembali. Jika pH masih rendah taburkan dolomit kembali sampai mendapatkan pH yang diinginkan. Selain berpengaruh terhadap pertumbuhan, pH yang rendah juga merupakan kondisi yang ideal untuk perkembangan jamur dan bakteri.

 

  1. Penggunaan Trichoderma sp.

Untuk mencegah agar jamur patogen tidak tumbuh pada tanaman cabai maka gunakan Trichoderma SP. Pada saat pengolahan lahan. Zat ini merupakan sejenis cendawan yang memiliki aktifitas antifungal dan bermanfaat sebagai biofungisida. Penggunaan Trichoderma sp. Sudah terbukti efektif dalam menekan perkembangbiakan jamur patogen sehingga tanaman tumbuh lebih subur dan terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh jamur.

 

  1. Menggunakan Varietas Yang Sesuai

Pilihlah varietas cabai yang toleran terhadap curah hujan tinggi seperti beberapa varietas berikut : Kencana, Ciko (Cabai keriting/cabai besar), Prima Agrihorti, Rabani Agrihorti (Cabai rawit). Jenis-jenis cabai tersebut merupakan benih cabai varietas unggul yang cocok dibudidayakan disegala musim, baik musim kemarau maupun musim hujan.

 

  1. Pemupukan Yang Berimbang

Pada saat musim hujan sebaiknya penggunaan pupuk nitrogen dikurangi. Pupuk nitrogen yang berlebihan dapat menurunkan pH tanah, selain itu tanaman cabai yang kelebihan pupuk nitrogen lebih rentan terhadap serangan berbagai jenis penyakit. Oleh sebab itu lakukan pemupukan secara berimbang dengan memperhatikan kebutuhan unsur hara oleh tanaman.

 

  1. Menggunakan Mulsa Plastik

Jika dihitung – hitung penggunaan mulsa plastik akan menambah biaya perawatan tanaman cabai. Tetapi lebih baik kita sedikit menambahkan biaya perawatan daripada nanti cabai kita gagal panen dan berakhir merugi.

Karena dari penggunaan mulsa plastik maka kita akan mendapatkan beberapa manfaat mulsa plastik seperti berikut ini :

  • Bermanfaat untuk menjaga kelembaban tetap stabil sehingga perkembangan jamur dan bakteri didalam tanah bisa diminimalisir.
  • Berfungsi untuk menahan air hujan dan mencegah tanah bedengan menjadi lembab dan becek.
  • Untuk menahan pertumbuhan gulma dimana pada saat musim hujan gulma lebih cepat tumbuh.

 

 

  1. Memperbaiki Drainase Disekitar Lahan

Membangun drainase pada sekitar lahan sama pentingnya dengan membuat bedengan yang lebih tinggi saat musim hujan. Fungsi adanya saluran pembuangan air ini adalah agar air hujan tidak tergenang pama lahan, dan dapat keluar atau mengalir pada drainase yang kita buat. Pembuatan gmdrainase sebaiknya disiapkan pada saat kita mempersiapkan lahan sebelum tanaman cabai ditanam.

 

  1. Pengaturan Jarak Tanam

Membuat jarak tanam bukan hanya bertujuan agar tanaman ada ruang tumbuh tetapi juga berfungsi agar mengurangi kelembaban antara tanaman sehingga ada ruang antara tanaman yang satu dengan yang lainnya. Karena jika lingkungan terlalu lembab maka perkembangan jamur dan bakteri patogen lebih cepat.

 

  1. Sanitasi Sekitar Pertanaman

Sanitasi merupakan suatu usahakan untuk membersihkan lahan budidaya tanaman cabai dari tumbuhnya gulma atau rumput liar disekitar tanaman  yang dapat mengganggu proses pertumbuhan cabai. Selain itu gulma yang dibiarkan tumbuh dapat digunakan oleh organisme pengganggu tanaman (OPT) sebagai tempat bersembunyi dan berkembang biak. Untuk meminimalisir perkembangbiakan dan peledakan populasi hama dan penyakit sebaiknya lahan selalu dibersihkan dari gulma atau rumput liar.

 

  1. Memantau Perkembangan OPT Secara Intensif

Selain melakukan beberapa antisipasi adanya serangan hama dan penyakit dengan memberikan larutan fungisida atau pestisida di awal musim tanam, kita juga tidak boleh lengah dalam memantau atau mengawasi jika ada perkembangan atau tumbuhnya organisme pengganggu tanaman. Jadi sebelum ada keadaan yang lebih parah ada baiknya kita memberikan tindakan yang cepat dan tepat saat menemui adanya masalah pada tanaman. Gunakan insektisida dan fungisida yang tepat sesuai dengan OPT sasaran.

 

  1. Aplikasi Pestisida Secara Tepat dan Benar

Memang diakui penggunaan pestisida saingan penting untuk tanaman cabai, terutama pada saat musim hujan aplikasi insektisida dan fungisida harus dilakukan dengan tepat dan penuh perhitungan. Dengan melakukan penyemprotan pada waktu yang tepat dan memperhatikan cuaca serta penggunaan perekat, pembasah dan perata.

Meskipun tidak semua pestisida memiliki daya rekat yang baik pada tanaman sehingga beberapa larutan pestisida mudah tercuci oleh air hujan. Oleh karena itu pada saat musim hujan hendaknya aplikasi pestisida selalu menggunakan perekat, pembasah dan perata supaya penggunaan pestisida lebih efektif.

Demikian artikel kami tentang “CARA MUDAH BUDIDAYA TANAMAN CABE SAAT MUSIM HUJAN”. Semoga bermanfaat.

Cara Jitu Budidaya Semangka Tanpa Biji Agar Berbuah Sukses

Cara Jitu Budidaya Semangka Tanpa Biji Agar Berbuah Sukses

Cara Jitu Budidaya Semangka Tanpa Biji Agar Berbuah Sukses

Siapa yang tidak menyukai buah yang memiliki rasa segar dan manis ini. Buah ini sangat cocok sebagai santapan yang segar khususnya untuk daerah tropis seperti Indonesia. Buah ini memiliki kandungan air yang banyak sehingga bisa menghilangkan rasa haus atau dehidrasi u tuk pemenuhan cairan dalam tubuh.

Bagi sebagian orang mungkin beranggapan bahwa budidaya tanaman semangka tanpa biji terlihat lebih susah untuk dijalankan. Tetapi jika kita mengerti cara yang tepat dan menjalani setiap tahapannya dengan benar tidak ada yang tidak mungkin untuk memperoleh keberhasilan. Karena pada dasarnya, buah semangka merupakan salah satu buah semusim yang mudah dibudidayakan, dengan proses bereproduksi yang tergolong cepat karena umurnya hanya 6 bulan. Buah semangka dapat tumbuh dengan cara merambat dan merupakan jenis tanaman herba yang berasal dari Afrika, dan dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis dan sub tropis seperti daerah – daerah di seluruh Indonesia.

Cara Jitu Budidaya Semangka Tanpa Biji Agar Berbuah Sukses

Seperti yanyang kita tahu varietas buah semangka juga sangat beragam. Mulai dari varietas semangka biasa, semangka kuning, bahkan yang paling banyak dicari adalah varietas semangka tanpa biji.

Varietas semangka tanpa biji adalah varietas semangka unggulan yang banyak dicari dipasarkan karena rasanya yang manis, segar dan tidak perlu menyisihkan biji pada saat mengkonsumsinya.

Semangka tanpa biji merupakan salah satu varietas semangka unggulan yang banyak dicari keberadaannya. Oleh karena itu banyak yang berupaya untuk melakukan budidaya varietas ini.

Inilah yang menjadi alasan utama kenapa banyak yang memilih buah semangka untuk dibudidayakan. Dan seiring berjalannya waktu banyak inovasi varietas unggul yang berhasil di temukan dan dibudidayakan. Salah satunya adalah varietas semangka tanpa biji atau biasa disebut juga dengan semangka seedleess.

Varietas semangka terbaru ini dikembangkan dari penyilangan antara semangka diploid jantan dan semangka tetraploid betina. Pada dasarnya semangka tanpa biji ini memiliki bunga jantan dan betina dengan bagian yang lengkap, tetapi untuk bagian biji buah tidak bisa terbentuk disebabkan karena bakal biji buah dan benang sarinya mandul. Jadi apabila masih ditemukan biji dalam buah, itu bukan kesalahan pembenihan, namun karena kesalahan atau kelebihan dalam proses pemberian pupuk.

Dan bagi Anda yang penasaran dengan proses atau tehnik budidaya semangka tanpa biji, ini kami memiliki beberapa informasi menarik pada artikel kali ini. sebenarnya dalam budidaya semangka tanpa biji hampir memiliki kesamaan dengan budidaya  semangka biji biasa. Dan ternyata untuk menjalankan budidaya semangka tanpa biji ini kita juga harus menanam semangka biji disebelahnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan menjadikan semangka biji biasa sebagai sumber polinator. Lalu seperti apa cara budidaya semangka tanpa biji di budiyakan? Berikut penjelasan tahapan yang harus dilalui untuk membudidayakan semangka tanpa biji ini adalah sebagai berikut:

Umumnya benih semangka Bob biji memang memiliki cangkang atau kulit buah yang cenderung keras,sehingga kemungkinan untuk berkecambah secara alami sangat rendah. Sebenarnya cara membuat kecambah Benih Semangka non biji tidaklah sulit, hanya saja diperlukan usaha dan ketlatenan yang kuat. Dan dibawah ini merupakan cara cepat membuat kecambah benih semangka tanpa biji.

  1. Pertama, sedikit pecahan bagian kulit benih semangka tanpa biji dengan tujuan agar benih cepat berkecambah. Tetapi saat memecahkannya usahakan hanya bagian kulitnya saja, sehingga lakukan dengan hati – hati agar benih tidak rusak dan tidak bisa digunakan kembali.
  2. Pastikan semua benih dapat tumbuh atau berkecambah, mengingat harga benih semangka tanpa biji cenderung mahal.
  3. Selanjutnya Benih yang sudah dipecahkan kulitnya rendam dan bungkus kain atau kertas koran yang sudah di basahi.
  4. Masukkan kain atau koran tersebut kedalam kantong plastik dan simpan di tempat yang lembab agar kain atau koran tetap basah.

 

Setelah malalui proses pemecahan benih, maka kita bisa melanjutkan cara Pembenihan dan penanaman varietas semangka tanpa biji dengan langkah – langkah berikut ini :

  1. Pecahkan kulit benih semangka non biji dengan menggunakan gunting kuku, gunting pada bagian ujung benih semangka. Karena kulit atau cangkang benih semangka non biji bisa dibilang keras dan sulit berkecambah. Sehingga harus dibantu dipecahkan terlebih dahulu agar benih bisa cepat berkecambah.
  2. Dari benih yang sudah dipecahkan, rendam benih semangka tanpa biji dengan menggunakan air hangat. Bisa juga ditambahkan ZPT atau irisan bawang merah untuk merangsang kecambah agar bisa segera tumbuh dari benih.
  3. Proses perendaman benih semangka tanpa biji bisa dilakukan dalam kurun waktu antar 10 sampai 12 jam. Untuk meredam benih, gunakanlah wadah, air dan semua peralatan yang bersih.
  4. Setelah dilakukan perendaman pada waktu tersebut, ambil benih dan tiriskan dengan saringan dan kain yang bersih.
  5. Ambil kain dan air bersih lalu bungkus benih semangka tanpa biji tersebut agar bisa dilakukan proses perkecambahan.
  6. Basahi kain/masukkan kain kedalam air selama beberapa saat sampai kain basah, kemudian diperas.
  7. Kain yang sudah di basahi digunakan untuk membungkus benih lalu masukkan ke dalam kantong plastik.
  8. Setelah semua benih sudah terbubgkus kain, pindahkan bungkusan tersebut ke tempat yang terkena paparan sinar matahari langsung untuk proses penjemuran. Dan saat malam hari simpan benih ke tempat yang hangat.
  9. Saat memasuki musim hujan, dan cuaca mendung ada alternatif penyimpanan yang cocok yaitu memadukan bungkusan ke kotak kardus dan diberi lampu pijat untuk menghangatkan benih semangka tanpa biji.
  10. Proses penjemuran dilakukan selama 36 sampai 40 jam (waktu menyesuaikan benih atau biji sudah berkecambah)
  11. Jika benih sudah berkecambah Anda bisa langsung melakukan proses penanaman ke lahan atau bisa juga melakukan proses Penyemaian terlebih dahulu dengan menggunakan polybag kecil atay pot tray (tray semai).
  12. Catatan tambahan : jika masih ada benih semangka tanpa biji yang belum berkecambah, bungkus kembali benih tersebut dan jemur atau diletakkan pada tempat yang hangat. Untuk kembali mengulang proses yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Pada proses budidaya semangka tanpa biji juga tidak terlepas dari masalah serangan hama dan penyakit. Untuk itu jangan lupa untuk melakukan usaha pengendalian hama dan penyakit.

Jenis hama dan penyakit sebenarnya sangat beraneka ragam dan bisa menyerang tanaman semangka setiap saat. Untuk menghindari masalah tersebut maka diperlukan penyemprotan secara rutin. Bisa di lakukan seminggu sekali dengan cairan yang memiliki zat fungsida, insektisida dan pupuk daun. Namun apabila tanaman semangka yang anda tanam telah terserang hama penyakit, maka penyemprotan dapat dilakukan 2 hari sekali.

Dan salah satu proses penting pada budidaya semangka tanpa biji adalah proses pemanenan. Proses panen sendiri bidmsa dilakukan saat tanaman semangka sudah mencapai 85 hari (jika ditanamkan pada dataran rendah), dan usia 90 sampai 100 hari ( pada lahan dataran tinggi). Pemanenan dilakukan dengan memotong tangkai buah dan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah untuk mendapatkan buah yang permukaannya kering sehingga lebih tahan lama.

Demikian artikel tentang “CARA JITU BUDIDAYA SEMANGKA TANPA BIJI AGAR BERBUAH SUKSES”. Semoga bermanfaat.

Tips Untuk Mencegah Tanaman Layu Setelah Pindah Tanam Dari Media Semai Ke Lahan

Tips Untuk Mencegah Tanaman Layu Setelah Pindah Tanam Dari Media Semai Ke Lahan

Tips Untuk Mencegah Tanaman Layu Setelah Pindah Tanam Dari Media Semai Ke Lahan

Saat bibit masih berusia sangat muda memang cenderung sangat rentan dan harus diperlakukan dengan hati – hati. Terutama bibit tanaman seperti bibit cabai, bibit terong, bibit tomat, bibit semangka, bibit melon akan lebih sering mengalami stres setelah dipindah tanam dari media semai ke lahan. Penyebabnya pun juga karena bermacam-macam hal, misalnya media semai yang pecah saat proses penanaman dilakukan, bibit tanaman yang memang dalam kondisi tidak sehat atau faktor cuaca. Jenis bibit yang paling sering mengalami stres adalah bibit dari tanaman sayuran buah semusim, apalagi jika proses pemindahan tanam dilakukan ketika bibit belum cukup umur atau terlalu tua. Bukan hanya bibit muda saja, kondisi bibit tanaman sayuran buah yang terlalu tua pun akan lebih besar kemungkinan mengalami stres setelah pindah tanam. Meskipun hal ini tidak menyebabkan kerugian total, tetapi bibit yang mengalami stres pertumbuhan dan perkembangnanya akan sedikit terhambat.

Tips Untuk Mencegah Tanaman Layu Setelah Pindah Tanam Dari Media Semai Ke Lahan

Faktor yang menjadi penyebab tanaman menjadi stres juga sangat beragam. Seperti beberapa hal berikut ini yang dianggap sebagai penyebab bibit tanaman mengalami stres setelah pindah tanam, yaitu :

  1. Kondisi bibit
  2. Usia bibit
  3. Rentang waktu pemberian pupuk dasar dan penanaman
  4. Temperatur / suhu
  5. Kondisi lahan
  6. Waktu tanam
  7. Pasokan air
  8. Pemupukan
  9. Over dosis pestisida

Sedangkan langkah untuk mencegah dan menghindari agar bibit cabai, terung, tomat, pare, semangka atau bibit tanaman buah hasil cangkokan yang baru ditanam tidak mengalami stres, yang bisa dilakukan adalah beberapa tindakan berikut ini :

  1. Pemberian pupuk dasar

Yang perlu diperhatikan dalam pemberian pupuk dasar adalah waktunya. Sebaiknya dilakukan minimal 10 hari sebelum proses penanaman dilakukan, agar pupuk bereaksi dengan tanah terlebih dahulu dan sehingga tanaman bisa tumbuh kompak. Penanaman bibit yang dilakukan setelah penaburan pupuk bisa mengakibatkan tanaman stres, bahkan mati keracunan.

  1. Penyiraman pada bedengan

Setelah pemberian pupuk biasanya dilanjutkan dengan penyiraman bedengan yang sebaiknya dilakukan sebelum pemasangan mulsa. Usahakan bedengan disiram hingga basah (jika tidak turun hujan).

  1. Perhatikan kondisi bibit tanaman yang akan ditanam.

Kondisi Bibit yang kurang sehat akan cenderung  mengalami stres dalam jangka waktu lebih lama setelah pindah tanam, bahkan bisa mati. Maka dari itu, sebelum memulai proses tanam pilihlah bibit yang sehat terlebih dahulu. Setelah itu Bibit hendaknya dibiarkan terpapar sinar matahari penuh setidaknya sejak 15 hari sebelum dipindah tanam ke lahan. Ini dilakukan agar bibit tanaman memiliki batang yang kuat dan cepat beradaptasi ketika dipindah tanam ke lahan.

  1. Usia bibit pada saat dipindah tanam ke lahan.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bibit yang terlalu muda atau terlalu tua lebih mudah mengalami stres setelah dipindah tanam. Hal ini disebabkan karena bibit yang masih terlalu muda tentunya belum cukup kuat dan belum mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan, sedangkan kondisi bibit yang terlalu tua akan mudah stres karena bibit sudah memiliki akar yang banyak dan ketika dipindah kemungkinan akan banyak akar yang rusak atau terputus. Untuk itu agar mencegah bibit tidak stres, sebaiknya bibit ditanam pada usia yang tepat sesuai dengan jenis tanamannya.

  1. Temperatur dan suhu yang tinggi (panas)

Selain kondisi bibit, adanya faktor lingkungan seperti kondisi temperatur dan suhu yang tinggi dapat menyebabkan tanaman yang baru dipindah tanam menjadi layu dan lemas. Untuk itu penggunaan mulsa plastik juga sangat riskan jika pada musim kemarau. Karena saat siang hari, suhu yang tinggi dan cenderung panas akan mudah terserap oleh tanah, sementara udara yang keluar dari mulsa plastik sangat terbatas. Sehingga membuat sirkulasi udara pada tanah menjadi pengap dan bisa berakibat bibit tanaman menjadi stres.

  1. Lahan yang terlalu kering

Bibit tanaman yang baru dipindahkan akan mudah stres jika kondisi lahan terlalu kering. Maka banyak yang menyiramlahan sampai benar-benar basah sebelum melakukan penanaman bibit. Jika penanaman dilakukan pada musim kemarau dengan kondisi tanah benar-benar kering, penyiraman setidaknya harus dilakukan 2 kali sebelum bibit ditanam.

  1. Perhatikan waktu penanaman, hindari menanam bibit pada pagi hari dan siang hari, terutama jika penanaman dilakukan dimusim kemarau. Untuk menghindari stres, sebaiknya penanaman dilakukan pada sore hari. Lakukan penyiraman segera setelah penanaman bibit selesai. Penanaman pada sore hari akan memberikan kesempatan tanaman untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, waktu satu malam cukup bagi tanaman untuk menyesuaikan diri.
  2. Hati-hati saat membuka plastik polybag bibit

Saat melakukan proses semai biasanya menggunakan polybag sebagai media semai, dan ketika akan memindahkan ya lakukan dengan hati – hati jangan sampai media semai pecah atau retak supaya akar bibit tidak mengalami kerusakan. Jika media semai pecah atau rusak akan menyebabkan beberapa akar bibit terputus dan ini akan menyebabkan tanaman layu atau stres lebih lama. Siram bibit secukupnya sebelum bibit dipindah tanam kelahan.

  1. Lakukan penyiraman rutin

Penyiraman tanaman bisa dilakukan setiap pagi dan sore sampai tanaman benar-benar kuat, biasanya dalam waktu 4 – 5 hari tanaman baru sudah beradaptasi dengan baik. Ciri-ciri tanaman yang yang sudah beradaptasi ditandai dengan munculnya tunas-tunas baru, hal ini juga menandakan bahwa akar baru sudah tumbuh dan akar sudah mampu menyerap air dan nutrisi yang ada didalam tanah.

  1. Jika saat proses semai tidak menggunakan polybag, maka bisa dilakukan rendam akar bibit terlebih dahulu menggunakan hormon perangsang akar atau ZPT. Hal ini bertujuan agar akar baru cepat tumbuh dan menyerap air serta nutrisi di dalam tanah. Dengan begitu, tanaman lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan dan tidak stres.
  2. Lakukan pemberian pupuk susulan secara tepat dan sesuai dengan keperluan. Jadi harus memperhatikan pemberian pupuk susulan dengan benar, karena pemberian pupuk susulan yang tidak tepat akan menyebabkan tanaman stres, layu, menguning bahkan bisa mati keracunan. Pemberian pupuk susulan sebaiknya dilakukan setelah tanaman benar-benar beradaptasi dengan lingkungan lahan, biasanya saya melakukan pemupukan susulan pertamakali ketika tanaman berusia 10 hari setelah tanam (tanaman terong, tomat, cabai, pare dll). Gunakan pupuk NPK 16 dengan dosis rendah, yaitu 2 kg/1000 tanaman. Larutkan dengan 2000 liter air dan kocorkan pada sore hari, 500 ml/tanaman. Hindari menggunakan pupuk dengan kadar nitrogen tinggi pada tanaman baru.
  3. Selain penggunaan pupuk harus juga memperhatikan pestisida yang akan digunakan. Untuk itu biasakan selalu membaca petunjuk penggunaan pestisida yang tertera pada label kemasan. Dan gunakan dosis pestisida sesuai anjuran, karena penyemprotan pestisida dengan dosis berlebihan bisa berakibat fatal bagi tanaman, terlebih pada tanaman yang masih memiliki usia muda. Over dosis pestisida bisa menyebabkan tanaman menjadi stress akibat keracunan.
  4. Untuk mengatasi stress pada tanaman kita juga bisa memanfaatkan vitamin B1. Dengan melakukan penyiraman vitamin B1 pada tanaman bisa menurunkan tingkat stress pada tanaman. Caranya dengan melarutkan 1 butir / tablet vitamin B1 dengan 1 liter air bersih kemudian disiramkan 200 ml setiap tanaman.

 

Demikian artikel kami tentang “TIPS UNTUK MENCEGAH TANAMAN LAYU SETELAH PINDAH TANAM DARI MEDIA SEMAI KE LAHAN”. Semoga bermanfaat.

Tips Sukses Budidaya Tanaman Padi Organik Dengan System Of Rice Intensification (Sri)

Tips Sukses Budidaya Tanaman Padi Organik Dengan System Of Rice Intensification (Sri)

Tips Sukses Budidaya Tanaman Padi Organik Dengan System Of Rice Intensification (Sri)

Sudah bukan rahasia jika banyak negara di dunia mulai berupaya meningkatkan ketahanan pangan dengan berbagai macam cara, mengingat meningkatnya jumlah penduduk yang diberangi menurunnya sumber bahan pangan. Jika di Indonesia sendiri mengandalkan nasi sebagai sumber pangan utama, yang mana berasal dari tanaman padi.

Dan pada artikel sebelumnya kita membahas tentang sistem budidaya tanam padi dengan Jajar Legowo, kali ini kami akan membahas salah satu jenis sistem budidaya padi yang lainnya yaitu metode System of Rice Intensification yang disingkat dengan metode SRI. Metode SRI (System of Rice Intensification) ini adalah  suatu inovasi dari cara budidaya padi dalam upaya meningkatkan produktifitas padi. Kelebihan yang didapatkan melalui metode ini dilaporkan mampu meningkatkan hasil produksi padi antara 50 hingga 100%

Tips Sukses Budidaya Tanaman Padi Organik Dengan System Of Rice Intensification (Sri)

Pada dasarnya metode  System of Rice Intensification (SRI) adalah suatu metode atau teknik budidaya padi organik dengan cara menekankan pola pengolahan tanah, pola pengelolaan tanaman, pola pemanfaatan air, dan penggunaan pupuk organik. Dalam arti lain System of Rice Intensification (SRI) merupakan teknik budidaya padi yang diterapkan untuk meningkatkan hasil produksi padi dengan biaya yang jauh lebih rendah. Dan sampai saat ini metode SRI telah berkembang ke lebih dari 36 negara di dunia, Indonesia juga termasuk salah satunya. Beberapa negara diantaranya adalah : yang pertama tentu saja negara asal metode ini yaitu Madagaskar, Thailand, Gambia, Cina, Kamboja, Nepal, Vietnam, Laos dan lainnya.

 

Metode SRI (System of Rice Intensification) ini memiliki prinsip yang wajib diterapkan yaitu :

  1. Bibit ditanam pada usia yang sangat muda, yaitu bibit yang berumur kurang dari 12 hari setelah semai.
  2. Bibit akan ditanam dengan pola satu lubang satu tanaman. Jarak tanam harus berukuran 25 x 25 cm, 30 x 30 cm atau dengan sistem jajar legowo 2.
  3. Bibit yang digunakan untuk ditanam harus berusia muda dan masih lemah, saat melakukan pindah tanam harus dilakukan dengan ekstra hati-hati agar tidak merusak perakaran dan ditanam dangkal.
  4. Bibit yang sudah dicabut dari media persemaian harus segera ditanam pada lahan.
  5. Aturan penggunaan Tanah tidak boleh diairi secara terus menerus, pengairan dilakukan dengan sistem berselang dengan ketinggian air maksimal hanya 2 cm.
  6. Cara optimal dalam pengolahan tanah dapat dilakukan dengan pembajakan untuk meningkatkan aerasi tanah.
  7. Proses Penyiangan Tanaman dapat dilakukan sejak tanaman berusia 10 hari, penyiangan bisa dilakukan hingga 3 kali dengan interval 10 hari.
  8. Penggunaan jenis pupuk yang diperbolehkan adalah pupuk organik dengan tujuan untuk mempertahankan kualitas tanah dan menjaga keseimbangan biota tanah.

Banyak sekali keunggulan yang didapatkan dalam budidaya padi SRI ini jika dibandingkan dengan tehnik budidaya konvensional. Keunggulan tersebut bisa dilihat dari segi pemanfaatan air, biaya produksi, waktu atau masa panen serta kualitas padi atau beras yang dihasilkan. Lebih jelasnya berikut ini beberapa keunggulan metode budidaya padi SRI :

  1. Lebih Hemat air, dengan menggunakan sistem sistem pengairan berselang atau sistem irigasi terputus membuat sistem SRI lebih hemat air. Artinya pengatiran tidak dilakukan terus menerus, tetapi ada masa pengairan dan masa pengeringan. Selain itu pengairannya pun hanya dilakukan hingga ketinggian antara 5 mm hingga maksimal 2 cm saja.
  2. Tidak membutuhkan banyak benih, karena tehnik penanaman untuk sistem SRI hanya membutuhkan satu benih dalam satu lubang. Sehingga jika dihitung dalam 1 hektar hanya membutuhkan 5kg benih saja.
  3. Waktu panen lebih cepat, Metode budidaya padi SRI mengharuskan penanaman bibit pada usia muda, yaitu dibawah 12 hari setelah tanam sehingga waktu panen bisa lebih cepat. Dengan demikian biaya pemeliharaan bisa ditekan dan hemat waktu.
  4. Tingkat produktivitas tinggi, seperti yang disampaikan diatas budidaya sistem SRI bisa meningkatkan hasil produksi 50% sampai 100%. Ada sebuah laporan dalam satu hektar hasil produksi bisa mencapai 11 sampai 12 ton.
  5. Hasil padi sehat, budidaya padi metode SRI memiliki basis organik dan ramah lingkungan. Jadi tidak membutuhkan jenis pupuk dan pestisida yang berbahan kimia.

Dan bagi Anda yang sudah penasaran bagaimana cara budidaya padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) berikut tips sukses yang bisa Anda terapkan :

  1. Sistem pengolahan lahan
  • Lakukan pembajakan sawah atau pencangkulan selama 2 sampai 3 kali.
  • Pembajakan pertama adalah pembajakan kasar disertai dengan memendam semua sisa-sisa gulma atau rumput liar yang tumbuh pada lahan.
  • Pembajakan kedua yaitu pembajakan halus. Yang terakhir adalah pembajakan atau pencangkulan, sekaligus meratakan lahan yang akan ditanami. Pastikan lahan harus rata keseluruh lahan.
  • Buatlah parit ditengah dan dipinggir petakan untuk mempermudah pengairan.
  • Setelah selesai pengolahan lahan genangi air, selama 24 jam.

 

  1. Proses pemilihan benih
  • Lakukan pemilihan benih yang memiliki kualitas dan varietas yang baik.
  • Dibutuhkan 5 kg benih dalam setiap 1 hektar nya.
  • Melakukan seleksi terhadap benih padi dengan cara merendam benih dengan air larutan garam. Benih yang tenggelam berarti benih yang berkualitas baik.
  1. Proses semai benih padi
  • Siapkan media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1 : 1.
  • Tempat menyemai benih bisa menggunakan nampan, baki atau ditebar ditanah langsung.
  • Benih yang sudah disiapkan direndam menggunakan air biasa selama satu hari satu malam.
  • Kemudian benih ditiriskan, peram ditempat yang lembab hingga keluar bakal tunas, biasanya pemeraman hanya membutuhkan waktu 2 – 3 hari.
  • Benih ditabur diatas permukaan media semai kemudian ditutup tipis menggunakan tanah halus.

 

  1. Cara menanam padi metode SRI (System of Rice Intensification)
  • Mengatur jarak tanam menjadi 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm.
  • Bibit yang sudah siap tanam dalam budidaya padi metode SRI adalah bibit yang berusia dibawah 12 hari setelah semai.
  • Untuk proses pemindahan bibit, cabut bibit satu persatu secara hati-hati dari persemaian.
  • Segera tanam pada lahan untuk bibit yang sudah dicabut
  • Tanam bibit satu lubang tanam satu bibit.
  • Letakkan bibit dan tanam dengan posisi tegak lurus dan dangkal (jangan terlalu dalam).

 

  1. Perawatan budidaya padi metode SRI (System of Rice Intensification)
  2. Pengatiran : dilakukan dari padi berusia 0 – 10 atau 14 hari lahan tidak perlu digenangi air, cukup dialiri air saja hingga macak-macak. Lakukan pengairan cukup dangkal saja, ketinggian air maksimal 2 cm. Setelah beberapa hari lahan cukup dialiri air saja. Pada usia 2 bulan setelah tanam, lakukan lagi penggenangan dan beberapa saat menjelang panen lahan dikeringkan kembali.
  3. Penyiangan : jangan menggunakan larutan herbisida dalam sistem ini. Untuk menjaga kualitas padi organik. Penyiangan bisa dilakukan menggunakan alat rotary weeder atau alat sejenisnya. Lakukan penyiangan hingga 2 atau 3 kali dalam satu musim tanam, tergantung kondisi gulma.
  4. Pemupukan : dilakukan dengan pupuk organik seperti pupuk kandang dan pupuk kompos yang sudah matang. Saat melakukan pemupukan lahan harus dalam kondisi kering. Dan tabur kan secara merata pada lahan. Sedangkan untuk dosis pemupukan disesuaikan dengan luas lahan dan kondisi kesuburan tanah. Dan sakti pemupukan sebaiknya dijadwalkan seperti berikut :

– Pemupukan I dilakukan pada usia 7 – 14 hari setelah tanam

– Pemupukan II dilakukan pada usia 20 – 30 hari setelah tanam

– Pemupukan II dilakukan pada usia 40 – 45 hari setelah tanam

  1. Penanggulangan hama dan penyakit : untuk penanggulangan serangan OPT juga harus menggunakan bahan organik. Dan sebisa mungkin menghindari penggunaan bahan kimia seperti pestisida. Penanggulangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) secara organik bisa dilakukan dengan cara mekanis dan penggunaan pestisida organik/pestisida hayati.

 

Demikian artikel kami tentang “TIPS SUKSES BUDIDAYA TANAMAN PADI ORGANIK DENGAN SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI)” Semoga bermanfaat.

Cara Sukses Budidaya Tanaman Gambas Oyong Agar Cepat Berbuah Lebat

Cara Sukses Budidaya Tanaman Gambas Oyong Agar Cepat Berbuah Lebat

Cara Sukses Budidaya Tanaman Gambas Oyong Agar Cepat Berbuah Lebat

Jenis sayuran yang banyak di budidayakan adalah gambas atau oyong. Tanaman gambas ini masuk dalam famili Cucurbitaceae atau suku labu-labuan. Dengan Nama latin binomial gambas adalah Luffa acutangula. Gambas ini memiliki buah berwarna hijau, dengan. kulitnya agak kasar dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan masakan sayur. Dan bagi Anda yang ingin budidaya tanaman gambas atau oyong, maka Anda harus perhatikan hal – hal berikut ini :

Cara Sukses Budidaya Tanaman Gambas Oyong Agar Cepat Berbuah Lebat

  1. Syarat Tumbuh Tanaman Gambas / Oyong
  • Tanaman gambas membutuhkan sinar matahari secara penuh agar dapat tumbuh optimal.
  • Selain itu suhu paling cocok untuk tanaman gambas rata-rata  adalah 18 – 24 derajat celcius.
  • Membutuhkan ketersediaan air yang cukup karena tanaman gambas ini rentan terhadap kekeringan.
  • Jika kekurangan air tanaman akan tumbuh kerdil, berbatang kecil, bunga dan bakal buah rontok serta produksi tidak maksimal.
  • Membutuhkan tanah yang subur, gembur, memiliki aerasi dan drainase yang baik.
  • Sedangkan kadar pH ideal untuk tanaman gambas adalah 5,5 – 6,8 (netral)
  • Dan kelembaban yang sesuai rata-rata antara 50 – 60%.
  • Tanaman ini tidak mengenal musim, bisa dibudidayakan kapan saja, baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau.
  • Tanaman ini tidak menyukai tanah yang terlalu basah dan genangan air.

  1. Persiapan Lahan Budidaya Gambas
  • Bersihkan lahan dari sisa tanaman sebelumnya dan dari gulma atau rumput liar
  • Gemburkan tanah dengan cara mencangkulnya atau membajak ya.
  • Buat bedengan dengan lebar 80 – 100 cm, tinggi dan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan.
  • Sebaiknya bedengan dibuat tidak terlalu tinggi, jika budidaya gambas dilakukan pada lahan datar atau sawah.
  • Dan jika musim hujan, sebaiknya bedengan dibuat agak tinggi agar air hujan tidak tergenang dan merendam akar tanaman.
  • Jarak antar bedengan adalah 2 – 2,5 meter.
  • Berikan p yo puk dolo it atau kapur pertanian jika pH tanah dibawah 5,5. Dolomit ditaburkan dilakukan 7 – 10 hari sebelum pemberian pupuk dasar, dan biarkan tersiram air hujan terlebih dahulu.

  1. Pemberian Pupuk Dasar Budidaya Gambas

Pada setiap tanah sebenarnya sudah tersedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman, akan tetapi ketersediannya belum tentu mencukupi. Oleh karena itu perlu diberikan pupuk dasar. Pupuk dasar untuk tanaman gambas antara lain pupuk kandang/kompos, TSP, KCL dan ZA atau Urea. Perbandingan dosis pupuk TSP, KCL dan ZA adalah 2 : 1 : 1 (2 TSP : 1 KCL dan 1 ZA). Pupuk dasar ditaburkan merata diatas bedengan, kemudian diaduk hingga rata dengan tanah atau ditutup dengan tanah saja. Biarkan selama 7 – 10 hari dan biarkan tersiram air hujan sebelum pemasangan mulsa. Dosis pupuk dasar untuk tanaman gambas disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.

  1. Persiapan Benih Gambas / Oyong

Benih gambas bisa diperoleh dengan membelinya di toko pertanian atau membuat benih sendiri dari tanaman gambas. Pilih benih gambas dari tanaman yang sudah diketahui kualitasnya atau varietas unggul. Buah gambas/oyong yang ingin dibuat benih lebih baik dibiarkan tua dan kering dipohon. Kemudian jemur biji gambas sampai kering sebelum benih ditanam.

  1. Cara Menanam Gambas / Oyong
  • Tutup bagian bedengan dengan mulsa plastik untuk menghambat gulma dan supaya kelembaban tanah tetap stabil jika musim hujan.
  • Lalu buatlah lubang tanam dengan jarak 70 atau 80 cm. Dalam satu bedengan lubang tanam dibuat satu baris yang dibuat ditengah-tengah bedengan.
  • Sebelum ditanam pastikan sudah menjemur benih terlebih dahulu sampai kering.
  • Tanam satu benih dalam satu lubang tanam.
  • Kemudian ditutup dengan tanah tipis.
  • Lakukan penyiraman pada lahan sampai tanah basah jika tanah dalam kondisi kering.
  • Untuk mengantisipasi dan pencegahan gangguan hama, taburkan nematisida secukupnya disekitar benih.

  1. Pemasangan Lanjaran atau Para – Para Gambas

Penggunaan lanjaran atau para-para adalah sebagai penompang tumbuhnya tanaman gambas. Karena seperti yang kita tahu tanaman gambas tumbuh dengan cara merambat. Saat tumbuh tanaman gambas bisa mencapai 3 sampai 4 meter tingginya. Para-para sebaiknya dipasang segera setelah proses penanaman benih selesai. Bentuk atau model para-para tanaman gambas sama persis dengan para-para untuk tanaman pare.

  1. Pemeliharaan dan Perawatan Tanaman Gambas / Oyong
  • Setelah tanaman berusia satu minggu lakukan pengecekan secara rutin, pada tanaman gambas yang mungkin ada gangguan hama atau gulma yang tumbuh.
  • Pastikan ketersediaan air tanaman gambas cukup. Lakukan penyiraman secara rutin sesuai kebutuhan.
  • Lakukan penyiangan yaitu mencabut gulma atau rumput liar yang bisa menjadi tanaman pesaing bagi tanaman gambas. Lakukan minimal seminggu sekali.

  1. Pemupukan Susulan Tanaman Gambas
  • Pupuk susulan l (usia 10 HST) : Dosisnya 2 kg NPK dilarutkan dengan 250 liter air, kemudian dikocorkan 250 ml setiap tanaman.
  • Pupuk susulan II (usia 17 HST) : Dosisnya 3 kg NPK dilarutkan dengan 300 liter air, kemudian dikocorkan 300 ml setiap tanaman.
  • Pupuk susulan III (usia 24 HST) : Dosisnya 5 kg NPK dilarutkan dengan 500 liter air, kemudian dikocorkan 500 ml setiap tanaman.
  • Pupuk susulan IV (usia 31 HST) : Dosisnya 4 kg TSP + 4 kg KCL dan 2 kg ZA, ditaburkan atau ditugal disekeliling tanaman dengan jarak 30 cm dari pangkal batang.
  • Pupuk susulan V (usia 38 HST) : Dosisnya 9 kg TSP + 8 kg KCL dan 4 kg ZA, ditaburkan merata pada bedengan
  • Pupuk susulan VI dan VII dilakukan pada usia 50 dan 60 HST dengan dosis sama dengan pupuk susulan V.
  • Jika pada usia 75 HST tanaman gambas masih terlihat sehat pemupukan susulan bisa dilanjutkan kembali.

  1. Mengatasi Gangguan Hama dan Penyakit Tanaman Gambas

Setiap tanaman budidaya pasti tidak luput dari gangguan OPT (organisme pengganggu tanaman). Untuk tanaman gambas sendiri ada beberapa jenis hama yang banyak dijumpai seperti hama oteng-oteng, penggorok daun, ulat grayak, ulat tanah, bekicot, jangkrik dan lalat buah.

Untuk proses pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida pada bagian tanaman yang terserang.

Sedangkan jenis penyakit yang sering menyerang tanaman gambas atau oyong adalah bercak daun, layu fusarium, dan antraknosa.

Dan Cara pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan fungisida seperti score, cozeb, dithane atau bion-M.

  1. Pemanenan Gambas atau Oyong

Buah dari tanaman gambas atau oyong bisa dipanen pada saat tanaman berusia 40 – 45 HST (hari setelah tanam). Sebaiknya buah segera dipanen ketika masih muda, yaitu ketika kulit buah masih berwarna hijau segar, kulit tidak mengkilat, kulit buah masih lunak, mudah dipatahkan dan belum berserat. Waktu panen gambas dapat dilakukan setiap 2 hari sekali, dan pada satu musim tanam pemanenan bisa dilakukan hingga 25 – 30 kali tergantung varietas yang digunakan.

Demikian artikel kami tentang “CARA SUKSES BUDIDAYA TANAMAN GAMBAS OYONG AGAR CEPAT BERBUAH LEBAT” semoga bermanfaat.

Tips Budidaya Tanaman Cabai Rawit Dan Cabai Merah Tanpa Menggunakan Mulsa Plastik

Tips Budidaya Tanaman Cabai Rawit Dan Cabai Merah Tanpa Menggunakan Mulsa Plastik

Tips Budidaya Tanaman Cabai Rawit Dan Cabai Merah Tanpa Menggunakan Mulsa Plastik

Pada umumnya banyak petani tanaman cabai rawit dan cabai merah menggunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP) atau yang lebih familiar disebut “mulsa plastik”. Penggunaan mulsa plastik ini bisa melindungi tanaman dari serangan berbagai jenis penyakit, dan serangan hama. Terutama penyakit yang disebabkan oleh jamur. Jenis tanaman yang menggunakan mulsa plastik juga beragam mulai dari jenis tanaman sayuran daun ataupun sayuran buah seperti cabai rawit dan cabai merah. Tetapi tidak sedikit pula yang mengurungkan keinginannya menggunakan mulsa plastik untuk tanaman budidayanya. Dengan beberapa alasan dan pertimbangan tentunya. Salah satunya adalah pertimbangan mengenai biaya produksi tanaman yang akan bertambah jika menggunakan mulsa plastik ini, apalagi jika modal untuk menjalankan budidaya sangat minim.

Tips Budidaya Tanaman Cabai Rawit Dan Cabai Merah Tanpa Menggunakan Mulsa Plastik

Maka tak heran banyak yang beranggapan bahwa mulsa plastik memiliki harga yang tidak murah. Harga standar rata-rata 1 rol mulsa plastik (-/+8 kg) petani harus mengeluarkan modal sebesar Rp. 260.000 – Rp. 280.000. Dalam 1 rol mulsa plastik tersebut bisa untuk menanam bibit cabai sebanyak 750 hingga 800 batang bibit cabai. Artinya jika budidaya cabai dilakukan tanpa menggunakan mulsa plastik petani bisa menghemat biaya sebesar Rp. 260.000 – Rp. 280.000 dalam setiap 750 – 800 batang cabai.

Dan bagi Anda pemula dalam budidaya tanaman cabai maka perlu memperhitungkan dengan baik apakah dana atau modal yang Anda miliki mencukupi kebutuhan mulsa plastik atau tidak. Atau bisa juga mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan menggunakan mulsa plastik untuk tanaman cabai rawit dan cabe merah seperti berikut ini :

  1. Kelemahan budidaya tanaman cabai tanpa menggunakan mulsa plastik :
  • Tanaman cabai akan lebih mudah terserang berbagai jenis penyakit.
  • Tanaman gulma lebih cepat tumbuh sehingga harus lebih sering melakukan penyiangan.
  • Kondisi tanah yang terlalu kering saat musim kemarau.
  • Sebaliknya saat musim hujan, kondisi tanah lebih mudah lembab.
  • Daun dan tanaman muda (baru pindah tanam) kotor oleh tanah karena percikan air hujan
  • Tanaman lebih rentan terhadap serangan jamur dan bakteri, terutama pada musim penghujan.

  1. Kelebihan budidaya tanaman cabai tanpa menggunakan mulsa plastik :
  • Menjaga kondisi tanah agar tetap basah saat musim kemarau
  • Penggunaan bibit lebih efektif
  • Meminimalkan hama jangkrik karena tidak ada tempat untuk bersembunyi
  • Mempermudah proses pemberian pupuk susulan
  • Tanaman cabai menjadi lebih kokoh dan subur karena ada kegiatan pendangiran

Jika Anda sudah mengetahui kekurangan dan kelebihan budidaya tanaman cabai dengan mulsa plastik, maka Anda bisa memutuskan layak atau tidak menggunakan mulsa plastik ini khususnya pada budidaya tanaman cabai Anda. Jika Anda kurang tertarik untuk menggunakan mulsa plastik ini, maka ikuti langkah berikut ini.

Cara Budidaya Tanaman Cabai Tanpa Mulsa Plastik

Sebelumnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya cabai tanpa mulsa plastik, salah satunya tentang pengendalian gulma dan penyakit jamur. Karena seperti penjelasan sebelumnya jika menanam cabai tanpa mulsa plastik akan menyebabkan metode ini gulma lebih cepat tumbuh dan pengendaliannya harus dilakukan lebih sering. Beberapa tips atau cara agar tanaman cabai tetap tumbuh dan berproduksi dengan maksimal meskipun dibudidayakan tanpa menggunakan mulsa plastik :

  1. Saat persiapan lahan kita bisa mencangkul dan membajak lahan yang bertujuan agar tanah bisa lebih gembur.
  2. Buat bedengan dengan lebar 90 – 100 cm, panjang sesuai lahan. Sebaiknya bedengan dibuat tidak terlalu tinggi agar saat melakukan pendangiran lebih mudah.
  3. Untuk lahan yang landai atau miring, tinggi bedengan sebaiknya dibuat tidak lebih dari 10 cm. Jika terlalu tinggi pendangiran akan lebih sulit dilakukan.
  4. Buat parit atau aliran air disiketar lahan terutama saat musim hujan sehingga air bisa mengalir dan tidak mengenang pada area lahan.
  5. Melakukan pengecekan pH atau tingkat keasaman tanah. Kandungan pH ideal untuk tanaman cabai, yaitu antara 6.0 – 7.0. Jika pH rendah bakteri dan jamur lebih mudah berkembang biak, terlebih jika musim hujan.
  6. Semprot atau siram bedengan menggunakan trichoderma dan PGPR 1 minggu sebelum bibit cabai ditanam untuk menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri.
  7. Lakukan proses penyiangan minimal 2 minggu sekali atau saat melihat ada tanaman liar atau gulma yang tumbuh di area lahan untuk budidaya tanaman cabai.
  8. Pemupukan susulan pertama (10 HARI SETELAH TANAM), kedua (17 HARI SETELAH TANAM) dan ketiga (24 HARI SETELAH TANAM) dilakukan dengan cara dikocor. Jenis pupuk dan dosis disesuaikan dengan kondisi tanaman.
  9. Pemupukan susulan keempat yaitu saat tanaman cabai sudah berusia 1 bulan dilakukan dengan cara ditabur melingkar disekeliling batang. Sekaligus dilakukan pendangiran untuk menutup pupuk agar tidak menguap dan menghambat pertumbuhan gulma.
  10. Pemupukan kelima dilakukan ketika tanaman cabai berusia 60 HARI SETELAH TANAM, dosis sedikit lebih banyak dari dosis pemupukan susulan keempat. Pupuk ditaburkan merata disekeliling batang ketika tanah dalam kondisi basah atau setelah hujan turun. Lakukan lagi pendangiran, namun tipis saja sekedar menutup pupuk agar tidak menguap atau hanyut bersama air hujan.
  11. Selanjutnya Pemupukan susulan keenam yang dilakukan pada saat tanaman cabai masuk usia 90 HARI SETELAH TANAM, dosis bisa disamakan dengan pemupukan susulan kelima. Cara pemberiannya juga sama, pada saat ini kembali dilakukan pendangiran. Sebelum melakukan pemupukan dan pendangiran sebaiknya dilakukan pembersihan gulma terlebih dahulu.
  12. Setelah sebulan dari pemupukan ke enam, bisa dilakukan pemupukan kembali. Tetapi, perhatikan kondisi tanaman cabai jika masih sehat dan memungkinkan untuk berbuah kembali. Namun jika tidak memungkinkan, pemupukan sebaiknya dihentikan.
  13. Lakukan penyiraman rutin terutama saat menanam tanaman cabai saat musim kemarau. Sebab kondisi tanah jadi cepat kering. Penyiraman bisa dilakukan setiap 2 hari sekali atau disesuaikan dengan kebutuhan
  14. Penyemprotan fungisida bisa dilakukan untuk mencegah berbagai penyakit jamur dan bakteri, terutama jika budidaya dilakukan pada musim penghujan. Penyemprotan bisa dilakukan sebelum tanaman terserang.

Itulah cara yang bisa dilakukan untuk budidaya menanam tanaman cabai tanpa mulsa plastik yang bisa Anda lakukan. Sebagai informasi tambahan kami akan membahas apa yang dimaksud dengan proses pendagringan dan manfaatnya seperti berikut ini.

Pendagringan adalah proses menimbunkan tanah disekitar area perakaran tanaman dengan tujuan menghambat pertumbuhan gulma. Pendangiran juga sering disebut pembumbunan memiliki beberapa manfaat. Adapun beragam manfaat tersebut antara lain ;

  • Menutup pupuk yang ditaburkan agar tidak mudah menguap
  • Membuat tanaman jadi lebih kokoh dan tidak mudah roboh.
  • Tanaman cabai lebih rimbun dan lebih subur karena tanah yang menutupi pangkal batang akan merangsang pertumbuhan akar baru dan akan lebih banyak menyerap nutrisi atau unsur hara yang ada didalam tanah.

Demikian artikel kami tentang “ TIPS BUDIDAYA TANAMAN CABAI RAWIT DAN CABAI MERAH TANPA MENGGUNAKAN MULSA PLASTIK ”. Semoga bermanfaat.

Cara Sukses Menanam Jagung Dan Cabai Rawit Dengan Sistem Tumpangsari

Cara Sukses Menanam Jagung Dan Cabai Rawit Dengan Sistem Tumpangsari

Cara Sukses Menanam Jagung Dan Cabai Rawit Dengan Sistem Tumpangsari

Meningkatnya pertumbuhan populasi di Indonesia membuat lahan untuk bertani semakin berkurang karena banyaknya perubahan fungsi lahan, dari lahan pertanian menjadi permukiman penduduk. Sehingga memaksa para pelaku pertanian untuk mengembangkan inovasi agar penghasilan dalam bercocok tanam tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup.

Cara Sukses Menanam Jagung Dan Cabai Rawit Dengan Sistem Tumpangsari

budidaya dengan teknik campuran atau tumpang sari. Teknik menanam dengan pola tumpang sari sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pertanian di Indonesia, sejak jaman dahulu kakek-nenek kita sudah menerapkan pola ini. Tapi seiring dengan perkembangan jaman pola tanam tumpang sari mulai ditinggalkan, tapi sekarang ini mengingat ketersediaan lahan pertanian yang semakin hari terus menyempit pola tanam campuran ini kembali digemari. Maka tak heran banyak yang menerapkan sistem tanam campuran atau tumpangsari. Yang dimana menganut sistem menanam satu tanaman dengan tanaman yang lainnya dengan jenis yang berbeda. Dan salah satu contoh budidaya campuran atau tumpang sari ini adalah budidaya jagung dan cabai rawit.

Kedua tanaman ini sama-sama penting dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Sehingga bercocok tanam dengan jagung dan cabai rawit bisa sangat menguntungkan. Dan bagi Anda yang ingin mencoba sistem ini maka ikutilah langkah-langkah dan cara budidaya tumpangsari jagung dan cabai rawit seperti berikut ini :

  1. Persiapan Lahan untuk Budidaya Jagung dan Cabai dengan sistem Tumpangsari

Pada dasarnya cara untuk mempersiapkan lahan pada sistem tumpangsari tidak jauh berbeda dengan budidaya sistem biasa. Yaitu diawali dengan Pembersih an lahan dengan cara mencabut gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembajakan atau pencangkulan yang bertujuan agar tanam pada lahan lebih gembur. Selanjutnya adalah pembuatan bedengan, bedengan dibuat dengan lebar 80m – 90 cm, tinggi bedengan kira-kira saja asalkan tidak tergenang air, panjang bedengan disesuaikan dengan lahan. Bedengan yang dibuat sebaiknya tidak terlalu tinggi agar mudah melakukan pendangiran. Lalu lakukan pengecekan pH tanah, jika pH kurang dari atau dibawah 5,5 maka bisa menambahkan kapur pertanian (dolomit) dengan cara ditaburkan pada lahan sesuai kebutuhan. Biarkan selama beberapa hari agar tersiram air hujan.

  1. Pemberian Pupuk Dasar untuk Budidaya Jagung dan Cabai dengan sistem Tumpangsari

Pemberian pupuk dasar memiliki tujuan agar dapat menambah unsur hara dalam tanah. Unsur hara sendiri sangat penting terutama bagi proses pertumbuhan pada tanaman. Sehingga proses pemberian pupuk dasar ini tidak boleh dilewatkan. Pupuk dasar yang digunakan berupa pupuk kandang atau kompos, bisa juga ditambah dengan pupuk TSP, ZA dan KCL dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Pupuk ditaburkan merata diatas bedengan kemudian diaduk hingga tercampur rata dengan tanah. Dosis pupuk kandang dan pupuk kimia disesuaikan dengan kebutuhan. Biarkan selama kurang lebih 7 hari sebelum penanaman.

  1. Cara Penanaman Jagung

Untuk proses penanaman sebaiknya menggunakan tanaman jagung terlebih dahulu. Atur jarak antar tanaman 30 cm dan jarak antar baris dalam bedengan 50 cm. Dalam satu lubang hanya digunakan untuk satu benih saja. Sebelum ditanam benih jagung bisa juga dicampur dengan fungisida dan insektisida, dengan tujuan untuk mencegah penyakit jamur dan gangguan hama. Jagung manis bisa dipanen saat sudah memasuki usia 60 – 65 hari setelah tanam tergantung varietas dan lokasi penanaman. Untuk di daerah dataran rendah jagung manis lebih cepat panen daripada di dataran tinggi. Sedangkan jagung kering bisa dipanen ketika sudah berusia 85 – 95 hari setelah tanam.

  1. Waktu Penyemaian Benih Cabai Rawit

Sebelum di tanam ada lebih baiknya benih cabai rawit di semai terlebih dahulu selama 10 hari sebelum penanaman jagung. Atau bisa juga bersamaan saat awal penanaman jagung. Benih cabai rawit sebaiknya disemai menggunakan polybag atau try semai agar tidak stres saat pindah tanam. Benih cabai bisa diperoleh dengan membelinya di toko pertanian atau dengan membuat benih sendiri.  Bibit cabai rawit bisa dipindah tanam pada umur 30 hari setelah semai.

  1. Penanaman Bibit Cabai Rawit

Saat usia jagung sudah berumur 20 sampai 30 hari setelah masa tanaman ya maka proses pemindahan tanaman cabai rawit bisa dilakukan saat bibit cabai rawit yang disemai berusia 1 bulan. Bibit cabai rawit dapat ditanam diantara tanaman jagung dengan mengikuti barisan tanaman jagung diatas bedengan. Bibit cabai ditanam dengan menggunakan jarak tanam 60 x 60 cm atau 70 x 60 cm. Ketika jagung manis sudah siap dipanen biasanya tanaman cabai sudah berumur 35 – 40 hari setelah tanam. Pada saat itu tanaman cabai rawit sudah mulai berbuah dan jagung pun sudah siap untuk dipanen sehingga kedua tanaman tidak saling mengganggu. Jika jagung dipanen kering usia panen lebih lama, tetapi tanaman cabai tidak akan terganggu sebab daun-daun jagung sudah mulai mengering dan dipangkas untuk mempercepat pengeringan tongkol.

  1. Pemeliharaan dan Perawatan untuk Budidaya Jagung dan Cabai dengan sistem Tumpangsari

Pemeliharaan dan perawatan tanaman polykultur seperti sistem tumpangsari ini tidak jauh berbeda dengan sistem monokultur (tanaman tunggal) , yaitu meliputi kegiatan penyiangan, pemupukan, pendangiran dan penyiraman.

  • Penyiangan dilakukan segera jika terlihat rumput liar atau gulma mulai tumbuh. Penyiangan hendaknya dilakukan secara manual dan hindari penggunaan herbisida. Herbisida bisa mengganggu pertumbuhan tanaman dan merusak tanah jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang lama.
  • Pemupukan yang diterapkan adalah pemupukan susulan yang bisa diberikan setelah penyiangan dan setelah itu segera dilakukan pendangiran. Dosis dan jenis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
  • Jika tidak turun hujan penyiraman juga harus dilakukan agar tanaman jagung dan cabai rawit bisa tumbuh dengan maksimal.

  1. Keuntungan Budidaya Tumpang sari Jagung dan Cabai Rawit

Adapun beberapa keuntungan budidaya jagung dan cabai rawit dengan sistem tumpangsari antara lain seperti berikut ;

  • Bisa lebih efisien waktu dan tenaga baik dari proses pengolahan sampai perawatannya hingga 50%. Pengolahan lahan yang dilakukan hanya satu kali bisa langsung digunakan untuk 2 tanaman sekaligus.
  • Lebih efisien dalam penggunaan pupuk dasar hingga 50 %, yang hanya diberikan satu kali pada saat menanam jagung, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh tanaman kedua yaitu cabai rawit.
  • Menghemat penggunaan air untuk penyiraman hingga 50%, hanya diperlukan satu kali penyiraman pada 2 tanaman sekaligus.
  • Memanfaatkan penggunaan lahan secara maksimal untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
  • Bisa memperoleh hasil produksi yang lebih banyak dari 2 jenis tanaman yang berbeda. Sehingga keuntungan dalam budidaya tanaman bisa lebih banyak dibandingkan hanya mengandalkan sistem tanam tunggal atau monokultur.
  • Bisa mengenakan atauan meminimalkan serangan hama kutu kebul pada tanaman cabai rawit ataupun tanaman jagung.

Demikian artikel kami tentang  “CARA SUKSES MENANAM JAGUNG DAN CABAI RAWIT DENGAN SISTEM TUMPANGSARI ” Semoga bermanfaat.